IBeNimages & Words

My daily crumbs of interests

Madinah, Kota yang Bercahaya

Saat saya menulis ini, saya sedang dalam perjalanan menuju Mekkah Al Mukarommah, destinasi terakhir dalam prosesi umroh yang sedang saya jalani.

Sebelumnya selama tiga malam, kami sekeluarga menginap di Madinah, sekitar 500 km dari Mekkah, kota yang menjadi basis Nabi Muhammad SAW melakukan syiar agama Islam. Sebelumnya Rasulullah memulai ajaran Islamnya di kota Mekkah, namun karena kerasnya tentangan dari penduduk kota Mekkah, dan bagian dari strategi Nabi untuk lebih membesarkan Islam, Nabi Muhammad ‘hijrah’ ke Madinah.

Terbukti strategi ini berhasil, karena setelah hijrah ke Madinah, agama Islam berhasil meraih penganut secara jauh lebih pesat dibandingkan dengan saat Nabi masih bermukim di Mekkah. Disinilah kemudian Nabi mendirikan masjid pertamanya, yakni Masjid Quba, dan membesarkan masjid Nabawi, yang hingga kini terkenal akan keindahan dan keagungannya. Rasulullah sendiri akhirnya wafat dan dimakamkan di Madinah, yang mana kini makamnya menjadi bagian dari Masjid Nabawi.

Sejujurnya terbersit rasa sedih dalam hati meninggalkan Madinah. Menginap di hotel Hilton Madinah yang terletak persis di belakang Masjid Nabawi, memanjakan kami sekeluarga untuk “berwisata rohani”. Bayangkan hanya butuh 1-2 menit untuk melangkahkan kaki untuk sholat di masjid yang agung ini. Dan saat telah di dalam masjid, kami pun dimanjakan oleh kondisi masjid yang istimewa. Jujur, belum pernah sebelumnya saya memasuki masjid yang secantik dan seagung Masjid Nabawi. Dan bukan hanya kecantikan interiornya, namun fasilitas yang diberikan oleh Pemerintah Saudi Arabia dalam menjamin ibadah para muslimin benar-benar layak diacungi jempol.

Madinah saat ini sedang panas-panasnya. Pada siang hari, suhu dapat mencapai 45 derajat celcius. Beruntung lokasi hotel kami hanya sekitar 300 meter dari masjid, jadi kami hanya sempat merasakan terik matahari paling lama 3 menit. Sebelum masuk ke dalam gerbang masjid pun, kita sudah dapat merasakan hawa segar pendingin udara yang sungguh bagaikan oase di musim ini. Tercatat sebanyak 232 buah pilar di dalam masjid ini dilengkapi dengan pendingin udara yang menghembuskan udara sejuk 18 derajat celcius, menjamin kenyamanan bagi siapapun yang sedang beribadah di dalamnya.

20120627-181159.jpg

Bukan hanya udara yang sejuk, pengurus masjid juga memberikan fasilitas yang nyaman: karpet merah terhampar di hampir seluruh bagian masjid bermotifkan ornamen khas Saudi Arabia (lihat gambar), dan terbuat dari bahan permadani kelas satu. Tak jarang kami tergoda untuk merebahkan diri di karpet ini di sela-sela ibadah sholat. Udara sejuk + karpet empuk : resep mujarab untuk memanjakan rasa kantuk!

Urusan detail pun dipikirkan. Sudah menjadi rahasia umum kalau di Indonesia, ada humor sentilan: ‘kenapa di masjid tidak ada organ seperti di gereja? Karena sendal saja hilang, apalagi organ!’. Menunjukkan betapa seringnya orang kehilangan sandal saat beribadah. Di Masjid Nabawi, Insya Allah hal ini tidak akan terjadi. Pengurus masjid sudah menyediakan tempat-tempat sandal yang terletak di hampir seluruh ‘shaf’ (baris) masjid (lihat gambar). Sehingga Anda tidak harus ‘berjauhan’ dari sendal Anda apabila akan sholat.

20120627-183050.jpg

Hal lain lagi adalah ketersediaan Al-Quran di segala penjuru Masjid. Apabila Anda berniat ber-itikaf di Masjid, atau sekedar mengisi waktu luang di antara waktu shalat dengan membaca ayat suci Al-Quran, ribuan kitab Al-Quran ditempatkan di dalam rak-rak yang dibangun khusus dan terletak di setiap pilar Masjid. Anda tinggal ambil dan gunakan Al-Quran tersebut. Tapi tentu saja jangan lupa untuk mengembalikannya untuk muslim lain yang akan menggunakan.

20120627-183018.jpg

Kemudian, para pengunjung masjid juga dimanjakan dengan ratusan drum berisi air zam-zam yang diimpor langsung dari sumbernya di suatu mata air abadi di kota Mekkah. Air zam-zam yang dipercaya kaum muslim bekhasiat ini disediakan dalam jumlah yang berlimpah. Pengunjung dapat dengan mudah mengucurkan air zam-zam yang sejuk ke dalam gelas plastik yang disediakan, atau untuk mengisi ke dalam botol air seperti yang sering kami lakukan (lihat gambar, Rafif, anak saya, sedang mengisi botol minumnya). Karena ketersediaannya yang melimpah, pengunjung tidak perlu khawatir, sangat jarang kami menemukan keadaan di mana kami harus antri untuk mengambil air minum ini. Manajemen ‘supply’ dari air zam-zam ini pun patut dipuji. Para petugas dengan sigap mengganti drum-drum yang sudah mulai habis dengan air zam-zam yang baru. Tak pernah kami dapati drum yang kosong tidak ada air. Begitu pula dengan gelas plastik yang disediakan cuma-cuma. Pengunjung dapat mengambil gelas plastik yang tertumpuk pada sisi sebelah kanan drum air, dan meletakkan gelas yang telah terpakai pada selongsong di sebelah kiri. Sekali lagi, tak pernah saya dapati satu drum air zam-zam pun yang kehabisan gelas plastik. Subhanallah, Alhamdulillah.

Salah satu lagi keistimewaan Masjid Nabawi adalah tempat yang disebut sebagai ‘Raudah’. Raudah ini merupakan lokasi sholat yang dipercaya membuat doa seseorang menjadi makbul (terkabul). Tempat yang memiliki luas sekitar 144 meter persegi ini terletak di antara makam Rasulullah dan mimbar Masjid Nabawi. Saat ini Raudah ditandai dengan pilar-pilar berwarna putih, dan permadani yang berwarna abu-abu (unik, karena permadani di bagian lain masjid umumnya berwarna merah). Keistimewaan Raudah ini sendiri disebutkan dalam hadits Rasulullah bahwa “di antara rumahku (makam Nabi) dan mimbarku adalah sebagai taman surga”.

20120627-183713.jpg

Raudah kini menjadi rebutan bagi para muslimin yang ingin memanjatkan doa memohon kepada Allah SWT. Tak jarang para pengunjung berebut, berdesak-desakan untuk mengantri sholat di Raudah ini. Kalau pengunjung ingin untuk sholat subuh di Raudah ini, minimal pengunjung harus sudah siap sedia di sekitar Raudah sebelum jam 3 pagi. Alhamdulillah, kami sendiri, sempat merasakan bermunajat di Raudah, kendati melakukannya pada saat dhuha (antara pagi dan siang hari). Waktu-waktu antara jam 8-10 ini lah menurut pengalaman kami, waktu dimana ‘perjuangan merebutkan dan mengantri’ tempat di Raudah paling ‘mudah’. Insya Allah dengan niat yang kuat, setiap pengunjung pasti dapat kesempatan sholat di tempat yang dipercaya merupakan bagian dari ‘taman surgawi’ ini.

Kendati Masjid Nabawi merupakan tujuan utama sebagian besar muslim yang mengunjungi Madinah, kota Madinah juga merupakan kota dengan kultur dan penduduk yang menyenangkan. Konon, berbeda dengan penduduk kota Mekkah, penduduk kota Madinah lebih ramah dan bersahabat kepada pendatang. Dan karena hal ini, kota Madinah lebih disukai pendatang dalam wisata belanja dibanding Mekkah.

20120627-183745.jpg

Dan mungkin memang hal itu benar adanya (saya tidak tahu karena belum pernah ke Mekkah pada saat menulis tulisan ini). Kami tidak banyak meluangkan waktu untuk berbelanja di Madinah, tapi pada waktu singkat kami berbelanja buah tangan untuk sanak saudara di Indonesia, kami merasakan keramahan penduduk Madinah yang benar-benar membuat nyaman. Barang yang ditawarkan beranekaragam dan harganya pun menurut hemat kami, relatif murah dibandingkan dengan harga di Indonesia. Tak heran kalau sebagian besar pemilik dan penjaga toko di Madinah umumnya cukup fasih berbahasa Indonesia, karena mungkin pengunjung dari Indonesia termasuk pengunjung yang ‘royal’ membelanjakan uangnya di toko mereka. Hal ini lagi-lagi memberikan rasa ‘nyaman’ kita berbelanja di Madinah.

Oleh karenanya, sungguh sepadan jika pada jaman Rasulullah Madinah dijuluki sebagai “kota yang bercahaya”. Dari keagungan Masjid Nabawi, sampai ke keramahan penduduknya, benar-benar memberikan cahaya terang bagi wisatawan rohani seperti kami untuk menikmati waktu kami di Madinah. Dengan berat hati kami meninggalkan Madinah hari ini, tapi kami tahu kami meninggalkan kota Rasulullah untuk perkara yang lebih besar: memenuhi panggilan Allah di Mekkah Mukarommah. Labbaik Allahuma Labbaik.. Labbaik Syarikala kala Labbaik…

On the way to Mekkah, 27 Juni 2012

20120627-183834.jpg

2 Comments»

  Dedi Nurfalaq wrote @

I like the story and the picture both. Thanks IbeN.

  ibenimages wrote @

Glad you like it Dedi! Thanks!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,252 other followers