IBeNimages & Words

My daily crumbs of interests

Archive for Movie

With Great Power, Comes Great Irresponsibility

Yang sudah pernah menyaksikan film “Spider-Man 2″ pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat petuah yang menjadi judul di atas, kendati saya “pelesetkan” sedikit.

Petuah  yang diberikan oleh Paman Peter Parker (a.k.a Spider-man) ini mengiang-ngiang di kepala sang jagoan saat ia sedang mempertimbangkan untuk pensiun dini dari dunia superhero. Dan dari petuah inilah, Peter Parker berkeputusan untuk tetap mengemban tanggung jawab (responsibility) yang besar, karena ia telah dikaruniai suatu kekuatan (power) yang luar biasa pula.

Spiderman_smallKenapa saya mempelesetkan petuah Paman Peter Parker ini? Soalnya saya melihat kenyataan di Indonesia justru kebalikannya. Orang-orang yang punya “great power” malah tinggi tingkat “irresponsibility“nya. Baca saja koran setiap hari. Pasti ada berita korupsi mutakhir yang dilakukan oleh para birokrat, pebisnis, sampai yang terakhir ini (denger-denger sih) Mahkamah Agung. Masya Allah! Juragannya hukum aja melibas hukumnya sendiri, lah gimana kita-kita ini? Insya Allah sih malah lebih baik ya? Contohnya saya sendiri, enggak jelek-jelek amat tuh. Korupsi kecil-kecilan sih pernah, contohnya ini: Korupsi waktu dan infrastruktur kantor untuk nge-blog di saat jiwa procrastinate yang dominan.. (hehehe)

Saya posting tulisan ini karena saya kok tambah sebel sama realita keroposnya etika bisnis dan bekerja di Indonesia. Masalahnya banyak yang tidak bisa dibuktikan. KPK tidak punya perangkat yang cukup untuk. Dan seperti kata pepatah, “maling lebih lihai”. Jadi banyak kasus yang tidak terdeteksi, di “peti es” kan, atau maksimal cuman jadi omongan mulut ke mulut. Yah enggak usah jauh-jauh deh, saya coba cerita beberapa kasus yang saya alami, atau minimal saya dengar langsung dari orang yang  mengalami (identitas sengaja dirahasiakan, karena jelek-jelek gini, saya masih punya kode etik jurnalistik.. hehehe):

  • Pemilik dan CEO perusahaan yang kebetulan menjadi klien saya mengeluhkan soal “biaya tambahan” dari aparat pelabuhan Indonesia. Konon, kalau enggak ada uang upeti, kapal yang membawa barang-barang klien saya ini akan dapat nomor buntut untuk ditarik kapal tongkang sang aparat. Kapal bisa ngendon berhari-hari sampai berminggu-minggu di perairan kalau enggak ada “pelancar”.
  • Seorang manajer divisi keuangan klien saya menceritakan kalau barusan perusahaannya mendapat “kasus” dengan aparat Bea Cukai Jakarta. Perusahaan klien saya ini sedang dalam proses mengimpor suatu peralatan telekomunikasi dari Jerman. Dalam prosesnya, ada kekuranglengkapan dokumen import yang seharusnya sih bukan masalah besar, karena hanya masalah keterlambatan. Hanya saja pihak Bea Cukai mengancam memperbesar masalah ini dengan exposure sampai puluhan milyar rupiah dan proses yang tidak sebentar. Akhirnya jalan keluarnya adalah aparat Bea Cukai yang mempermasalahkan dikirim ke Jerman beserta keluarganya untuk “memastikan kelengkapan dokumen”. Kata sang manajer, “ya mending saya ngongkosi 2 milyar buat mereka jalan-jalan sak-keluarga, ketimbang perusahaan musti dirugikan dengan proses yang lama, dan exposure yang lebih besar lagi!” Realita bisnis di Indonesia.
  • Di kantor konsultan pajak tempat rekan saya bekerja, sudah bukan rahasia lagi kalau kantornya menjadi “bank berjalan” buat beberapa aparat pajak yang menangani kasus klien kantornya. Pada suatu Jumat pagi, sang aparat bisa dengan enteng meminta untuk diuruskan tiket pesawat, hotel plus satu ronde main golf di Nirwana untuk weekend esok harinya. Pernah juga kantornya “dimintai tolong” untuk membelikan notebook untuk anak sang aparat yang konon hendak masuk ke perguruan tinggi. Ujar rekanku, “Lho, opo iki kantore mbahe?”. Tapi dia melakukan dengan terpaksa, kalau tidak urusan kliennya bisa-bisa enggak bakal menang atau selesai di pengadilan pajak. Hebat ya?

Dan masih banyak lagi… Saya yakin rekan-rekan juga pernah punya pengalaman atau dengar informasi yang terpercaya mengenai kultur bangsa yang suka bergotong-royong (dalam korupsi) ini. Dengan kondisi iklim yang seperti ini, tidak mengherankan kalau Indonesia belum bisa lepas dari keterpurukan. Kurs Rupiah melambung, modal asing tidak mau masuk, malah repatriasi modal yang terjadi. Contohnya, klien saya berurusan dengan aparat pelabuhan di atas, lebih memilih untuk melakukan investasi pabrik baru di Cina. Jangan buru-buru cap pengusaha kita tidak nasionalis, tapi mari kita semua berkaca. Apakah proses pengurusan ijin usaha kita bebas pungli? Apakah kita bisa mendapatkan kepastian hukum kontrak yang kita buat? Apakah buruh kita (yang notabene rendah produktivitasnya) bebas dari upaya provokasi untuk berdemo? Akhirnya bisa-bisa kita semua berucap lantang: “With no power, we have no responsibility”. Alias: pengangguran! Astaghfirullah!

Tied Trilogy: Mahabharata, Star Wars and Lord of the Rings

Tied Trilogy: Mahabharata, Star Wars and Lord of the Rings

Is it only me, or you also notify that there are striking ties in Mahabharata, Star Wars and Lord of the Rings (LOTR)? I noticed it ever since before, but last night’s re-run of “Lord of the Rings: The Return of the King” in HBO made me more convinced that either Peter Jackson (Director of LOTR) was big fan of Star Wars, or both him and George Lucas were influenced by Mahabharata.

Well, probably the ties were only coincident, because it may only because I dig into those trilogies too much that make me have this line of thinking. I grew up reading R.A. Kosasih’s Mahabharata comics, and have been fan of Star Wars since 10 years old. I was late in adoring LOTR, but now always watch the three series every time HBO re-runs it without feeling bored.

Anyway, let’s cut to the chase. Some interesting ties between them:

  1. All have similar big plot. It started with a group of “heroes” who was in control of a kingdom/country. These heroes then would be ousted by their “foes”, and at the end of trilogy, these heroes will then resume their position. In Mahabharata, it is Pandawa who finally defeated Kurawa to regain their supremacy in Astina. In Star Wars, it is the “Jedi” who were sidelined by “Imperial Forces”, but then finally took command of the “Republic”/ And finally, LOTR has “Aragorn”, the king of “Man”, who finally re-crowned as the “King” after defeated Sauron in the Battle of Middle Earth.
  2. All have colossal “Big Wars” that involve clone-alike soldiers. Mahabharata and its Bharatayudha, with the clone-soldiers of “Kurawa”. Star Wars in “Clone Wars” with Storm Troopers, and LOTR with Saruman’s Orcs in “Battle of Middle Earth”
  3. The “hero” has his “spiritual teacher” on his side. Remember Luke Skywalker scene of “Jedi Training” with Yoda in “Return of the Jedi”? Don’t you feel the similarities of that scene with “spiritual moment” Arjuna had with Kresna in “Bhagawadgita”? In a not-so-similar scene, Aragon and Frodo in LOTR also have Gandalf as their spiritual teacher.
  4. It may not involve Mahabharata. But the actor who played as “Saruman” in LOTR, is actually who played as “Count Dukou” in Star Wars: Phantom Menace. More interestingly, both Saruman and Count Dukou initiated the make of clone soldiers!

There are some more, I reckon. Let me try to remember those first. Anyway, you are free to put your comments as well if you find any! May the force be with you!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.