Cerita Pinggir Jalan dari Penjaja Starling

Pak Umuh dengan sepeda “Starling” nya

Namanya Pak Umuh. Bagi yang sering gowesan di sekitar jalur dalam kota, sosok seperti Pak Umuh ini tidak lah asing. Mereka sering kita temukan beredar di jalan-jalan protokol, menjajakan minuman sachet siap seduh.

Di Jakarta, profesi ini sering disebut “Starling”, singkatan dari “Starbucks Keliling”. Karena mereka memang menjajakan kopi dan minuman lain dengan berkeliling menggunakan sepedanya.

Pak Umuh biasa mangkal di sekitar Jalan Sumenep. Lokasi di mana para goweser yang menyusuri rute favorit Tarkam 15K biasanya lewat setelah menyelesaikan 1 loop.

Berawal dari kebiasaan saya membeli minuman darinya, sedikit-sedikit saya jadi tahu seluk beluk, dan suka duka yang dialami Pak Umuh.

Pertama, sepeda Starling ini bukan milik Pak Umuh. Dia menyewa dari pengepul di daerah Menteng Dalam. Sewanya 10.000 per hari. Sudah lengkap dengan rak dan thermos penyimpan air panas ataupun es batu.

Untuk berjualan minuman, Pak Umuh juga diwajibkan untuk membeli sachet minuman hanya dari pengepul ini. Nggak boleh dari yang lain. Biasanya Pak Umuh membeli 200.000 rupiah untuk dagangan tiga hari. Dagangan paling laris adalah Kopi Kapal Api dan Nutrisari. Dijual rata-rata Rp 5.000 per gelas.

Pak Umuh menyiapkan minuman dagangannya

Saat pertama kali kenal, saya bertanya ke Pak Umuh, “wah sekarang laris dong ya pak, rame banyak yang gowes?”

Mengharapkan mendapatkan jawaban konfirmasi dari Pak Umuh, alih-alih saya malah trenyuh.

“Enggak Pak. Sekarang sepi sejak pandemi”, begitu ujarnya lirih.

“Loh bukannya rame yang pada gowes?”

“Yang banyak beli security Pak. Satpam. Sekarang sudah jauh berkurang..”

Dang! Saya terkesiap. Jawaban yang saya tak sangka.

Begitulah kalau kita melihat dari sudut pandang kita sendiri. We’re the center of universe. Karena yang kita perhatikan hanya teman-teman “sekelompok” kita gowes. Yang semakin lama semakin ramai. Luput dari perhatian kita kalau pelanggan utama Pak Umuh ini sudah banyak yang terpinggirkan. Kantor, restoran, ruang usaha banyak yang tutup. Proyek konstruksi macet. Siapa yang butuh Satpam?

Semakin sedih mendengar kisah Pak Umuh selanjutnya..

“Lagian Pak sekarang saya nggak berani keliling malam. Sudah sepi, banyak yang malakin.”

Duh. Beratnya hidup Pak Umuh.

Sekedar info, setiap hari on a good day, Pak Umuh bisa bawa pulang hanya 50.000 rupiah bersih. Kalau ramai bisa 70.000-100.000. Tapi ini jarang sekali. Kadang malah sering nombok. Apalagi kalau kena palak. Sedih kan?

Jadilah saya kemudian menjadi pelanggan tetap Pak Umuh. Setiap saya menyelesaikan Tarkam 15K loop, saya selalu celingak celinguk mencari Pak Umuh. Kalau pas ketemu, saya pasti menyempatkan diri membeli dagangannya. Dan pasti membayar lebih. 2-3 kali dari harga normal. Tak apa. Kalau kita rela mengeluarkan uang lebih dari Rp 30.000 untuk segelas kopi di kafe, kenapa tidak membayar lebih ke Pak Umuh? Sedikit banyak akan membantu beban hidupnya yang berat di kala pandemi.

Dan pastinya banyak Pak Umuh-Pak Umuh lain di lintasan gowes teman-teman. Jadi buat teman-teman goweser, lets support Starling!

Saya dan Pak Umuh di Jalan Sumenep

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s