Yes Sir, Sir Loin!

Saat Waitress menunjukkan jenis daging yang bisa kita pilih

Akhir pekan kemarin saya berkesempatan mencoba salah satu steakhouse di Jakarta Selatan. Namanya Sir Loin. Berlokasi di Jalan Bumi, dekat Mayestik.

Sebelum PPKM di bulan Juni lalu, saya sebetulnya pernah sempat mau mencoba restoran ini. Karena hasil baca di internet, di mana restoran ini masuk ke dalam salah satu daftar steakhouse yang recommended di Jakarta.

Tapi saat itu saya kurang beruntung. Karena belum reserved, saat go-show kami ditolak masuk. Tempat penuh dengan reservasi. Wow, luar biasa. Hal ini tambah membuat saya dan istri saya, Elok, penasaran untuk mencobanya.

Sayang kemudian naiknya kasus COVID-19 membuat kami harus mengurungkan niat. PPKM ditegakkan, restoran ditutup fasilitas dine-in nya.

Baru weekend kemarin kita berhasil mencoba. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sesaat setelah restoran buka jam 11 siang, saya langsung menghubungi bagian reservasi. Yes, masih ada tempat! Bergegas kita ke sana.

Ternyata efek PPKM masih melanda restoran ini. Saat kami datang, kami adalah tamu satu-satunya di Sir Loin. Beda kontras dengan pengalaman beberapa bulan sebelumnya.

Tak apalah. Malah senang. Karena restoran sepi, lebih merasa aman. Karena Sir Loin bukanlah restoran besar. Mungkin kapasitas penuhnya hanya sekitar 30-40 orang. Interiornya berkesan industrial. Modern dan minimalis, tidak menunjukkan kesan mewah. Tapi bersih.

Penampakan interior restoran Sir Loin

Kami kemudian men-scan menu, dan bertanya pada waitress apa specialty dari restoran ini.Tentu saja “steak”. Tapi steak yang bagaimana?

Waitress kemudian datang dengan berisi beragam jenis steak dalam satu jenis nampang. Mulai dari Bistecca, Rib Eye, Tenderloin sampai Sirloin. Ada juga Porterhouse, tapi tentu tidak cukup pada nampang yang dibawanya. Daging yang dibawa terdiri berbagai tingkat kualitas. Non Wagyu sampai Wagyu. Wagyu pun ditunjukkan dengan berbagai tingkatan marbles. Harganya dari mulai Rp 350 ribu sampai bisa jutaan. Tergantung jenis daging dan beratnya. Saya mulai terkesan. Nah ini sepertinya steakhouse yang cukup serius.

Kalau membeli paket daging yang dibawa dalam nampan tersebut, kita akan mendapatkan gratis 1 buah pilihan sauce dan 1 buah pilihan side dish. Juga es krim di akhir hidangan sebagai dessert.

Pop Corn sebagai appetizer

Akhirnya saya dan Elok memilih Bistecca. Sejenis T-Bone steak dengan berat 500 gram. Dengan tingkat kematangan medium. Bersama dengan pilihan saus blue cheese dan shoestring fries sebagai side dish.

Sambil menunggu steak datang, kami disajikan pop corn sebagai appetizer. Good gesture. Walaupun kalau ada, saya lebih memilih roti dengan mentega. Sayangnya tidak.

Tak lama kemudian, datang lah pesanan kita. Steak Bistecca kami sudah dipotong-potong ke dalam bit size, dan saat disajikan kemudian disiram dengan mentega cair. Asap mengepul karena steak masih panas dari nampan penggorengan.

Waitress menuangkan mentega panas ke Bistecca yang kita pesan. Yum!
Bistecca 500 gram. Medium. Butter seared.

Saya coba gigitan pertama. Hmm… empuk, juicy and tasty! Yes sir! Sepertinya tidak salah pilih kita.

Elok yang mendapatkan kesempatan kedua juga meng-amin-kan pendapat saya. “Mirip dengan Ruth’s Chris”, ujarnya.

Ya, memang dari sisi empuk dan rasa yang menyerap ke dalam daging, sajian steak kami hari ini mengingatkan kami pada restoran steak yang (saat ini) kami anggap paling enak di Jakarta: Ruth’s Chris. Beda jauh dengan salah satu steakhouse terkenal di kawasan SCBD, yang jujur kami berdua kecewa dengan rasanya. Dengan harga yang mungkin 30%-50% lebih murah daripada Ruth’s Chris dan steakhouse terkenal tersebut.

Pilihan Bistecca 500 gram juga terasa pas porsinya untuk kami berdua. Saya cukup kenyang dan puas dengan hidangannya. Apalagi saat menikmati steak dengan blue cheese sauce-nya. Memang kalau kebanyakan akan terasa eneg. Tapi sebagai penambah rasa steak, ini pilihan yang tepat. Walau akibatnya side dish kentang kita jadi tidak habis termakan.

Di penghujung hidangan, saya simpan dua potongan daging penuh lemak sebagai akhir gigitan. Sambil menggigit saya ingat-ingat rasanya. Enak sekali! Kalau Anda suka steak berlemak yang juicy and tasty, this could be one of the best in town.

Save the best for last ☺️

Sambil masih mengucap syukur puas terhadap lunch kita kali ini, saya dan Elok membagikan pengalaman, foto dan video kita ke IG story ataupun whatsapp group teman yang juga hobi wisata kuliner. Memberi rekomendasi, dan berjanji suatu saat akan kembali lagi ke sini.

Salted caramel ice cream. Nice dessert

2 Comments Add yours

  1. Nice. Hope to visit this restaurant someday.

    1. ibenimages says:

      You should. Highly recommended

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s