
Dalam perjalanan menuju Masjid Quba, usai mendarat di bandara Madinah, Ustad Hamid, pembimbing umroh kita berkata:
“Bapak dan Ibu datang ke sini bukan karena harta Bapak Ibu, bukan karena jabatan, bukan karena pengetahuan. Namun karena Bapak Ibu dipanggil Allah SWT sebagai tamu-Nya”
Beliau kemudian melanjutkan:
“Banyak orang yang memiliki lebih banyak harta, lebih tinggi duduk jabatannya, namun mengapa ia belum dihadirkan Allah ke sini?”
Merenung sambil mengingat-ingat lingkaran sekeliling saya yang pernah berkunjung ke tanah suci, saya pun mengangguk-angguk. Betul juga, banyak teman yang saya yakin tidak kesulitan membiayai perjalanan ke tanah suci sekeluarganya. Namun sampai saat ini sepertinya belum pernah.
Atau kebalikannya, ada juga orang-orang yang sekilas hidupnya pas-pasan, tapi kok ya bisa saja menyisihkan hartanya untuk pergi umroh. Dan juga tidak sedikit kita lihat, marbot atau orang kecil yang diberangkatkan ke tanah suci, walau sesungguhnya mereka tidak berkemampuan.
Itu semua adalah karena panggilan Allah SWT.
Kali ini adalah ke empat kalinya saya kembali ke tanah suci. Terakhir di tahun 2023 saat naik haji kemarin. Sambil duduk bermunajat di waktu Isya di Masjid Madinah, saya pun semakin bersyukur. Bersyukur atas nikmat rejeki, sehat, dan utamanya iman. Bersyukur karenanya, Allah memampukan dan memanggil saya kembali ke tempat suci ini.
Dan hanya kepada Allah lah saat itu saya bersimpuh. Melepaskan seluruh curahan hati dan keluhan, yang tak pernah saya sampaikan ke orang lain. Istri saya tercinta sekalipun.
Hanya dengan berserah dan memohon kepada Allah, Insya Allah niatan kita terwujud. PertolonganNya akan datang. Asal kita benar-benar berusaha dan sungguh-sungguh.
Panggil kami terus ya Allah. Berkahi kami dengan rejeki dan kesehatan ya Allah. Agar kami terus dapat menjadi tamu-Mu. Sampai nanti saat akhir kami benar-benar menjumpai Mu, sang Khalik.