Reunited After 20 Years for World Cup Match

So 20 years ago, these bunch of folks used to gather in Perdatam area, watching football while eating Martabak AA and drinking Coke.

So for good old time sake, four of us reunited at my house with those lovely (but terribly unhealthy) food, while watching World Cup Match: England vs Panama.

Here Rudi and Ubai, my good old friends, coming to my house, bringing Martabak AA and its perfect companion, Coca Cola

And such a perfect night we have, as England rolled on to win the match 6-1.

Go England!! 🏴󠁧󠁢󠁥󠁮󠁧󠁿

Review Minggu Pertama Piala Dunia 2018

Tak terasa hari ini sudah satu minggu Piala Dunia 2018 Russia berjalan. Bagaimana pendapat Anda mengenai kualitas pertandingan seminggu ini? Bagaimana tim jagoan Anda? Masih aman? Berikut review saya minggu ini (tulisan diunggah Kamis sore, 21 Juni jam 6.30)

Statistik Skor dan Gol: Kendati dibuka dengan partai hujan gol saat tuan rumah Russia mengalahkan Arab Saudi 5-0, Piala Dunia Russia 2018 ini agak kering gol. Rata-rata gol per partai di minggu pertama adalah 2.2, yang mana sama dengan Piala Dunia paling “membosankan”, yakni Piala Dunia Italia 1990. Sampai tadi malam, skor paling sering muncul adalah partai 1-0. Total 9 partai (45%) dari 20 partai yang berakhir dengan skor ini. Semoga minggu-minggu berikutnya lebih banyak gol dihasilkan!

  • Jumlah Partai: 20
  • Jumlah Gol: 45
  • Jumlah Gol Rata-rata: 2.2 per partai
  • Skor Paling Sering: 1-0 (45%)

Partai Terbaik:Portugal 3-3 Spanyol. Sepertinya tidak banyak yang berbeda pendapat dengan saya soal ini. Partai pembukaan Group B ini punya semua. 6 gol, permainan cantik tiki taka ala Spanyol versus kecepatan counter attack Portugis, dan tentu saja, momen magis hattrick Cristiano Ronaldo. Kantuk saya yang bangun jam 1 untuk menyaksikan pertandingan ini, mendadak hilang menyaksikan partai rancak nan menawan. Mungkin tak ada partai lebih menarik lagi sampai Piala Dunia 2018 ini usai.

Continue reading

Akhirnya, Fan ID!

Akhirnya hari Jumat lalu saya mendapatkan yang saya tunggu-tunggu: Fan ID.

Ya, Fan ID inilah “kartu sakti” yang diberikan oleh penyelenggara Piala Dunia Russia 2018 kepada pemegang tiket pertandingan Piala Dunia nanti.

Kenapa sakti?

Karena selain dipergunakan sebagai tanda pengenal untuk masuk ke dalam stadion pertandingan, dengan Fan ID ini pemegangnya otomatis mendapatkan visa untuk masuk ke negara Russia. Kita tidak perlu lagi mengurus visa di kedutaan besar Rusia. Cukup dengan menunjukkan ID ini, Insya Allah petugas imigrasi sudah memperbolehkan kita masuk. Konon memang, sebelum Fan ID diterbitkan, setelah kita melakukan registrasi, pihak negara Russia sudah melakukan screening terhadap pembeli tiket. Oleh karenanya, kita diminta untuk menunggu sampai status Fan ID kita di “approved“.

Continue reading

Inggris, Tim Idola yang Selalu Merana

Saya yakin, banyak yang seperti saya yang menjadi fans tim nasional Inggris. Tertolong oleh meningkatnya popularitas Liga Inggris sebagai liga sepakbola paling kompetitif sedunia, popularitas The Three Lions juga semakin menanjak. Di dekade tahun 90an dan 2000an, timnas Inggris selalu disebut-sebut sebagai favorit juara.

Namun demikian, walaupun berbekal nama-nama tenar mulai dari generasi Paul Gascoigne dan Alan Shearer di tahun 90an, sampai kemudian munculnya istilah “England Golden Generation” di kaki Beckham, Steven Gerrard, Paul Lampard sampai Wayne Rooney, timnas Inggris selalu gagal mewujudkan harapan pendukungnya.

Mereka selalu kandas di turnamen akbar sepakbola, baik itu Piala Eropa ataupun Piala Dunia. Paling sering mentok pada babak 16 besar dan perempatfinal. Tercatat sejak tahun 1982 hanya sekali Inggris mampu menebus laga semifinal, yakni di tahun 1990, saat mereka harus kalah adu penalti dari Jerman, yang kemudian menjadi juara (lihat grafik). Continue reading

Salah, dan Kiprah Pesepakbola Muslim di Piala Dunia 2018

Memasuki menit 30 partai final Liga Champions Liverpool melawan Real Madrid masih terlihat sengit. Kedua tim masing-masing menciptakan peluang yang membahayakan gawang lawan. Sampai kemudian terjadi kejadian itu. Kapten Real Madrid, Sergio Ramos berebut bola dengan Mohamed Salah, penyerang andalan Liverpool. Aksi saling berebut yang sangat physical tersebut berbuah korban. Salah ikut jatuh ke tanah bersama Ramos yang mendekap erat lengannya. Terjatuh dalam posisi tidak sempurna, bahu Salah menumpu berat badannya. Salah tergeletak kesakitan. Ia coba bangkit dan bermain lagi selama beberapa menit, untuk kemudian terduduk lesu di lapangan sambil menangis. Salah terpaksa keluar lebih awal dengan hati hancur. Entah kenapa, mental rekan-rekan setimnya pun ikut runtuh. Liverpool pun menyerah 1-3 dari sang juara tiga kali berturut-turut, Real Madrid.

Continue reading

Menuju Piala Dunia: Banyak Gol = Menghibur?

Kalau ditanya Piala Dunia tahun berapa yang paling menghibur? Mungkin jawabannya akan beragam. Ada yang terhibur karena partai-partainya yang seru. Ada yang terhibur karena tim jagoannya juara. Ada juga yang terhibur karena pemain idolanya menjadi bintang turnamen.

Tapi umumnya suatu kejuaraan dianggap menghibur apabila menyajikan partai-partai seru. Kerap kali partai seru ditandai dengan banyaknya jumlah gol yang terjadi.

Piala Dunia yang terakhir, Brazil 2014, merupakan salah satu penyelenggaraan Piala Dunia paling menghibur. Terbukti dengan tercatatnya Piala Dunia ini sebagai salah satu Piala Dunia yang menghasilkan gol terbanyak (lihat tabel)

Continue reading

Top Scorer Piala Dunia: Dari Fontaine sampai Klose

Selain gelar Pemain Terbaik yang sudah saya bahas di tulisan sebelumnya, gelar Top Scorer (pencetak gol terbanyak) juga merupakan gelar prestisius yang tercatat sepanjang masa.

Just Fontaine, peraih gelar top scorer di Piala Dunia tahun 1958, sampai sekarang namanya masih abadi sebagai pencetak gol terbanyak di dalam satu perhelatan Piala Dunia. Fontaine mencetak 13 gol pada Piala Dunia di Swedia itu.

Continue reading

Menuju Piala Dunia 2018: Kutukan Pemain Terbaik

Menjadi pemain terbaik di perhelatan Piala Dunia ternyata malah bisa mendapat kutukan, yakni gagal jadi Juara Dunia.

Begitulah fakta yang terjadi. Sejak Piala Dunia tahun 1982, terhitung hanya 3 orang peraih piala Golden Ball (piala untuk pemain terbaik sepanjang turnamen) yang negaranya juga berhasil menjadi Juara Dunia. Mulai dari Paolo Rossi saat Italia Juara Dunia tahun 1982, Diego Maradona saat membawa Argentina Juara Dunia tahun 1986, dan terakhir Romario, saat mengantarkan Brazil juara di tahun 1994.

Salvatore Schillachi, bintang kejutan Italia di Piala Dunia 1990 yang gagal menjadi New Paolo Rossi

Sisanya justru seakan gelar Pemain Terbaik menjadi “kutukan” untuk gagal di partai puncak (lihat tabel)

Yang terakhir diingat mungkin empat tahun lalu. Continue reading

Menuju Piala Dunia 2018: Power Ranking Juara Dunia

Kalau Anda ditanya, “Siapakah negara yang paling jagoan di Piala Dunia?”

Jawaban paling umum pasti adalah Brazil atau Jerman. Karena hanya dua negara inilah yang pernah merebut gelar “Juara Dunia” sampai 4 kali atau lebih. Brazil the penta-champeone (lima kali), terakhir kali juara tahun 2002. Sedangkan Jerman merebut titel ke empatnya di tahun 2014 lalu.

Namun ternyata kalau dilihat konsistensi prestasi dari penyelenggaraan Piala Dunia sejak 1982 (again, I started from this period, because I first followed World Cup from this year. Jadi maaf ya..), dua negara yang paling jagoan adalah Jerman dan Italia.

Jerman, juara empat kali sekaligus juara bertahan di Piala Dunia 2018

Kok bisa?

Begini analisis saya:

Continue reading