Perjuangan Setahun Mendapatkan SIM Tanpa Menyogok

Wajah gembira setelah mendapatkan SIM A dan SIM C setelah proses selama 1 tahun
Hari ini genap setahun sudah ikhtiar saya mendapatkan SIM A dan C dengan jujur, tanpa menyogok. 

Tenang, judulnya aja yang dibuat dramatis. Kesannya sepanjang tahun saya berjuang untuk lulus ujian SIM. Padahal kenyataannya adalah, hari ini tepat setahun yang lalu saya mengikuti ujian mendapatkan SIM baru, dan gagal pada ujian prakteknya. Sialan. Nah hari ini saya datang kembali untuk mengulang.

Sewaktu tahu saya gagal ujian SIM, teman-teman saya pertanyaannya sama, “kok nggak bayar aja sih?”

Hehehe. Begitulah Indonesia. Makanya gimana mau ngarep bangsa ini bebas korupsi, kalau dari diri sendiri aja kita malah mau nyogok. Tapi serius, itu memang salah satu alasan kenapa saya berniat untuk mengikuti ujian SIM tanpa menyogok. Alasan lain, tahun lalu memang monitoring pengurusan SIM sedang ketat-ketatnya. Waktu saya mengurus di Kantor SIM di Daan Mogot Tangerang, susah sekali saya menemukan “escort” (baca: calo) yang dapat membantu pengurusan SIM dengan “jalur cepat”. Semua terlihat mengikuti prosedur dengan tertib. 

Jadilah pada tanggal tersebut, tepat setahun yang lalu, tanggal 11 Juli 2016,  dimulainya perjuangan saya mendapat SIM selama setahun.

Semua ini gara-gara satu hal: saya lupa memperpanjang SIM saya yang sudah expired per tanggal 1 Mei 2016. Dan berdasarkan peraturan terbaru dari Kepolisian RI, telat mengurus perpanjangan satu hari saja, maka SIM Anda akan dibatalkan, dan Anda diwajibkan untuk mengulang proses mendapatkan SIM, lengkap dengan ujian-ujiannya. Blimey. Jadi itulah cerita kenapa saya harus mengulang mendapatkan SIM lagi. 

Oke berikut pengalaman (baca: perjuangan) saya. Continue reading

Pansus Hak Angket DPR: Jangan Pilih Anggota Dewan Ini Lagi!

Courtesy: Kompas, 23 Juni 2017
Maaf kalau tiba-tiba nyelonong ke politik. Saya cuman mau taruh foto dan nama para anggota DPR pengusung Hak Angket kepada KPK di blog saya, untuk mengingatkan saya (dan mungkin yang baca blog ini) agar tidak memilih nama-nama ini sebagai Anggota Dewan di Pemilu mendatang. Dengan harapan Google search akan membantu memunculkan nama-nama ini kalau ada yang mencari mengenai ‘Pansus Hak Angket KPK’ di kemudian hari.

Masalahnya bangsa kita ini bangsa pelupa. Sekarang caci maki, besok memuja. Hari ini  minta orang masuk penjara, kemudian hari malah memilih jadi pimpinannya. Jadi dengan bantuan teknologi, let their bad names be immortalized in history. 

So without further due, here they are the names you shouldn’t vote in the next legislative election (or any election, for that matter):

Total ada 23 anggota DPR di dalam Pansus Hak Angket KPK. Berikut nama-nama mereka:

  1. Fraksi PDI-P: Masinton Pasaribu (Dapil DKI Jakarta II), Eddy Kusuma Wijaya (Dapil Banten III), Risa Mariska (Dapil Jawa Barat VI), Adian Yunus Yusak (Jawa Barat V), Arteria Dahlan (Jawa Timur VI), Junimart Girsang (Sumatera Utara III).
  2. Fraksi Golkar: Bambang Soesatyo (Jawa Tengah VII), Adies Kadir (Jawa Timur I), Mukhammad Misbakhun (Jawa Timur II), John Kennedy Azis (Sumatera Barat II), Agun Gunanjar (Dapil Jawa Barat X).
  3. Fraksi PPP: Arsul Sani (Jawa Tengah X), Anas Thahir (Jawa Timur III)
  4. Fraksi NasDem: Taufiqulhadi (Dapil Jawa Timur IV), Ahmad HI M. Ali (Dapil Sulawesi Tengah)
  5. Fraksi Hanura: Dossy Iskandar (Dapil Jawa Timur VIII) 
  6. PAN: Mulfachri Harahap (Dapil Sumatera Utara I), Muslim Ayub (Dapil Aceh I), Daeng Muhammad (Jawa Barat VII).
  7. Gerindra: Moreno Suprapto (Dapil Jawa Timur V), Desmond Junaidi Mahesa (Dapil Banten II), Muhammad Syafii (Dapil Sumatera Utara I), Supratman Andi Agtas (Dapil Sulawesi Tengah).(Nabilla Tashandra)

Dan jangan lupa para pimpinan DPR saat ini yang dengan congkaknya meng-abuse jabatannya tanpa memperhatikan suara rakyat yang mendambakan negeri ini bebas korupsi :

  • Ketua: Setya Novanto (says it all, really)
  • Wakil Ketua: Fadli Zon
  • Agus Hermanto
  • Taufik Kurniawan
  • Fahri Hamzah

You’re off my list, mister! 

Saya Indonesia, Saya Pancasila!


Dulu saya pikir Penataran P4 itu cuma indoktrinasi. Pelajaran PMP itu nggak berguna. Lambang burung Garuda itu hanya sekedar pelengkap ruangan. Lima sila itu hanya hafalan.
Tapi ternyata akhir-akhir ini kita disadarkan bahwa kealpaan kita untuk mengingat, memahami dan menjalani kehidupan berbangsa kita berdasarkan Pancasila telah membuat negara kita ini rentan terhadap perpecahan.

Dengan itu, saya menyambut baik diperingatinya Hari Pancasila pada tanggal 1 Juni (libur gitu loh), untuk kembali mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur yang sudah diletakkan oleh para founding fathers negara ini.

Jayalah Pancasila. Jayalah Indonesia! 🇮🇩

MRT Jakarta: (Segera) Terwujudnya Mimpi Warga Jakarta

The famous tunnel, dan sebagian foto saat kunjungan

Hari Kamis minggu lalu, saya dan teman-teman alumni Singapore International Foundation (SIF) Asean Student Fellows berkesempatan untuk menilik proyek MRT (Mass Rapid Transportation) Jakarta.

Kebetulan Direktur Operasional PT MRT Jakarta, (Bapak) Agung Wicaksono, adalah rekan sesama Alumni, jadi kita mendapat kesempatan berharga untuk reuni bareng sekaligus mengunjungi tempat kerja Agung yang akhir-akhir ini jadi pusat perhatian.

Bagi kami, Alumnus SIF yang pada saat kuliah mendapat beasiswa untuk kuliah di Singapura, MRT mendapat tempat khusus di hati kami. Banyak dari kami (termasuk saya) yang pertama kali pergi ke luar negeri berkat beasiswa tersebut. Dan tentu saja saat itu kali pertama kami menaiki moda transportasi yang menjadi simbol negara/kota yang modern dan maju. Moda transportasi yang murah, cepat, aman dan nyaman.
Continue reading

Wajah Politik dan Kehidupan Kebangsaan Indonesia Pasca Pilkada DKI


Pilkada DKI sudah dilaksanakan bulan Februari yang lalu. Hasil penghitungan menyatakan Pilkada DKI masuk babak overtime mempertarungkan pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi. Putaran kedua akan berlangsung sebentar lagi, pada tanggal 19 April 2017. Dan hiruk pikuk, hingar bingar cuitan, tautan serta  komentar dari pendukung dari dua calon Gubernur DKI yang lolos ke putaran kedua sudah mewarnai media sosial di seantero negeri.

Mengacu pada news feed Facebook dan timeline Twitter saya sejak putaran pertama yang baru lalu, yang tampak adalah hal ini sudah mengarah kepada perpecahan sosial. Perbedaan pandangan dan pilihan politik membuat satu kubu menjadi “musuh” bagi kubu yang lain. Situasi politik mempengaruhi situasi pertemanan (dan persaudaraan) yang dipenuhi dari rasa sebal sampai rasa kebencian, amarah, permusuhan dan adu domba.

Tak jarang saya lihat seorang teman membagi berita (baik yang hoax atau tidak) yang mendiskreditkan kubu calon gubernur temannya. Dan kerap juga seorang saudara mengunggah pandangan ahli politik ataupun agama yang berpotensi menyakiti perasaan saudaranya yang lain. Tapi dengan pembelaan “ini kan wall gue, suka-suka gue dong”, mereka seakan menafikan fakta bahwa posting-an mereka tersebut dapat dibaca oleh teman atau saudaranya yang “berseberangan”.

Motif berkampanye di media sosial

Motif utama tentunya untuk berusaha mempengaruhi teman-teman lain untuk mengikuti pilihan politiknya. Entah upaya ini berhasil atau tidak. Saya tidak tahu berapa % teman-teman media sosial saya yang beralih pilihan karena ini. Tapi kalau yang menjadi ‘sensi’, ‘baper’ dan akhirnya “unfriend” sih sepertinya banyak 🙂

Motif lain adalah memang yang bersangkutan senang kontroversi. Bagi sebagian teman saya, adu silang pendapat di media sosial ini merupakan diskursus yang mencerahkan. Memahami pandangan kubu yang berseberangan disebutkan memperkaya alam pikir. “Inilah demokrasi bung!”, demikian salah satu komentar yang saya dapati di Facebook. Baiklah.

Motif lain lagi yang saat ini semakin marak adalah motif yang berlandaskan agama. Yakni motif untuk syiar atau “berdakwah” lewat media sosial. Hadits “Sampaikanlah dariku walaupun itu hanya satu ayat” kerap menjadi landasan motif ini. Himbauan (atau sindiran?) yang sebenarnya ditujukan pada temannya yang berkeyakinan sama, ikut terbaca dan lalu dikomentari atau dibalas sindir oleh teman lain yang berbeda keyakinan. Wah wis, ruwet. Continue reading

Pilkada DKI: Aya First Vote!

Top: Aya cast her vote. Left: The voting card. Right: I and Elok show our fingers after voting

It’s a historic day, as my daughter Aya cast her first vote today for Jakarta’s Governor Election. 

Three of us went to Balai RW 5 -Cilandak Barat for the voting. Insya Allah Jakarta will have the best governor they deserved. 

The voting place – Balai RW 5

US Election Day 2016: My Prediction was Correct!

My tweets back in July 2016
I tweeted this back in July 2016. I noticed from my social media universe, everybody was supporting and will be voting for Hillary. From sports legend to rock superstar. From well known journalist to human rights activist. It’s all too similar to the scene during Brexit election. And we know what happened. 

And today, unfortunately I should say, my prediction is correct. Trump is likely to win the US Election 2016.  It’s all seems surprising for some. But not for me. As matter of fact, those who voted for Trump are not visible in our social media. They are lay men, farmers, country side people who (arguably) less well educated and informed than those we found in social media. But they hold the same right to vote. And their vote is equally counted as those famous people. And this is what they said. What they voted. They wanted change in US. That’s why you find the result is surprising. Well I was surprised at Brexit, but not anymore now. 

We’ll see what happens. 
For me personally though, I’m not confident Trump will do most of what he promised during election. Those great wall and Islamic-phobia stuffs. Aside that I think he will be more sensible given pressure from international community and business stakeholders, we know from his track record, he is not a kind of man we can hold to his words, isn’t he? So chill 🙂

Meanwhile, congrats Trump. You have won the biggest marketing campaign in political history. 

And congrats America. You show the world who you’re REALLY are. 

It explains everything: Trump’s voters are old generation

How electoral votes look like if voters were only future generations

Greatest marketing tagline in political history?

Hasil Survey Pilgub DKI 2017: Ahok Menang Satu Putaran!

Hasil Survey Singkat PilGub DKI 2016
Paling tidak begitulah hasil survey singkat yang saya lakukan dua minggu lalu. Dari total 258 responden yang berpartisipasi dalam survey, hasilnya 163 responden (63.18%) mengaku menjagokan pasangan Ahok-Djarot sebagai calon gubernur pilihannya. Keunggulan mutlak yang sudah cukup untuk mengantarkan Ahok memenangi PilGub DKI 2017 dalam satu putaran.

Tapi tenang saja. Pendukung Anies-Sandi dan Agus-Sylvana ndak usah keburu emosi. Wong ini cuman survey kecil-kecilan. Partisipannya pun tidak semuanya ber-KTP DKI (numpang kerja sih iya). Jadi yo wis, woles aja, yuk disimak hasil survey selengkapnya…

Profil Responden

Dari 258 responsen yang mengikuti survey ini, berikut ini profilnya:

  • 66.09% adalah pemegang KTP DKI, 33.91% sisanya bukan, walaupun 15.88% nya bekerja di DKI dan/atau tinggal di Jabotabek. Jadi pantes aja ya isu PilGub DKI 2017 ini rame dibicarakan di social media (khususnya Facebook), karena yang dari luar Jabotabek pun tertarik untuk berpartisipasi 🙂
  • 71% laki-laki dan 29% perempuan.
  • Sebagian besar (56%) beragama Islam, 25% beragama Kristen, dan 17% beragama Katholik. Sisanya Budha (1.3%), Hindu (0.43%) dan ‘Atheis’ 1.3% (yes, really)
  • Sebagian besar, 70.39% berprofesi sebagai Karyawan Swasta, hanya 3.43% yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri dan 10.73% nya sebagai Pengusaha.
  • 68.67% berusia di antara 30-44 tahun, 21.46% berusia 45-60 tahun, dan 8.58% berusia 18-30 tahun. Dan terima kasih kepada partisipan senior yang berusia di atas 60 tahun (1.29%) yang ikut meramaikan survey ini.

Yah memang nggak jauh-jauh dari profil lingkaran terdekat saya di social media. Jadi ya, pasti ada bias, karena profil responden hanya mewakili sebagian kecil profil warga DKI Jakarta (walaupun survey saya saat Pilpres 2014 ternyata hasilnya dapat tepat memprediksi hasil Pilpres 2014). Tapi tetap saja, please take the survey result with the pinch of salt 🙂

Continue reading

Terminal 3 Ultimate Chaos!

Siang ini mengalami kebingungan saat menjemput istri di Terminal 3 Airport Soekarno Hatta yang baru (Ultimate).

Sampe bingung kalau jemput penumpang itu dimana. Karena area kedatangan masih jauh dari siap. Penumpang diarahkan untuk dijemput di daerah “Plasa T3”, which is di luar jalan sih sebetulnya.

Sementara penjemput diminta menunggu di parkir Domestik Terminal 3 yang untuk masuk dan cari parkirnya antri banget. Bahkan untuk mencari gedung parkirnya pun penuh perjuangan karena rambu2 yang tidak jelas, dan masih banyak jalur yang ditutup karena belum siap. Dan bukan saya saja yang kecele menemui jalan buntu. Bis-bis besar pun ikut memutar karena kesasar 😅

Akhirnya saya parkir aja di pinggir jalan, setelah diusir-usir terus oleh satpam dan petugas keamanan di area kedatangan, yang terlihat lelah dan frustasi menjawab pertanyaan penjemput yang mulai emosi dan kebingungan.

Oalah Pak BKS, sampeyan itu janji apa sama Pak Jokowi kok bilang Terminal 3 Ultimate ini sebetulnya “sudah siap, tapi nggak dapet ijin dari Pak Jonan”? Saya nggak bisa bayangin kalau bener waktu itu Pak Jonan mengikuti tekanan Pak Presiden yang berdasarkan info “ABS” (Asal Bapak Senang) dari Bapak, untuk mengoperasikan terminal ini pada saat puncak Mudik Lebaran? Wah Pak. Sekarang saja pada masa traffic normal begini, saya dan penjemput lain masih bingung dan tersesat, bagaimana kalau waktu lebaran sudah operasional ya? Ultimate chaos!! 😡