Azimat Pancasila

Membaca tweet Pak Mahfud MD pagi ini, jadi mengingatkan saya kepada obrolan saya dengan mantan boss saya, seorang senior banker warga negara Inggris, yang juga menyandang gelar sebagai seorang sarjana Sejarah.

Beliau mengatakan, adalah suatu mukjizat bagi Indonesia untuk dapat menyatukan suku, agama dan pulau dalam satu wadah negara.

Merunut sejarah, credit goes to Soekarno yang meletakkan dasar ini. But also credit to Soeharto yang mengejawantahkan visi ini. Don’t under estimate pengaruh instruksinya untuk pendidikan P4, kewajiban penggunaan Bahasa Indonesia dan nama-nama Indonesia di seluruh nusantara.

In hindsight, 32 tahun di bawah Soeharto dalam era demokrasi terpimpin juga sangat membantu hal ini. Bisa dibayangkan kalau tahun 70an sudah era demokrasi reformasi seperti saat ini? Partai-partai bebas berekspresi? Saya tidak yakin NKRI kan utuh seperti sekarang.

Menurut pakar politik dari Ohio State University, William Liddle, salah satu kontribusi terbesar Soeharto dalam sejarah Indonesia adalah menghilangkan politik kelas di Indonesia. Semua partai politik diharuskan berhaluan Pancasila. Ini kunci pemersatu.

It sounds like I’m big fan of Soeharto. Well, I’m not. His family corruption and nepotism at the end of his era was disgusting. But we shouldn’t take away the fact what he has done to us. And we should not take the legacy of ‘Bhinneka Tunggal Ika’ for granted as well.

Jadi pada hari lahir Pancasila ini, marilah kita syukuri azimat Pancasila yang sudah terbukti sukses menyatukan kita sebagai bangsa. Semoga Indonesia akan menjadi negara yang besar dengan menjunjung tinggi falsafah luhur Pancasila!

Perpanjangan Paspor Sistem Whatsapp

Ternyata sekarang mengurus perpanjangan paspor sudah semudah mengirim pesan Whatsapp. Gak percaya? Ini pengalaman saya.

Karena paspor saya akan habis berlakunya di akhir tahun, dan rencana travelling saya akan berakhir kurang dari enam bulan dari masa berlaku paspor, maka saya menyegerakan pengurusan paspor saya.

Dari pengalaman mengurus perpanjangan sebelumnya, masalah yang paling sering didapati adalah mengantri. Sering dengar kejadian orang yang harus berlomba-lomba datang pagi untuk dapatkan nomor antri awal, namun nggak jaminan, karena banyak yang datang lebih pagi lagi.

Sempat juga berulang kali mencoba untuk mendapatkan nomor antrian melalui Aplikasi Paspor Online, yang sayangnya hanya tersedia di platform Android. Dan aplikasi tersebut kurang sempurna (buggy), jadi saya akhirnya frustasi untuk mencoba mengantri lewat jalur ini (selain itu HP saya iOS, jadi bolak balik harus pinjem HP anak, jadi rempong)

Sampai pada akhirnya saya browsing di internet dan menemukan adanya layanan pengambilan nomor antrian paspor via Whatsapp. Wah ini dia, cara ngantri jaman now!

Continue reading

Pertemuan dengan Bang Novel Baswedan, Pejuang Anti Korupsi yang Inspiratif

Saya dan Bang Novel Baswedan di Masjid Al-Falah Singapura
Ternyata niat saya untuk sholat Maghrib di Al-Falah tadi, memberikan saya bonus yang berharga: kesempatan bertemu dengan Bang Novel Baswedan, penyidik senior KPK yang saya yakin teman-teman semua sudah dengar atau baca beritanya. 

Saat saya bersiap untuk berdiri di shaf paling depan jamaah shalat maghrib Al-Falah, tetiba berdiri di samping saya sosok yang begitu akrab, karena postur, wajah dan (maaf) mata kirinya yang cacat akhir-akhir ini menghiasi media massa tanah air. Agak sedikit kurang khusyuk jadinya awal sholatku, karena aku langsung berniat, “habis sholat ini harus ketemu Bang Novel”

Dan sesaat setelah bersama-sama menunaikan ibadah shalat maghrib dan sunnah ba’diyah, saya menghampiri Bang Novel yang masih duduk di masjid bersama seorang saudaranya. 

Saya sapa sambil mengulurkan jabat tangan, “Bang Novel, Assalamu’alaikum… saya Iben dari Jakarta. Lanjutkan perjuangan Bang! Kita kaum professional nggak akan terima kalau KPK dilemahkan. Kita pasti akan turun ke jalan”

And by saying that, I really, really mean it.  Continue reading

Perjuangan Setahun Mendapatkan SIM Tanpa Menyogok

Wajah gembira setelah mendapatkan SIM A dan SIM C setelah proses selama 1 tahun
Hari ini genap setahun sudah ikhtiar saya mendapatkan SIM A dan C dengan jujur, tanpa menyogok. 

Tenang, judulnya aja yang dibuat dramatis. Kesannya sepanjang tahun saya berjuang untuk lulus ujian SIM. Padahal kenyataannya adalah, hari ini tepat setahun yang lalu saya mengikuti ujian mendapatkan SIM baru, dan gagal pada ujian prakteknya. Sialan. Nah hari ini saya datang kembali untuk mengulang.

Sewaktu tahu saya gagal ujian SIM, teman-teman saya pertanyaannya sama, “kok nggak bayar aja sih?”

Hehehe. Begitulah Indonesia. Makanya gimana mau ngarep bangsa ini bebas korupsi, kalau dari diri sendiri aja kita malah mau nyogok. Tapi serius, itu memang salah satu alasan kenapa saya berniat untuk mengikuti ujian SIM tanpa menyogok. Alasan lain, tahun lalu memang monitoring pengurusan SIM sedang ketat-ketatnya. Waktu saya mengurus di Kantor SIM di Daan Mogot Tangerang, susah sekali saya menemukan “escort” (baca: calo) yang dapat membantu pengurusan SIM dengan “jalur cepat”. Semua terlihat mengikuti prosedur dengan tertib. 

Jadilah pada tanggal tersebut, tepat setahun yang lalu, tanggal 11 Juli 2016,  dimulainya perjuangan saya mendapat SIM selama setahun.

Semua ini gara-gara satu hal: saya lupa memperpanjang SIM saya yang sudah expired per tanggal 1 Mei 2016. Dan berdasarkan peraturan terbaru dari Kepolisian RI, telat mengurus perpanjangan satu hari saja, maka SIM Anda akan dibatalkan, dan Anda diwajibkan untuk mengulang proses mendapatkan SIM, lengkap dengan ujian-ujiannya. Blimey. Jadi itulah cerita kenapa saya harus mengulang mendapatkan SIM lagi. 

Oke berikut pengalaman (baca: perjuangan) saya. Continue reading

Pansus Hak Angket DPR: Jangan Pilih Anggota Dewan Ini Lagi!

Courtesy: Kompas, 23 Juni 2017
Maaf kalau tiba-tiba nyelonong ke politik. Saya cuman mau taruh foto dan nama para anggota DPR pengusung Hak Angket kepada KPK di blog saya, untuk mengingatkan saya (dan mungkin yang baca blog ini) agar tidak memilih nama-nama ini sebagai Anggota Dewan di Pemilu mendatang. Dengan harapan Google search akan membantu memunculkan nama-nama ini kalau ada yang mencari mengenai ‘Pansus Hak Angket KPK’ di kemudian hari.

Masalahnya bangsa kita ini bangsa pelupa. Sekarang caci maki, besok memuja. Hari ini  minta orang masuk penjara, kemudian hari malah memilih jadi pimpinannya. Jadi dengan bantuan teknologi, let their bad names be immortalized in history. 

So without further due, here they are the names you shouldn’t vote in the next legislative election (or any election, for that matter):

Total ada 23 anggota DPR di dalam Pansus Hak Angket KPK. Berikut nama-nama mereka:

  1. Fraksi PDI-P: Masinton Pasaribu (Dapil DKI Jakarta II), Eddy Kusuma Wijaya (Dapil Banten III), Risa Mariska (Dapil Jawa Barat VI), Adian Yunus Yusak (Jawa Barat V), Arteria Dahlan (Jawa Timur VI), Junimart Girsang (Sumatera Utara III).
  2. Fraksi Golkar: Bambang Soesatyo (Jawa Tengah VII), Adies Kadir (Jawa Timur I), Mukhammad Misbakhun (Jawa Timur II), John Kennedy Azis (Sumatera Barat II), Agun Gunanjar (Dapil Jawa Barat X).
  3. Fraksi PPP: Arsul Sani (Jawa Tengah X), Anas Thahir (Jawa Timur III)
  4. Fraksi NasDem: Taufiqulhadi (Dapil Jawa Timur IV), Ahmad HI M. Ali (Dapil Sulawesi Tengah)
  5. Fraksi Hanura: Dossy Iskandar (Dapil Jawa Timur VIII) 
  6. PAN: Mulfachri Harahap (Dapil Sumatera Utara I), Muslim Ayub (Dapil Aceh I), Daeng Muhammad (Jawa Barat VII).
  7. Gerindra: Moreno Suprapto (Dapil Jawa Timur V), Desmond Junaidi Mahesa (Dapil Banten II), Muhammad Syafii (Dapil Sumatera Utara I), Supratman Andi Agtas (Dapil Sulawesi Tengah).(Nabilla Tashandra)

Dan jangan lupa para pimpinan DPR saat ini yang dengan congkaknya meng-abuse jabatannya tanpa memperhatikan suara rakyat yang mendambakan negeri ini bebas korupsi :

  • Ketua: Setya Novanto (says it all, really)
  • Wakil Ketua: Fadli Zon
  • Agus Hermanto
  • Taufik Kurniawan
  • Fahri Hamzah

You’re off my list, mister! 

Saya Indonesia, Saya Pancasila!


Dulu saya pikir Penataran P4 itu cuma indoktrinasi. Pelajaran PMP itu nggak berguna. Lambang burung Garuda itu hanya sekedar pelengkap ruangan. Lima sila itu hanya hafalan.
Tapi ternyata akhir-akhir ini kita disadarkan bahwa kealpaan kita untuk mengingat, memahami dan menjalani kehidupan berbangsa kita berdasarkan Pancasila telah membuat negara kita ini rentan terhadap perpecahan.

Dengan itu, saya menyambut baik diperingatinya Hari Pancasila pada tanggal 1 Juni (libur gitu loh), untuk kembali mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur yang sudah diletakkan oleh para founding fathers negara ini.

Jayalah Pancasila. Jayalah Indonesia! 🇮🇩

MRT Jakarta: (Segera) Terwujudnya Mimpi Warga Jakarta

The famous tunnel, dan sebagian foto saat kunjungan

Hari Kamis minggu lalu, saya dan teman-teman alumni Singapore International Foundation (SIF) Asean Student Fellows berkesempatan untuk menilik proyek MRT (Mass Rapid Transportation) Jakarta.

Kebetulan Direktur Operasional PT MRT Jakarta, (Bapak) Agung Wicaksono, adalah rekan sesama Alumni, jadi kita mendapat kesempatan berharga untuk reuni bareng sekaligus mengunjungi tempat kerja Agung yang akhir-akhir ini jadi pusat perhatian.

Bagi kami, Alumnus SIF yang pada saat kuliah mendapat beasiswa untuk kuliah di Singapura, MRT mendapat tempat khusus di hati kami. Banyak dari kami (termasuk saya) yang pertama kali pergi ke luar negeri berkat beasiswa tersebut. Dan tentu saja saat itu kali pertama kami menaiki moda transportasi yang menjadi simbol negara/kota yang modern dan maju. Moda transportasi yang murah, cepat, aman dan nyaman.
Continue reading

Wajah Politik dan Kehidupan Kebangsaan Indonesia Pasca Pilkada DKI


Pilkada DKI sudah dilaksanakan bulan Februari yang lalu. Hasil penghitungan menyatakan Pilkada DKI masuk babak overtime mempertarungkan pasangan Basuki-Djarot dan Anies-Sandi. Putaran kedua akan berlangsung sebentar lagi, pada tanggal 19 April 2017. Dan hiruk pikuk, hingar bingar cuitan, tautan serta  komentar dari pendukung dari dua calon Gubernur DKI yang lolos ke putaran kedua sudah mewarnai media sosial di seantero negeri.

Mengacu pada news feed Facebook dan timeline Twitter saya sejak putaran pertama yang baru lalu, yang tampak adalah hal ini sudah mengarah kepada perpecahan sosial. Perbedaan pandangan dan pilihan politik membuat satu kubu menjadi “musuh” bagi kubu yang lain. Situasi politik mempengaruhi situasi pertemanan (dan persaudaraan) yang dipenuhi dari rasa sebal sampai rasa kebencian, amarah, permusuhan dan adu domba.

Tak jarang saya lihat seorang teman membagi berita (baik yang hoax atau tidak) yang mendiskreditkan kubu calon gubernur temannya. Dan kerap juga seorang saudara mengunggah pandangan ahli politik ataupun agama yang berpotensi menyakiti perasaan saudaranya yang lain. Tapi dengan pembelaan “ini kan wall gue, suka-suka gue dong”, mereka seakan menafikan fakta bahwa posting-an mereka tersebut dapat dibaca oleh teman atau saudaranya yang “berseberangan”.

Motif berkampanye di media sosial

Motif utama tentunya untuk berusaha mempengaruhi teman-teman lain untuk mengikuti pilihan politiknya. Entah upaya ini berhasil atau tidak. Saya tidak tahu berapa % teman-teman media sosial saya yang beralih pilihan karena ini. Tapi kalau yang menjadi ‘sensi’, ‘baper’ dan akhirnya “unfriend” sih sepertinya banyak 🙂

Motif lain adalah memang yang bersangkutan senang kontroversi. Bagi sebagian teman saya, adu silang pendapat di media sosial ini merupakan diskursus yang mencerahkan. Memahami pandangan kubu yang berseberangan disebutkan memperkaya alam pikir. “Inilah demokrasi bung!”, demikian salah satu komentar yang saya dapati di Facebook. Baiklah.

Motif lain lagi yang saat ini semakin marak adalah motif yang berlandaskan agama. Yakni motif untuk syiar atau “berdakwah” lewat media sosial. Hadits “Sampaikanlah dariku walaupun itu hanya satu ayat” kerap menjadi landasan motif ini. Himbauan (atau sindiran?) yang sebenarnya ditujukan pada temannya yang berkeyakinan sama, ikut terbaca dan lalu dikomentari atau dibalas sindir oleh teman lain yang berbeda keyakinan. Wah wis, ruwet. Continue reading

Pilkada DKI: Aya First Vote!

Top: Aya cast her vote. Left: The voting card. Right: I and Elok show our fingers after voting

It’s a historic day, as my daughter Aya cast her first vote today for Jakarta’s Governor Election. 

Three of us went to Balai RW 5 -Cilandak Barat for the voting. Insya Allah Jakarta will have the best governor they deserved. 

The voting place – Balai RW 5