Mendadak F1 di Singapura

Saat saya merencanakan medical check-up tahunan saya beberapa minggu lalu, saya tidak ‘ngeh’ kalau weekend ini adalah saat diselenggarakannya Grand Prix Formula 1 di Singapura. Saya baru tersadar pada perjalanan dari Changi ke hotel Kamis malam kemarin. Kawasan Marina Bay dengan icon Singapore Flyer tampak lebih terang benderang dari biasanya. Saya pikir memang pembaharuan atraksi. Sampai sesaat kemudian taksi melintasi kawasan Marina, saya baru sadar bahwa area sudah disulap menjadi paddock tim F1.

Pantesan kok harga tiket hotel lebih mahal dari biasanya. Kirain pengaruh depresiasi kurs kita. Hehehe. 

Tapi karena sudah terlanjur berada di Singapura, jadilah terbetik pikiran untuk ikut nonton. Secara belum pernah juga, dan termasuk dalam salah satu wishlist saya.

Tapi ternyata tiket di official website Singapore Grand Prix sudah ludes terjual. Jadilah saya berburu tiket melalui third party marketplace di Singapore. Sedikit googling dan betting on my luck, saya membeli melalui situs Viagogo. Memang agak sedikit mahal (kira-kira 200rb lebih mahal), tapi menurut saya wajar lah. Namanya juga calo :). Agak deg-degan juga tapi, secara di official website sudah diwanti-wanti kalau pihak panitia melarang tiket yang sudah dibeli diperjualbelikan.

Tapi Alhamdulillah, “perjudian” saya berhasil. Calo jaman now ini lumayan rapi juga organisasinya. Melalui email mereka memberikan instruksi untuk bertemu dengan seseorang di Orchard Parade hotel di siang hari sebelum acara. Ternyata si “seseorang” ini adalah seorang bapak tua bule yang sudah duduk menanti di lobi hotel dengan kardus berisikan ratusan amplop (banyak juga yang beli seperti saya).

Kerjanya cukup professional. Dengan menunjukkan booking code dari Viagogo, kita tinggal menghampiri si Bapak. Verifikasi sebentar dengan daftar pembeli, lalu dia membagikan tiket + lanyard F1 yang sudah dikelompokkan di dalam amplop.  Not bad for a calo. Hahaha. Continue reading

Delicious Indian Lunch to Celebrate

Alhamdulillah hasil medical check-up saya bagus hasilnya. Time to celebrate!

Tergoda dengan aroma masakan India di sepanjang jalan di kawasan Little India, kita memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran terpopuler di sini: Apolo Banana Leaf.

Lebih dari 10 tahun lalu saya pernah diajak teman kantor lama makan di sini. Dari dulu memang kelezatan makanannya sudah cukup legendaris.

Betul saja, restoran sudah ramai saat kami datang. Tapi tempat duduk untuk berdua masih tersedia. Sesaat kemudian pelayan datang untuk take order.

What’s your specialty?”, saya bertanya.

Si pelayan berkata dengan yakin, “Sri Lankan crab and Fish Head, those two are our specialties”

Hmmm… awalnya kita padahal sudah mengincar grilled mutton-nya, tapi tergoda juga untuk mencoba the specialty. Karena saya tidak terlalu doyan kepala ikan, jadi kita memutuskan untuk memesan kepiting.

Dan Alhamdulillah, pilihan tidak salah. Berbeda dengan kepiting saus padang, ataupun black pepper ala Singapura, kepiting yang kami pesan dimasak dengan campuran telur, tomat dan entah bumbu apa lagi. Tapi yang jelas rasanya gurih dan enak. Tidak menyesal walaupun harus bayar mahal.

Kepiting ini kita santap dengan nasi putih dan sayur kol dan terong khas India yang disajikan di atas daun pisang. Memang ini gaya menghidangkan yang khas dari restoran ini.

Singkat kata, makan siang yang nikmat dalam suasana hati yang gembira .Alhamdulillah, atas segala nikmat-Mu Ya Allah.

Cantiknya Marina Bay Sands

Singapore memang paling jago bikin ruang publik yang bersih, rapi dan cantik seperti ini. Memandangi suasana cantik Marina Bay, saya jadi inget masa kuliah. Berbekal french fries dan Coke dari McDonalds, saya bisa betah duduk ngobrol berjam-jam bersama teman dari Filipina di area Boat Quay. Suasana kota yang nyaman tanpa harus membayar mahal.

Sekarang tempat seperti itu banyak di Singapura, termasuk salah satu yang paling baru di area Marina Bay Sands ini.

Jumatan di Masjid Abdul Gafoor Singapore

Seperti biasa jadwal medical check-up saya jatuh di hari Jumat. Jadi seusai check-up sudah jadi kebiasaan untuk shalat Jumat di Singapura.

Kalau biasanya saya shalat di Masjid Al-Falah di daerah Orchard (karena habis itu biasanya langsung makan siang dan plesir belanja), tapi hari ini karena menunggu kedatangan istri yang kemarin ketinggalan pesawat, jadi saya shalat di sekitaran hote saja.

Hotel saya yang satu kompleks dengan Rumah Sakit berlokasi di dekat Little India. Dari hasil pengecekan Google Map, masjid terdekat dari hotel namanya Masjid Angullia. Jarak cukup dekat, hanya 650 meter. Oke sip.

Jadilah saya segera berjalan ke sana. Continue reading

Ke Bandara, Lebih Baik Naik Kereta!

Begitulah kesimpulan saya hari ini. Bermaksud hanya untuk coba-coba Kereta Bandara Railink, ternyata pilihan saya tersebut menyelamatkan saya dari terlambat naik pesawat.

Sementara itu Elok, istri saya yang harusnya berangkat bersama saya, seperti biasa menggunakan mobil ke Bandara. Sungguh sial, terjadi kemacetan parah di jalan tol. Kabarnya ada truk terguling yang menyebabkan jalanan macet total. Sudah berangkat dari kantornya 3.5 jam sebelum jadwal keberangkatan ternyata tidak cukup untuk menembuh kemacetan parah tersebut. Hiks, she missed the flight. Jadilah saya terbang sendirian.

Sebetulnya rencana naik kereta ini juga kebetulan. Karena sopir saya tidak masuk kerja hari ini, saya jadi terpikir untuk mencoba kereta bandara. Niat awalnya seperti yang sudah-sudah, yaitu naik taksi atau pergi ke Bandara bersama istri saya. Tapi karena ingin mendapatkan pengalaman baru (dan membagikannya melalui blog ini), maka saya memutuskan untuk mencoba naik kereta. Continue reading

Back to Rainbow Hills

Terakhir main di Rainbow Hills ini Maret lalu. Ini lapangan emang jauh banget, dari exit Sentul City aja masih 20 menit lagi nyetir at least. But the fresh air, beautiful scenery and vibe of mountain side, make up for it. Apalagi mainnya sama teman-teman yang selalu riang, berapapun skornya 😄😉

PS: geez, I do sound like coming from Jaksel, ya gak sih? 😝

Bertemu Suhu dan Teman Lama

Hari ini kembali ke almamater untuk sumbang pengalaman dan tenaga. Bertemu Pak Hani Handoko, mantan dosen pembimbing, suhu, sekaligus figur yang “menjerumuskan” saya ke bidang SDM.

Sebelumnya makan soto bang husen yang sudah lama sekali tidak terjamah, bersama teman lama dengan segudang tawa dan cerita masa lalu yang tak pernah kadaluarsa. Alhamdulillah nikmat.

Hujan Tak Padamkan Energi Asia

Hujan yang deras mengguyur Jakarta sejak sore tadi malam tidak menyurutkan animo warga Jakarta untuk berpesta dalam closing ceremony Asian Games 2018. Puluhan ribu orang mendatangi kawasan GBK menempuh kemacetan, dengan badan kuyub dan sepatu basah terkena lumpur.

Saya yang baru datang dari Padang termasuk dalam kelompok ini. Karena pesawat baru mendarat jam 3 sore lewat, saya sekeluarga termasuk yang terlambat untuk hadir di GBK. Saat itu, sudah banyak teman kami yang telah duduk manis di dalam stadion. Jadilah kami bergegas dari airport menuju Senayan. Jalan tol Bandara-Grogol memang lancar, tapi memasuki Semanggi sudah tercium efek Asian Games. Macet.

Akhirnya setelah 15 menit dalam kemacetan Semanggu, kami berhenti di depan Graha Niaga, tepat saat hujan mulai turun. Sudah tampak antrian yang padat dan mengular di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) busway Senayan. Ribuan orang terlihat antri masuk ke kawasan GBK. Alamak.

Continue reading