SIF Fellowship Story: Susahnya Menjadi ‘Gelandangan’ di Singapura

In the Middle of Orchard Road,
In the Middle of the Night

6 bulan di Singapura tentu saja tidak hanya kita isi dengan kehidupan di seputar kampus. Pada saat akhir pekan, apabila tidak ada acara yang dijadwalkan oleh SIF, sesama SIF student fellows biasanya meluangkan waktu untuk menjelajahi Singapura dan berkunjung ke tempat-tempat yang menarik perhatian. Pada suatu minggu, saya, Nurwi, Usman (tiga fellows yang mewakili UGM) berencana untuk menyaksikan ‘night life’ dari Singapura bersama dengan Ubai (fellow dari Universitas Indonesia). Kami berpikiran untuk menghabiskan malam di kawasan Orchard Road, mencari tahu aktivitas kawula muda Singapura di kawasan yang paling terkenal di Singapura tersebut.

Malam itu kami mulai dengan makan malam di salah satu food court di Orchard Road. Seusai makan malam, kami duduk-duduk di pelataran Centre Point mall menghabiskan waktu. Kebetulan saat itu kami bertemu dengan seorang warga Indonesia dari Medan yang sedang menunggui saudaranya yang sedang dirawat di Mt. Elizabeth hospital. Teman baru kita tersebut membawa rokok kretek Indonesia, dan menawarkannya kepada kita yang sudah berbulan-bulan tidak mencicipi aroma kretek. Entah karena nikmat aroma rokok kretek tersebut, atau karena serunya topik perbincangan dari masalah politik Indonesia sampai sepakbola nasional, kami ngobrol hingga tak terasa waktu sudah mencapai tengah malam.

Teman baru kami itu pun lalu pulang kembali ke rumah sakit, meninggalkan kita yang baru sadar bahwa seluruh mall sudah tutup dan selain sekumpulan anak muda berpakaian aneh yang baru keluar dari diskotek, tidak ada hal lain yang menarik untuk kami amati di Orchard Road. Rasa kantuk pun tiba, dan kami mulai berpikir untuk pulang kembali ke asrama kampus. Tapi bagaimana? MRT paling awal hanya akan beroperasi dalam 4 jam dan bis sudah tidak beroperasi lagi lewat tengah malam. Pilihan satu-satunya adalah taksi. Hanya saja, setelah lewat tengah malam, taksi di Singapura akan mengenakan surcharge, yang bagi kantong mahasiswa pas-pasan seperti kita, sangat tidak friendly. Akhirnya kita berpikiran untuk merebahkan diri saja, berusaha tidur di pelataran Centre Point. “Gelandangan style”.

Belum 15 menit kami berusaha tidur, satpam mall Centrepoint keluar, dan dengan muka garang mengusir kami dari situ. Dia pun menakut-nakuti kami kalau sebentar lagi polisi akan datang, dan akan menangkap bagi siapa saja yang mabuk. Yah, walaupun kami tidak dalam keadaan mabuk, we got the message, dan segera mengikuti perintahnya untuk beranjak dari Centrepoint.

Pikiran kami lalu tertuju kepada Masjid Al-Falah, yang terletak di Cairnhill Road belakang kawasan Orchard. Mungkin rasa kantuk kami mengelabui rasionalitas kami bahwa kami tidak lagi berada di Indonesia, di mana masjid selalu terbuka untuk siapa saja dan kapan saja. Benar saja, sesampainya di sana, kami mendapati masjid yang tertutup rapat dan gelap gulita. Harapan untuk tidur di karpet masjid yang bersih dan empuk pupus sudah.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan mencari tempat beristirahat malam itu. Benar-benar sulit! Tidak ada tempat umum sepanjang jalan Orchard yang dapat kami ‘tiduri’ tanpa terlihat oleh patroli polisi yang kemudian menghampiri kami dan meminta kami untuk segera pergi dari sana dan pulang ke rumah. Kami pun melanjutkan perjalanan menjauh dari Orchard yang polisinya tidak bersahabat untuk ‘gelandangan’ seperti kami.

Sampai akhirnya kami melewati stasiun MRT City Hall dan melihat pintu masuknya terbuka seperempat. Ya, hanya seperempat. Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, kami menerobos masuk lewat celah pintu yang terbuka dan masuk ke dalam stasiun. Kami pikir saat itu, ini adalah tempat istirahat yang ideal, karena dalam beberapa jam lagi MRT akan mulai beroperasi dan kami akan bisa langsung naik MRT kembali ke kampus.

Rencana kami ini hampir berhasil. Saya, Nurwi dan Ubai sudah mengambil salah satu pojok stasiun yang cukup tersembunyi untuk merebahkan badan, saat Usman, entah kenapa, memutuskan untuk menghampiri salah satu ATM dan berusaha untuk melakukan transaksi di sana. Andaikan Usman tidak bermain-main dengan tombol ATM tersebut, mungkin kita tidak akan terlihat menerobos masuk ke dalam stasiun. Tapi mungkin Usman lupa, setiap ATM di Singapura dilengkapi dengan CCTV. Dan tentu saja, ‘penampakan’ seseorang di depan ATM di dalam suatu stasiun yang tutup untuk umum di dini hari merupakan pemandangan yang sangat mencurigakan!

Alhasil, sekelompok petugas keamanan stasiun bergegas keluar dari markasnya dan mengampiri Usman di ATM dan kami yang sedang mulai untuk tidur. Mereka menggeledah dan menginterogasi kami. Beruntung kami tidak lupa membawa paspor dan kartu pelajar kami, sehingga setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya mereka melepaskan kami dari stasiun dan diminta untuk pergi menjauh.

Pada saat itu waktu sudah kurang 1 jam dari MRT pertama untuk beroperasi. Jadi lagi-lagi kami harus ‘menggelandang’ di sekitar MRT, menghabiskan waktu, sambil menertawakan nasib dan pengalaman unik kami ini. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa Singapura ini benar-benar merupakan negara maju, bahkan untuk menjadi gelandangan saja sulit di negara ini!

 

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Fellowship Story: Internet on The Rise

I Am Sitting in One of Computer Lab in NTU

Di tahun 1996, internet dan world wide web masih dalam taraf permulaan adopsi massal. Saya sudah tahu akan internet dan telah mendengar istilah ‘www’ saat masih berada di Yogyakarta, tapi karena keterbatasan biaya dan konektivitas, belum benar-benar aktif menggunakan dan mengetahui kekuatan revolusi teknologi ini sampai saya sekolah di Singapura.

Perkenalan dengan internet dimulai saat melakukan pendaftaran mahasiswa di kampus NTU di Jurong. Setiap mahasiswa baru diberikan satu alamat e-mail yang hanya bisa digunakan pada sistem e-mail kampus yang terletak di laboratorium komputer di gedung kuliah ataupun asrama. Nama e-mail tersebut sama sekali tidak user-friendly, yakni nomor mahasiswa dengan 7 digit angka dan 1 huruf. Saya ingat harus mencatat setiap email sesama rekan SIF dalam notepad saya karena belum ada fungsi ‘address book’ untuk menyimpan alamat email tersebut. Sejak itu, tiada hari yang dilewatkan tanpa mengecek email dari sesama rekan SIF, berkomunikasi mengenai rencana di akhir pekan, berdiskusi soal kondisi politik di negara masing-masing, ataupun hanya untuk urusan sepele seperti pacar dan sepakbola. Saking ‘ketagihannya’, apabila ada kuliah jam 8 atau 9 pagi, saya akan buru-buru bangun pagi dan bergegas pergi ke kampus untuk mengunjungi laboratorium komputer terlebih dahulu yang mulai buka jam 7.30. Begitu pula di antara jam kuliah dan saat usai kelas, saya tak lupa menengok laboratorium komputer untuk melihat apakah ada komputer yang sedang ngganggur tidak digunakan. Maklum saat itu jaringan internet belum sampai ke kamar asrama, sehingga untuk mendapatkan komputer nganggur juga membutuhkan perjuangan.

Di jaman itu, browser yang paling sering digunakan bukan lah Internet Explorer, tapi Netscape Navigator. Dan Google masih belum tampil di garda depan mesin pencari. Untuk keperluan ini umumnya kita menggunakan Yahoo! dan Altavista. Berbekal tengok kanan dan tengok kiri dari layar pengguna komputer di laboratorium komputer NTU, saya kemudian mulai mengumpulkan situs-situs favorit yang setiap hari di akses: Soccernet.com, NBA.com dan Hotmail.com.

Hotmail.com sendiri merupakan fenomena kala itu. Salah seorang rekan menemukan layanan email gratis ini, dan kemudian menyebarkan kabar ini ke rekan-rekan yang lain, kalau ada email yang dapat menyediakan “user name yang bisa kita pilih sendiri”. Big feature at that time. Itulah tonggak sejarah bagi sebagian besar dari kita: email account pribadi pertama dalam hidup kita. Berlomba-lombalah kita membuka account Hotmail dengan beragam nama. Ada yang menamai account mereka dengan nama asli, ada yang menamai dengan nama pacar, adapula yang menamai dengan nama pemain sepakbola kesayangan. Email account saya sendiri ibenimages@hotmail.com, saat ini sudah tidak aktif sejak Hotmail diakuisisi oleh Microsoft.

 

Baca juga tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Fellowship Story: Metode Pengajaran Yang Berbeda

I took a picture at the front of Nanyang Technological University Main Building

Dalam satu semester di NTU, saya hanya mengambil tiga mata kuliah: Commercial Banking Management, Management Information System dan Total Quality Management (big management hype that time). Karena saya sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah wajib di UGM, saya tidak perlu “kejar setoran” untuk mengambil banyak mata kuliah dan mentransfer kredit ke UGM. Saya hanya mengambil mata kuliah yang menarik untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru di Singapura. Tapi ternyata metode kuliah di Singapura berbeda dengan di UGM. Hanya mengikuti 3 mata kuliah sudah cukup membuat saya sibuk untuk mengikuti kelas dan membaca bahan-bahan bacaan yang diwajibkan.

Saya memiliki pengalaman menarik saat mengikuti kuliah Commercial Banking Management. Mata kuliah ini disampaikan dalam dua kelas: general lecture, kelas besar dengan seratus lebih mahasiswa, dan tutorial class, kelas dengan kurang lebih 30 orang mahasiswa per kelasnya untuk mempelajari materi secara lebih detil. Pada saat pertama kali saya hadir di dalam general lecture class, sang dosen bertanya kepada mahasiswa di kelas saya, siapa di antara kita yang dapat menjelaskan mengenai Michael Porter’s Three Generic Competitive Strategy. Melihat tidak ada mahasiswa yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut, saya mengacungkan tangan dan menjawab. Tanpa saya sangka setelah saya menjawab pertanyaan tersebut sang dosen memberikan pujian dan mengatakan saya sebagai “one of my brightest student in class”. Saya heran, karena menurut saya, Porter Generic Strategy tadi awam diketahui oleh mahasiswa manajemen di UGM. Apabila sang dosen bertanya di kelas jurusan Manajemen di UGM, saya yakin bukan saya saja yang mampu menjelaskan hal tersebut.

Keheranan saya terjawab saat kelas telah usai.

Seorang teman kelas saya dari Singapura menghampiri dan bertanya, “Ibnu, where did you read on that lecturer’s question?”

Saya jawab, “From Michael Porter’s book, Competitive Strategy”

“Ow, on which lecturer note was that?”

“It was not on lecturer notes.”

“What? So where did you get that book?”, tanyanya lagi penasaran.

“Oh, it’s just a business book that I read on my spare time”

Teman kuliah saya tak menyembunyikan rasa terkejutnya mendapati saya membaca buku yang tidak ditugaskan oleh dosen. Di Singapura, ujarnya, mahasiswa akan fokus untuk mempelajari buku, artikel ataupun referensi yang dicantumkan dalam lecture notes (panduan yang diberikan oleh dosen). Jarang sekali mereka dan teman kuliah lainnya di Singapura yang memiliki waktu (atau ketertarikan) untuk membaca buku bisnis lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah mereka. Mendengar penjelasannya, saya merasa bangga menjadi mahasiswa UGM. Bangga dengan luasnya wawasan  mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan mahasiswa Singapura.

With the Professor and Class mates of “Advanced Total Quality Management” class in Nanyang Technological University

Sampai pada beberapa hari kemudian, saat jadwal tutorial class untuk mata kuliah yang sama tiba. Berbeda dengan general lecture class, tutorial class diadakan di kelas yang lebih kecil. Pada hari pertama tutorial class, saya datang ke kelas dan sang dosen pun langsung mengenali saya, “Ah, my brightest student from Indonesia, how are you?” sapanya. Saya hanya tersenyum, merasa bangga karena berhasil menghadirkan first impression positif kepadanya.

Tak lama kemudian, ia membuka kelas dan tanpa banyak berbicara ia langsung bertanya, “Ok guys, do you have any questions for me?”

Belum hilang rasa terkejut saya karena tidak terbiasa dengan dengan pertanyaan mendadak dari sang dosen, saya lebih terkejut lagi melihat hampir setengah dari teman kuliah saya di kelas tersebut mengacungkan tangan. Dan satu per satu dari mereka menanyakan pertanyaan demi pertanyaan yang kritis, dalam, dan jelas menunjukkan bahwa mereka sudah membaca lecture notes yang diberikan. Sementara saya, yang datang tanpa persiapan ke tutorial class, hanya bisa menundukkan wajah dan membolak balik buku, enggan menatap wajah dosen saya, karena saya malu, saya tidak punya pertanyaan untuk diajukan, karena saya belum membaca!

Barulah saya menyadari perbedaan antara mahasiswa di Singapura dan di Indonesia, paling tidak di UGM tempat saya kuliah saat itu. Mahasiswa Singapura akan dengan tekun dan disiplin membaca setiap bacaan wajib yang diberikan. Mereka akan membaca halaman per halaman, paragraf per paragraf. Sementara itu, saat kita kuliah di UGM, entah karena kurangnya panduan dari dosen atau karena memang bawaan sistem pendidikan sejak kecil, kita jarang membaca buku sebelum masuk ke kelas.  Kalaupun mau, kita hanya membaca sebagian dari buku wajib tersebut. Kita cenderung memilih-milih bagian buku, membaca permukaannya saja tanpa pemahaman yang mendalam, atau bahkan membaca artikel lain yang lebih menarik perhatian kita.

Kedua budaya belajar yang berbeda ini mungkin ada dampak positif dan negatifnya. Tapi dari pengalaman saya ini, saya menjadi sadar mengapa Singapura berhasil menjadi negara layanan jasa yang berhasil. They may not know a lot of things. They may only able to do certain things. But they do it well. Very well. 

Baca tulisan sebelumnya: SIF Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Fellowship Story: Singapura dan Multi Etnisnya

My SIF Fellows from Singapore: (left to right) Jason, Jon, Jingxiang, Desmond and Choong Hong

Mengunjungi Singapura untuk pertama kalinya membuka mata saya sesungguhnya akan negara kota ini. Terus terang sebelum benar-benar bermukim di Singapura, saya tidak pernah menyangka Singapura adalah negara yang mayoritas populasi warganya dari etnis keturunan Cina. Mungkin persepsi ini terbentuk karena selama ini saya mengetahui Singapura terbatas pada tim sepakbola nasional Singapura. Pemain-pemain terkenal mereka selain David Lee sebagian besar adalah pemain etnis Melayu atau India, seperti Fandi Ahmad, Malek Awab, Nazri Nasir dan Sundramoorthy.

Ternyata kenyataan yang saya temui jauh berbeda. Kesan pertama adalah saat berkenalan dengan sesama penerima beasiswa SIF Visiting Student Fellows dari Singapura. Seluruh rekan saya penerima beasiswa itu adalah etnis Cina. Tinggal di dormitory mahasiswa di NTU, saya segera dapat mengamati bahwa sebagian besar teman asrama saya adalah etnis keturunan Cina. Room mate saya, anak janitor yang saya ceritakan pada kisah sebelumnya, juga seorang etnis keturunan Cina yang banyak bercerita mengenai leluhurnya yang dulu tinggal di Johor Malaysia, namun kemudian harus bermigrasi ke Singapura saat terjadi konflik etnis Singapura-Malaysia di tahun 50an.

Menyadari bahwa warga negaranya terdiri dari kaum multi-etnis (walaupun didominasi oleh etnis Cina), Pemerintah Singapura secara konsisten berusaha untuk memerangi rasisme melalui pemberian informasi multi-bahasa dalam setiap komunikasi resmi pemerintah, ataupun pemberian kesempatan kerja dan belajar yang sama kepada warga negaranya.

Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan etnis masih membentuk perilaku hidup masyarakat di Singapura saat itu.  Satu contoh kecil yang saya selalu amati adalah saat berada di pusat keramaian, entah itu di mall ataupun di MRT (Mass Rapid Transportation system). Kecenderungannya adalah setiap etnis akan berkumpul dengan sesama etnisnya. Dan apabila diperhatikan, mereka umumnya berbicara dalam bahasa ibu mereka. Sesekali saja mereka berbicara dalam bahasa Inggris, bahasa yang umum dipakai dalam komunikasi multi-etnis.

Hal ini juga terjadi dalam kehidupan kampus. Suatu saat saya sempat terlibat dalam “adu pendapat” di dalam sebuah forum elektronik kampus yang membahas mengenai tim sepakbola Singapura. Menyampaikan pendapat yang kontroversial dan kurang populer di kalangan pencinta sepakbola Singapura, saya mendapatkan ‘serangan’ dari berbagai penjuru pengunjung forum. Salah satu serangan tertajam berasal dari sebuah user yang belakangan saya ketahui sebagai seorang muslim Singapura dari etnis Melayu. Sang user ini menghujani account saya dengan berbagai komentar pedas dan bahkan mengumumkan ke seantero forum bahwa saya adalah mahasiswa asal Indonesia yang patut diserang. Hal ini berlangsung selama beberapa hari, sampai pada suatu hari si user ini mengetahui siapa saya (khususnya mengenai apa agama dan etnis saya). Seketika itu pula, ia menghentikan serangan, meminta maaf dan bahkan kemudian menjadi sangat akrab dengan saya saat bertemu dalam kegiatan mushola kampus NTU.

Parahnya, tanpa saya sadari, saya pun menjadi ‘terjebak’ untuk akrab dengan stigma ini. Dan hal ini sempat membuat saya malu pada saat saya bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia berketurunan tionghoa yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Singapura untuk kuliah di NTU. Dalam satu perbincangan di laboratorium komputer asrama, saya sempat mengingatkan rekan mahasiswa tersebut (mungkin setengah menuduh) untuk tidak melupakan negara Indonesia hanya karena ia dibiayai oleh perusahaan Singapura, dan secara asal usul ia lebih dekat kepada Singapura daripada Indonesia yang sebagian besar beretnis Melayu.

Respon dari mahasiswa Indonesia tersebut sangat mengejutkan saya. Nyata sekali ia tersinggung. Dengan nada tinggi ia berkata, “Mas Ibnu, saya hanya mengenal satu tanah air, yakni Indonesia. Saya dilahirkan di sana, dan itulah negara saya. Bahkan di antara rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia, kami selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah bahasa kita”.

Saya tertegun, menyadari benarnya ucapan tersebut. ‘Tuduhan’ saya sangat tidak beralasan. Saat itu pula saya baru menyadari arti penting penanaman jiwa kebangsaan dan nasionalisme Indonesia dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia. Tanpa pergi dan hidup di antara masyarakat negara lain seperti Singapura, pemikiran ini tak akan pernah hinggap dalam diri saya.

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Fellowship Story: Peningkatan Kualitas Hidup

Mahasiswa Penerima Beasiswa SIF Batch 1996 di Nanyang Technological University

Selain memberikan tambahan pengalaman dan teman, terpilihnya saya sebagai salah satu penerima beasiswa SIF juga memberikan keuntungan peningkatan taraf hidup saya sebagai mahasiswa. Di dalam program beasiswa ini, setiap mahasiswa mendapatkan allowance setiap bulannya. Saya tidak ingat persis berapa jumlah allowance tersebut, tapi yang jelas sangat cukup untuk hidup mahasiswa berkecukupan di Singapura. Sebagai perbandingan, dengan menggunakan teori Purchasing Power Parity, apabila saya membandingkan jumlah allowance yang saya dapat dengan jumlah uang bulanan yang biasa saya gunakan di Yogyakarta, maka biaya saya untuk membeli satu kaleng Coca Cola di Singapura adalah relatif sama dengan saya membeli es teh manis di Yogyakarta. Tak heran saya sering menyatroni vending machine di Hall asrama kampus saya, dan kebiasaan itu terbawa karena hingga kini saya menjadi penggemar berat Coca Cola.

Melalui analisis Purchasing Power Parity ini pula lah saya juga kemudian menemukan suatu kesempatan untuk menabung dan membeli barang yang saya idam-idamkan: kamera. Caranya adalah dengan menghemat uang makan.

Awalnya adalah saat saya menemukan mie instant Indomie dijual di Student Store NTU. Pada saat itu harga sebungkus dari Indomie ini adalah sebesar $0.30. Harga yang sangat murah sebagai substitusi makanan kantin di kampus, yang makanan termurahnya $2.50. Karena untuk ukuran perut mahasiswa satu bungkus kurang ‘nendang’ biasanya untuk dapat makan dengan kenyang kita perlu dua bungkus, dan itupun berarti biaya yang kita keluarkan masih murah, hanya $0.60. Perbedaan harga yang cukup jauh (75% lebih murah) inilah yang membuat saya berpikir ini dapat menjadi pos tabungan.

Bandingkan dengan kondisi di Yogyakarta saat itu: harga dua bungkus Indomie adalah 800 rupiah, tidak beda jauh dengan satu piring nasi beserta lauk dan sayur yang bisa kita dapatkan seharga 1000 rupiah. (hanya 20% lebih murah). Kalaupun mau menabung, tidak signifikan.

Oleh karenanya, mulailah saya berhitung. Dalam benak saya, apabila setiap malam saya hanya makan Indomie Goreng, maka setiap hari saya akan berhemat sebesar $1.90. Andaikan selama 4 bulan saja saya seperti ini terus, maka saya akan dapat mengumpulkan uang sekitar $228, suatu jumlah yang lumayan pada saat itu untuk tambahan uang membeli kamera. Tanpa memikirkan masalah kesehatan dengan pola makan yang menyimpang ini, “Operasi Indomie” saya berhasil membuat saya menenteng kamera Nikon F70 saat pulang dari Singapura. Alangkah bahagia.

Saya dan Room Mate di Hall 9 NTU

Ada cerita lain yang kurang lebih masih berhubungan dengan taraf hidup. Hidup di Singapura juga memberikan saya pemahaman bahwa negara yang lebih maju mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik bagi warga negaranya. Roommate saya di asrama kampus NTU memiliki kebiasaan hidup sehat yang hanya bisa diimpikan oleh sebagian besar mahasiswa UGM saat itu. Selesai kuliah, ia biasanya akan berolahraga dengan berenang selama satu jam. Ia memiliki sebuah kulkas mini di dalam kamar asrama yang selalu diisi pisang atau apel dan susu segar. Seusai berenang dan setelah makan malam, ia akan tekun belajar, dan setelah selesai belajar ia akan makan pisang atau apel, dan minum satu gelas susu sebelum tidur. Betul-betul pola hidup 4 sehat 5 sempurna! Bandingkan dengan hidup saya di Yogyakarta yang seringkali tidak sarapan demi menghemat uang!

Namun hal itu tak akan terlalu mengejutkan bagi saya, sampai pada suatu hari kami berbincang-bincang akrab di dalam kamar sebelum tidur. Kami berbagi kisah mengenai latar belakang diri kita masing-masing dan keluarga yang kita miliki. Dalam perbincangan inilah, saya baru tahu kalau orangtua roommate saya ini hanya bekerja sebagai seorang petugas kebersihan kamar mandi (janitor).

Saya langsung membayangkan: bagaimana gaya hidup mahasiswa yang merupakan anak dari pekerja kantoran Singapura?

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

SIF Batch 1996
SIF Asean Visiting Student Fellows Batch 1996 Took Picture Together During Reunion in Singapore, October 2010

Saya tak akan pernah melupakan hari itu, sore hari di kamar kontrakan saya di bilangan Pogung Baru Yogyakarta, di pertengahan bulan Februari tahun 1996. Terbangun dari tidur siang, saya mendapati amplop tebal oranye di depan pintu kamar. Melirik ke asal negara perangko di ujung kanan atas, hati saya tercekat. Berita baik yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang: saya terpilih sebagai salah satu Singapore International Foundation Asean Visiting Student Fellow.

Di dalam konstelasi kehidupan mahasiswa di Universitas Gadjah Mada pada tahun tersebut, beasiswa “SIF”, demikian akrab dikenal, merupakan suatu beasiswa yang prestisius dan populer, terutama di kalangan aktivis organisasi kemahasiswaan. Karena tradisinya untuk memilih mahasiswa yang tidak hanya berprestasi akademik baik (sebagaimana layaknya program beasiswa lain), tapi juga berkiprah aktif di organisasi kemahasiswaan.

Beasiswa ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa terpilih untuk menjalani 1 semester penuh di Nanyang Technological University (NTU) ataupun National University of Singapore (NUS). Di dalam konsepnya, dalam waktu 1 semester tersebut, penerima beasiswa akan bermukim dan dikenalkan lebih jauh mengenai kehidupan negara Singapura. Menariknya, beasiswa ini tidak hanya diberikan untuk mahasiswa dari Indonesia, namun juga mahasiswa dari Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina. Saya terpilih sebagai 1 dari 3 mahasiswa wakil dari Universitas Gadjah Mada, dari total keseluruhan 11 mahasiswa Indonesia dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran dan Universitas Brawijaya.

Sebagai seorang anak yatim piatu yang mengandalkan honorarium sebagai asisten dosen untuk hidup, terpilihnya saya sebagai SIF Fellow membawa problematika tersendiri. Ini adalah kali pertama saya akan pergi ke luar negeri, dan karenanya saya belum memiliki paspor. Pada saat itu biaya pembuatan paspor tidak terjangkau untuk kantong saya yang pas-pasan. Beruntung, dengan memohon bantuan beberapa saudara ibu saya, saya akhirnya dapat memperoleh paspor dan siap berangkat ke Singapura.

Dalam perjalanannya, keikutsertaan saya dalam SIF Visiting Student Fellowship Program benar-benar menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup saya. Di dalam program ini lah saya dapat menemukan pengalaman-pengalaman menarik yang membuka mata saya mengenai dunia di luar Indonesia dan Singapura secara khusus. Saya juga dapat bertemu dan bertukar wawasan dengan rekan-rekan mahasiswa cemerlang sesama penerima beasiswa SIF dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Singkat kata, kendati hanya berjalan kurang dari 6 bulan, program ini memberikan saya pengalaman dan teman baik yang  akan selalu saya miliki seumur hidup. Berikut beberapa kisah singkat menarik sekitar pengalaman saya dalam 6 bulan yang luar biasa dalam hidup saya ini. Silahkan meng-klik link pada kisah singkat di bawah ini untuk membaca, enjoy!