Belajar dari Dave Ulrich

Pengenalan saya pertama kali dengan Dave Ulrich terjadi pada tahun 1999. Saat itu manajer saya di sebuah firma konsultasi internasional baru saja pulang dari Amerika Serikat seusai menghadiri konferensi tahunan. Beliau membawa “oleh-oleh” buku Human Resources Champion karangan Dave Ulrich, yang relatif baru dirilis di Amerika Serikat. 

Saya ingat waktu itu konsep yang diusung oleh Professor Dave di buku tersebut, mengenai empat peran fungsi HR (sebagai Strategic Partner, Administrative Expert, Change Agent dan Employee Champion), masih merupakan konsep yang baru dan belum banyak diadopsi oleh perusahaan. Saat itu saya sedang ditugaskan dalam dua proyek pengembangan fungsi SDM di perusahaan teknologi dan tambang terkemuka di Indonesia. Dan berkat buku tersebut, kami berhasil mengusulkan rekomendasi yang valuable dan diterima oleh klien. Dalam 3-4 tahun ke depan sesudahnya, konsep empat peran fungsi HR ini yang menjadi “andalan” kami dalam berjualan ke klien, dan berkontribusi dalam pengembangan fungsi SDM di industri Indonesia. 

The humble professor in action

Continue reading

Advertisements

Teaching is My Passion

Actually teaching is my passion. Found a lot of energy to do this, and gained a lot more after. Therefore I was glad to have opportunity to share my knowledge and experience in MM UGM this evening. Maybe I should do this more often, or change it to full time profession? Hahaha. 

Kaká dan Strategi Kompensasi Karyawan

Kaka Stay at Milan
Di awal tahun 2009 bursa transfer sepakbola diramaikan dengan aksi tim Manchester City untuk mendapatkan sederet pemain bintang. Dengan bekal kekuatan finansial pemilik barunya, Abu Dhabi United Group Investment and Development Limited, manajemen “The Citizens” terlihat yang paling aktif dalam memburu pemain-pemain bintang dengan tawaran yang gila-gilaan.

Salah satu tawaran yang paling hangat diberitakan adalah tawaran Manchester City untuk membeli Kaká, bintang AC Milan dari Brazil, dengan nilai transfer lebih dari 100 juta poundsterling! Sebagai catatan, rekor transfer tertinggi di dunia sampai saat ini masih dipegang oleh Zinedine Zidane, saat Zidane dibeli dari Juventus ke Real Madrid seharga 46 juta poundsterling. 

Kaká sendiri, dikabarkan diiming-imingi oleh Manchester City 10 juta pound sebagai signing-on fee, dan gaji sebesar 15 juta pound setahun. Hal mana yang akan membawa Kaká sebagai pesepakbola dengan gaji tertinggi di dunia dengan gaji lebih dari 280.000 pound per minggu (sekitar 4,7 milyar rupiah!). Sekedar info, sebelum ditawar oleh Manchester City,  gaji Kaká sudah merupakan salah satu gaji tertinggi di dunia, yakni sebesar 166.000 pound per minggu. Apabila ia menerima tawaran Manchester City, berarti Kaká akan menerima kenaikan gaji sebesar 84%!

“Hanya orang gila saja yang menolak tawaran sebesar itu”, demikian mungkin gumam Anda.

Continue reading

Resensi Buku ‘Harus Bisa!’: Kepemimpinan ala SBY

Cover Buku Harus Bisa!
Cover Buku Harus Bisa!

Saya adalah penggemar buku-buku yang bertemakan kepemimpinan. Selama ini buku-buku dari Jack Welch, Bill Gates sampai Tiger Woods dan Jose Mourinho sudah banyak saya baca. Tapi jujur saja, saya sudah lamat tidak membaca buku biografi kepemimpinan dari orang Indonesia. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin buku yang terakhir adalah buku otobiografi mantan Presiden Soeharto di saat saya masih SMP (kalau tidak salah bukunya berjudul “Soeharto, Bapak Pembangunan”. Tidak banyak yang saya ingat dari buku tersebut, kecuali cover bukunya yang dilukis secara brilyan oleh Basoeki Abdullah. Namun seingat saya, buku tersebut banyak dikomentari oleh orang sebagai buku “promosi Pak Harto”, atau “buku propaganda”. Saat itu saya masih terlalu kecil untuk dapat memahami arti hal tersebut, tapi yang jelas buku tersebut sempat menarik minat saya karena banyak cerita dan foto-foto liputan kegiatan Pak Presiden yang membuat saya mengagumi sosok beliau.

Hal yang sama saya rasakan saat pertama melihat buku ‘Harus Bisa!’ karangan asisten Presiden SBY, Dino Patti Djalal, di Gramedia beberapa waktu yang lalu. Saat saya membolak balik beberapa halaman, saya terkesan dengan suatu foto yang begitu indah, foto saat helikopter Presiden SBY beranjak dari Pasema, Jayawijaya, Papua. Foto ini menarik minat saya untuk membaca secara singkat tulisan yang datang bersamanya. Gaya penulisan yang berbentuk cerita dan penuh fakta-fakta menarik dan foto-foto yang eksklusif membuat saya memutuskan untuk membeli buku ini. Continue reading

The Secret Life of Footballer-by David Bentley

Read this piece of interview on Guardian Football site. An interesting piece to read on English football players life. I cut-and-paste some of the most interesting part of the interview. Oh, in case you don’t know, David Bentley is currently a Blackburn Rovers’ forward. He has won several caps for England team, and is getting into be an England regular. He is a down-to-earth guy, and likes to show his mind known to others. Like what you will read in this interesting interview.

Addiction is one of the pitfalls of being a footballer. It stems from being so focused on the game – in order to be good at what we do we have to be obsessed with it. Also, we have a lot of free time. The best thing that’s happened to footballers is DVD box sets. Watch those in the afternoons and they’ll keep your mind occupied. Although once I get started on one I’ll be up until 4am just to finish the set.

The craziest thing about football and celebrity is the whole PR machine that’s grown up around it. PR agencies are constantly churning out images of footballers looking glamorous on red carpets – people begin to believe that’s actually how you live your life. It’s a complete illusion.

Some people plan it all. Their PRs tell the papers which club they’re going to, or which shops their missus can be seen walking out of. It’s part of a whole lifestyle. People like Jodie Marsh and Danielle Lloyd are driven by it – they crave being photographed. I know there are people who could arrange things for my missus if she wanted to raise her profile.

A footballer could go out every night of the week and never get photographed if he wanted to. But because so many of them choose to go to certain clubs where the paparazzi camp out, they end up in the papers. It’s never going to happen if you go for a quiet pint at your local, is it?

People say I’m the new David Beckham. I don’t mind that at all, it’s nice being compared to a legend. I grew up watching him and admiring him, and I still do. He’s better looking than me, though. Much. You can actually lose yourself thinking about what a good-looking guy he is. And he’s even better close up. My missus says I’m more rugged, whatever that means.

With all of that going on you need strong leadership from your manager to keep you focused. My gaffer at Blackburn [Mark Hughes] gives me that. He won’t try to be your friend, having a laugh and a joke. He doesn’t want to sit down for coffee. He and Mr Capello are my favourite kind of manager: disciplined. You give a player an inch and they’ll take a mile, that’s just the way young rich footballers are. We need managers to rein us in. It’s a bit like when you’re at school – if you have a strict teacher, you respect them; if you have a teacher that’s always larking about, you lark about yourself. We need to be kept on a leash, otherwise we lose our focus.

Anything different and the team stops winning. I’ve seen it happen. You look at the clubs that are struggling in the Premier League and it’s always for those same reasons. Players have to be controlled, if they’re not it’s a disaster. Look at Newcastle (damn! he’s talking about my team! LOL).

Under the guidance of Mr Capello I can see things going only one way. With him we could win the World Cup. If it was solely down to individual talent we would already be the best team in the world, we just need to learn to play together and we will do well. I’d put money on it, if I gambled.

Kurva Normal dan Starting Eleven

Suatu hari ada salah seorang karyawan di tempat saya bekerja menanyakan saya pertanyaan berikut:

“Pak, saya sudah bertahun-tahun kerja di sini, tapi belum mendapatkan kesempatan promosi. Eh, ada orang yang lebih baru dari saya malah sudah naik pangkat lebih dulu”

Terus terang, dalam kurun waktu saya menekuni profesi saya di bidang SDM, sudah sering sekali saya dihadapkan pada pertanyaan (atau mungkin lebih tepatnya keluhan) seperti di atas.

Dalam beberapa kesempatan saya sering kali menjawab keluhan di atas dengan menganalogikan dengan kondisi yang selalu ditemui di dunia sepakbola: fight for the place in the team. Begini kira-kira jawaban yang sering saya sampaikan:

Continue reading

Hard Nosed Leadership

“In my football management career, I won a lot of trophies, but very few friends”

Ini merupakan kalimat Fabio Capello, manajer baru tim nasional Inggris, yang dengan gamblang menjelaskan gaya kepemimpinannya: keras, tanpa kompromi, tapi suka apa tidak, akrab dengan kesuksesan.

Lahir tanggal 18 Juni 1946 di Pieris, Italia, Capello merupakan salah satu pelatih sepakbola paling sukses di era sepakbola modern. Dalam pentas manajemen klub, mungkin hanya Sir Alex Ferguson atau Jose Mourinho pelatih aktif yang bisa disejajarkan dengannya. Serupa dengan Ferguson dan Mourinho, Capello sudah memenangkan liga domestik, piala liga, sampai piala Champions.

Namun berbeda dengan Ferguson dan Mourinho, Capello memiliki gaya kepemimpinan yang jauh berbeda. Pengamat sepakbola pasti tahu akan Ferguson sebagai “bapak” dari anak-anak tim asuhannya. The father-like figure berhasil membimbing pemain-pemain binaan Manchester United dari kecil sampai menjadi bintang besar. David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes adalah contoh dari pemain binaan Manchester United yang dalam perjalanan karirnya banyak mendapat bimbingan dari Ferguson, bahkan sampai kepada hal-hal yang bersifat pribadi (misalnya campur tangan Ferguson untuk menyarankan David Beckham tidak berkencan dengan Victoria).

Continue reading

Mourinho – An Example of a Great True Leader

“Now is the time to move out from limelight, and give the players time to celebrate what they deserved”

Jose Mourinho Lift the Premier League Trophy with Chelsea

Demikian ungkap Jose Mourinho, pelatih Chelsea, juara Liga Premier Inggris 2004/2005, tatkala diwawancarai sesuai timnya meraih tiga angka yang menjamin secara matematis tak terkejar oleh rival utama mereka, Arsenal dan Manchester United. Dengan kemenangan 2-0 di kandang Bolton Wanderers, berkat dua gol dari Frank Lampard, Chelsea meraih gelar pertama mereka di salah satu kompetisi sepakbola terberat di dunia sejak pertama kali mereka merebut gelar tersebut di tahun 1955, tepat 50 tahun yang lalu.

Dalam lanjutan wawancaranya, Mourinho tak henti-hentinya memuji semangat, determinasi dan kebersamaan timnya sepanjang musim kompetisi. Tak lupa ia menyebut nama Roman Abramovich, sebagai orang yang membuat hal ini bisa terjadi.

Abramovich? Ya, mungkin banyak orang yang juga memiliki anggapan kalau Chelsea membeli gelar juara. Ratusan juta pound dikeluarkan oleh sang milyuner Rusia untuk mendatangkan pemain-pemain kelas atas ke Stamford Bridge. Awal musim kompetisi ini saja, tak kurang dari Peter Cech, Arjen Robben, Mateja Kezman, dan Didier Drogba ditransfer dengan uang yang tidak sedikit.

Tapi menurut saya, investasi terbaik yang dilakukan oleh Abramovich bukan pada pemain-pemain tersebut, namun pada saat ia mendatangkan Jose Mourinho.

Tahun lalu, saat Mourinho membawa Porto menjadi juara Liga Champion, saya termasuk salah satu orang yang sebal melihat polah angkuh dari pelatih muda Portugal ini. Sebagai pendukung Manchester United, saya tak bisa melupakan saat peluit panjang dibunyikan di partai perempat final melawan Manchester United. Saat itu, Mourinho membuka dan mengangkat tangan tinggi-tinggi di depan pendukung Red Devils sambil berjalan menuju kamar ganti di Old Trafford. He celebrated in style. Against all people. Ia menunjukkan bahwa semangat kolektivitas timnya berhasil membungkam kumpulan pemain mahal Sir Alex Ferguson dan pendukung tim tersebut. Termasuk saya.

Masih memendam kesal, saat musim 2004/2005 baru saja dimulai, dimana Mourinho baru memulai jabatannya sebagai pelatih utama Chelsea, I really wished this guy will fail.

Now, I wish I didn’t have such wish before.

Dalam perjalanan liga kompetisi tahun 2004/2005 ini, saya baru benar-benar bisa mengamati kiprah Mourinho. Tidak hanya dalam taktik dan susunan tim yang diturunkan, namun juga dari beberapa post-match interview yang ia lakukan, dan berita-berita seputar tim Chelsea di surat kabar. Dari sumber-sumber tersebut, sadarlah saya kalau Mourinho benar-benar pelatih yang brilyan. Bukan hanya itu, he is really a great leader.

Kukuh pada Prinsip.

Mourinho, sebagaimana pemimpin karismatik lainnya, kukuh pada prinsip yang ia percayainya. Prinsipnya yang mengutamakan kolektivitas tim diletakkan di atas segalanya. Di atas Abramovich, di atas pemain bintangnya. Saat ia hendak menandatangani kontrak melatih di Chelsea, ia mengajukan prasyarat pada Abramovich bahwa keputusan untuk merekruit dan menurunkan pemain adalah mutlak hak prerogatifnya. Melatih di tim super kaya seperti Chelsea, Real Madrid, Manchester United ataupun AC Milan, dengan dukungan finansial yang begitu besar,
mudah bagi seorang pelatih untuk “tergoda” mendatangkan pemain terbaik dari seluruh dunia. Dan imbasnya, sukar bagi pelatih untuk tidak memenuhi tuntutan pemilik tim dan pendukungnya untuk menurunkan pemain-pemain yang bergaji di atas 50 ribu poundsterling seminggu. Hal ini tidak berlaku pada Mourinho.

Dalam satu wawancara ia secara terbuka menyatakan bahwa lebih memilih melatih pemain seperti Drogba atau Paulo Ferreira, daripada pemain-pemain bintang “selebritis”. Sebelum musim dimulai ia dengan berani “membuang” bintang Argentina, Hernan Crespo ke AC Milan. Kala itu ia secara terbuka menyatakan mencari karakter pemain yang mau memberikan 100% upaya untuk tim, dan yang dapat menerima tatkala ia tidak diturunkan demi kepentingan yang lebih besar.

Keputusan dan Penilaian Obyektif

Prinsip ini diiringi dengan keputusannya yang selalu obyektif. Pada awal kompetisi, Mateja Kezman, top scorer Liga Utama Belanda pada musim sebelumnya bersama PSV Eindhoven, selalu dipasang Mourinho sebagai starter. Kesulitan dalam memproduksi gol sebagaimana yang ia lakukan di Belanda, Mourinho secara obyektif mencadangkan Kezman, dan justru mulai memainkan Eidur Gudjohnsen dan Damien Duff, yang di awal kompetisi menjadi spesialis cadangan namun setiap kali bermain menunjukkan penampilan yang memuaskan sang pelatih.

Lampard_2 Ia juga tidak melulu berlaku pilih kasih menurunkan pemain “bawaannya” dari Porto. Justru tulang punggung dari tim Chelsea untuk menjadi juara pada tahun ini terletak pada tiga pemain yang notabene tidak direkrut oleh Mourinho. John Terry, Frank Lampard dan Makalele sudah menjadi starting line-up saat Chelsea masih dilatih oleh Claudio Ranieri (pelatih Chelsea sebelumnya).

 

 

 

Pengarah dan Motivator Ulung

Selain itu, Mourinho juga memiliki kemampuan untuk memotivasi dan mengarahkan anak buahnya. Dalam tim sarat bintang Real Madrid ataupun Manchester United, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dari bintang-bintangnya di surat kabar atau media lainnya atas keputusan pelatihnya. Dalam satu tahun ini, tidak pernah terdengar kabar Kezman ataupun Cudicini (kiper utama Chelsea musim kompetisi lalu) mengeluh, kendati keduanya merupakan pemain bagus yang bukan tidak mungkin dapat menjadi starter di tim lain. Hanya Joe Cole yang di awal kompetisi sempat mempertanyakan posisinya di dalam tim secara terbuka. Melihat potensi yang lebih dari diri sang bintang muda Inggris ini, Mourinho justru memberikan kesempatan lebih kepada Joe Cole, dan kini ia menjadi bagian integral squad Chelsea dalam meraih Liga Premier Inggris dan (kemungkinan) Liga Champions. Bahkan Sven Goran Eriksson, pelatih nasional Inggris, menyebutkan bahwa dirinya layak berterimakasih kepada Mourinho, karena sikap kerasnya berhasil mendidik Joe Cole untuk lebih bisa bermain sebagai anggota tim, ketimbang memperlihatkan kejeniusan bakat individualnya yang luar biasa.

Disinilah perbedaan mendasar antara tim Chelsea dan Real Madrid tahun ini. Di Real Madrid,  perbedaan kasta antara “the Zidanes” (pemain-pemain bintang impor seperti Zidane, Figo, Ronaldo, Beckham) dan “the Pavones” (pemain-pemain muda asli didikan Real Madrid seperti Pavon, Helguera, Guti, Borja) sudah menjadi rahasia umum. Dan hal ini menjadi hambatan besar tim tersebut untuk menampilkan permainan terbaiknya. Madrid sudah berganti pelatih tiga kali musim ini. Pelatih pertama Jose Antonio Camacho, dan penggantinya tidak mampu mendisiplinkan, memotivasi dan membangun semangat kerjasama antara pemain bintangnya. Real Madrid pun terpuruk di setiap kompetisi yang diikutinya, kendati memiliki segudang pemain terbaik di dunia.

John_terry Sementara itu di Chelsea, semangat kolektivitaslah ala Mourinho lah yang mendasari permainan tim. Tim berada di atas segalanya, di atas Lampard, di atas Terry, bahkan di atas Mourinho sendiri. Inilah pembeda utama dari Chelsea dengan tim-tim super lain. Chelsea memiliki Mourinho. Tim lain tidak.

Chelsea tidak membeli gelar juara dengan uang. Chelsea “membeli” Mourinho. Dan Mourinho lah yang membawa gelar juara tersebut ke Stamford Bridge.

Dan prinsip mendahulukan timnya itulah yang membuat Mourinho tidak mau terlalu diketengahkan di saat ia patut menerima pujian atas keberhasilannya. Instead, he gives all the credits to the players. What a true great leader.

I salute you, Mr. Mourinho!

Few hours past midnight on my birthday, 1 May 2005, after Chelsea claimed their first English Premier League Title in 50 years.

Giggs, Beckham dan Del Piero pun Punya KPI

Sebagai pemerhati sepakbola dan konsultan manajemen, saya melihat liga sepakbola profesional papan atas seperti Premiership (Inggris), Serie A (Italia) dan Primera Liga (Spanyol) adalah suatu “lingkungan kerja” yang menerapkan konsep performance management (manajemen kinerja) secara ideal.

Saya sebut ideal di sini, karena sistem manajemen kinerja di sepakbola menerapkan tiga prinsip yang menjamin efektivitas pelaksanaan sistem tersebut: (1) transparan, (2) obyektif dan  berkriteria jelas, serta (3) konsisten dalam reward and punishment-nya.

Transparan.

Kenapa saya sebut transparan? Bayangkan, dalam satu pertandingan sepakbola dalam liga-liga tersebut, siapa yang dapatRyangiggscut  melihat dan menilai performa dari seorang pemain bola? Selain pelatih sebagai “atasan langsung” sang pesepakbola, rekan satu tim dan puluhan ribu penonton pun menjadi saksi performa seorang Zidane, Vieri ataupun Gerrard. Belum lagi wartawan peliput yang tanpa tedeng aling-aling akan memuja ataupun mengkritisi performa pemain pada koran keesokan harinya. Tidak ada yang dapat menutupi kalau seorang pemain sedang bermain buruk. Kalaupun pelatih masih menaruh kepercayaan pada pemain andalannya, prinsip transparansi ini membuat para pemain harus "rela" untuk dinilai oleh siapa saja. 

Seorang Ronaldo (Real Madrid) pun kerap mendapatkan "siulan mengejek" dari pendukung Real Madrid karena permainannya dinilai tidak "berkomitmen". Anda mungkin juga belum lupa penampilan Ryan Giggs yang dianggap “di bawah standar” selama musim 2002/2003, yang berbuah cemoohan pendukung Manchester United setiap ia berlaga di Old Trafford.

Obyektif.

Memang, pelatih dapat berkomentar dengan nada "membela" anak asuhnya, seperti halnya Sven Goran Eriksson yang senantiasa membela kapten tim Inggris, David Beckham, kendati si "Goldenball" kerap menunjukkan performa yang mengecewakan pendukung tim St. George Cross. Tapi sepakbola punya KPI (Key Performance Indicators) yang obyektif dan jelas. Setiap posisi mempunyai uikuran kinerja yang dapat dinilai oleh semua orang. Kiper akan dinilai dari jumlah penyelamatan yang dia lakukan, jumlah clean sheet yang  ia peroleh. Bek, hampir mirip dengan kiper, selain dinilai dari jumlah clean sheet, juga akan diamati Beckham_cut en keberhasilan tackling dan intercept bola-bola atas sepanjang pertandingan. P.enyerang manapun tidak akan bernilai tinggi apabila dia tidak menyarangkan gol. Dan akhirnya, pemain tengah, kerap disebut sebagai posisi sentral dalam sepakbola, mempunyai banyak KPI yang bersifat campuran. Dari jumlah assist, jumlah umpan yang berhasil diberikan, jumlah tekel dan kadang juga jumlah gol yang dijaringkan.

Jadi pada saat kinerja Beckham dipertanyakan, sang skipper Inggris memiliki cara sendiri untuk menjawab keraguan kritisi sepakbola. Dalam pertandingan Pra Piala Dunia 2006 melawan Azerbaijan bulan lalu, Beckham membalas kepercayaan Eriksson dengan memberikan 1 assist, dan 1 gol untuk memenangkan timnya. Ia sadar Eriksson tak bisa senantiasa membelanya secara subyektif. Dengan mencapai 2 KPI sekaligus dalam satu pertandingan Beckham membungkam para pengkritiknya secara jelas dan obyektif.

Reward and Punishment.

Selanjutnya, apalah artinya sistem manajemen kerja tanpa mekanisme reward and punishment yang konsisten? Tim-tim profesional Eropa sudah lazim memberikan bonus kepada tim mereka apabila mereka memenangkan pertandingan. Di kompetisi klub terakbar di dunia, Liga Champion, setiap poin yang didapatkan oleh tim dihargai dengan uang bonus bagi klub dan pemain. Kadang dalam kontraknya, seorang penyerang top juga mendapatkan bonus atas setiap gol yang dicetaknya, Del_piero_cutdisamping gaji mingguan mereka. Di lain pihak, dengan prinsip transparansi dan obyektifitas di atas pula, punishment diterapkan. Anda masih ingat mengapa pemain sekaliber Christian Vieri kerap dicadangkan Inter Milan akhir-akhir ini? Rasio jumlah gol per pertandingannya yang mengecewakan merupakan KPI-nya yang tidak tercapai. Ia pun harus rela menerima konsekuensinya. Bahkan seorang "Anak emas " klub besar seperti Del Piero di Juventus, ataupun Raul di Real Madrid pun tidak luput dari punishment ini  karena penampilan mereka yang terus menerus dibawah ekspektasi. Akibatnya? Mereka pun harus rela untuk duduk di bangku cadangan!

Dan apa akibatnya apabila seorang pemain terus menerus menunjukkan kinerja yang menurun? Dia tidak hanya dibangkucadangkan, tapi harus siap dilego ke klub lain yang status elite-nya lebih rendah. Anda mungkin masih ingat nasib John Dahl Tomasson. Tidak berhasil menjadi striker subur di Newcastle United, Tomasson akhirnya dilego Sir Bobby Robson (pelatih Newcastle saat itu) ke Feyenoord, yang notabene kelas liganya di bawah liga Inggris. Ini merupakan "tamparan keras" bagi penyerang nasional Denmark ini. Tapi kemudian Tomasson menunjukkan tajinya di Eredivisie dengan menjaringkan 20 gol lebih dalam musim kompetisi 2002/2003. Reward-nya? Milan pun menarik pemain ini untuk menjadi salah satu penyerangnya yang sukses membawa Milan menjuarai Serie A di musim kompetisi 2003/2004. 

Aplikasi pada Dunia Bisnis Profesional.

Menilik tiga prinsip manajemen kinerja efektif yang diterapkan liga sepakbola profesional di atas tersebutlah, kalangan bisnis perlu memikirkan aplikasinya pada kalangan profesional bisnis.

Pengalaman saya menangani beberapa perusahaan di Indonesia banyak memberikan pelajaran bahwa buruknya sistem manajemen kinerja (karena tidak menerapkan tiga prinsip di atas) menjadi salah satu penyebab utama mengapa banyak perusahaan Indonesia susah untuk bersaing dengan perusahaan multinasional. SDM-nya tidak hidup dalam lingkungan yang menerapkan "high-performance culture". Orang malas dinilai sama dengan orang rajin. Yang berprestasi baik dihargai sama dengan yang berprestasi biasa-biasa saja. Karyawan jadi tidak terpacu untuk berkompetisi secara sehat, tidak termotivasi untuk menunjukkan kinerja terbaik. Untuk apa?

Oleh karenanya, manajemen perusahaan harus mengidentifikasi KPI-KPI yang dapat secara efektif "encourage the right behaviors". Ukuran-ukuran ini harus dinilai dan secara konsisten diterapkan "reward and punishment-nya". Kalau ada yang kinerjanya sedang di bawah standar, tidakkah Anda pikir "kritik yang keras namun obyektif", akan bermanfaat bagi diri sang karyawan dan perusahaan? Kasus Beckham di atas bisa menjadi contoh.

Sebaliknya, bila Anda punya karyawan junior yang terus menerus menunjukkan kemampuan yang melebihi ekspektasi dari Anda ataupun perusahaan Anda, jangan ragu-ragu untuk memberikan reward yang tidak hanya memuaskan sang karyawan dari sisi finansial, namun juga memberi tanggung jawab dan tantangan yang lebih pada dirinya. Jangan pikirkan budaya senioritas, kompetensi adalah hal yang paling relevan untuk menempatkan seseorang di tingkatan yang lebih tinggi. Wayne Rooney, pemain muda asal Merseyside, Inggris, karirnya meningkat pesat karena diberi kesempatan oleh David Moyes, pelatihnya dulu di Everton, dan kini oleh Sir Alex Ferguson di Manchester United untuk banyak tampil di tim utama, kendati umurnya masih di bawah 19 tahun. Pada Piala Eropa tahun lalu ia sudah memperlihatkan kepantasannya mengenakan seragam tim nasional Inggris. Reward yang memotivasi sang bintang muda-lah yang membuat ia terlecut untuk keluar dari "comfort zone"-nya.

Nah, bagaimana apabila sudah di"kritik" sang karyawan masih juga  menunjukkan performa yang mengecewakan?

Kalau saya jadi Anda, saya akan berlaku seperti Sir Bobby Robson di Newcastle. Sudah saatnya "Tomasson" anda di"transfer" ke perusahaan lain. Siapa tahu di sana dia dapat lebih bermanfaat?

Football is a beautiful game. Learn from it. 

Plasa Semanggi, 19 April 2005, 21:13