
Akhirnya setelah sembuh dari cedera lutut di akhir tahun lalu, saya mengikuti lomba lari pertama saya di tahun 2025 ini di BTN Jakarta International Marathon (JAKIM).
Lomba yang sudah saya incar sejak tahun lalu, karena kalau lihat di media sosial sih penyelenggaraannya rapi. Dan yang paling bikin mupeng adalah jalur lari yang steril. Kilasan video Jalan Sudirman yang penuh sesak dengan pelari BTN JAKIM tahun lalu masih segar dalam ingatan. Dan juga keseruan finish di dalam Stadion Utama GBK. Satu-satunya event lari yang memiliki fitur seperti ini.
Dan memang itulah keistimewaan dari BTN JAKIM ini: jalur yang steril, dan finish di dalam GBK.
Perjalanan Menuju Garis Start
Serupa dengan tahun lalu, start dilakukan di halaman Monas. Namun konsekuensi dari jalur yang steril adalah banyaknya jalan yang ditutup dari dini hari. Ini jadi permasalahan tersendiri untuk sampai ke lokasi start. Saya yang biasanya naik taksi mengurungkan niat setelah melihat di Google Map banyaknya jalan yang ditutup. Untungnya karena ini adalah event resmi dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Jakarta, Pemprov DKI Jakarta memfasilitasi dengan mengoperasikan MRT mulai jam 4 pagi.

Saya pun bangun jam 3 pagi, dan jalan ke MRT Fatmawati jam 3.30 dari rumah. Alhamdulillah MRT tepat waktu. Jam 4 lewat sedikit kami sudah bisa naik MRT bersama puluhan pelari lain. Namun demikian, sedikit permasalahan terjadi saat tiba di Stasiun Bundaran HI.
Kami harus mengantri bis Trans Jakarta yang memang disiapkan secara khusus untuk membawa kami ke garis start. Antrian untuk naik bis sudah panjang. Dan saya pun tidak langsung terangkut untuk naik bis yang sudah menunggu di halte dekat pintu keluar MRT. Masalahnya, bis berikutnya tak kunjung datang. Ada mungkin 5 menit lebih kami harus menunggu sampai kemudian tiga bis berombongan datang.
Untung saja waktu masih cukup untuk saya sholat dan bergegas ke garis start. Walaupun mepet. Mungkin tinggal 2 menit ke pukul 5.15, waktu start untuk kategori Half Marathon yang saya ikuti.

Jalur Yang Steril, tapi Padat
Pada pukul 5.15 pagi pun bendera start HM dikibaskan. Tapi ternyata saya yang di Corral B belum bisa ikutan start. Itu hanya untuk Corral A. Kami baru diberangkatkan sekitar 5 menit kemudian. Memang sejak start sudah terasa kepadatan lomba kali ini.
Dan benar saja, saat mulai berlari pun, kami tak leluasa untuk langsung tancap gas. Berbeda dengan pengalaman saya saat mengikuti LPS HM tahun lalu.
Tapi tak apalah. Secara saya juga masih berusaha mengembalikan pace dari cedera lutut, saya tidak pasang target apa-apa. Walaupun dalam hati sudah bergumam kalau pace dipertahankan di bawah 6:30 menit per km.

Di awal-awal lomba sepertinya hal itu susah dicapai. Padatnya jalur lari membuat pace tertahan di sekitar 6:45-7:00. Saya pun bersabar, sambil berpikir, “yah bagus gini, menghemat stamina. Nanti gas pol di akhir”.
Saya pun mengatur strategi berlari. Resep sukses menghalau kram dengan menyatroni setiap water station tetap saya pertahankan. Asupan energy gel Strive pun saya jadwalkan untuk di km 5, 9, 14 dan 18. Sesekali berjalan sedikit setelah water station untuk menurunkan HR. Semua berjalan dengan baik.
Walaupun seperti biasa km 10-15 adalah saat-saat rawan. Di mana energi sudah mulai melemah sementara jarak masih relatif jauh.
Terowongan Adhyaksa
Untungnya di Jakim ini ada momen yang cukup membuat semangat kembali terpompa: terowongan Adhyaksa.
Ya, lari melewati terowongan under pass ini adalah kali pertama bagi saya. Dan mungkin juga bagi ribuan pelari yang lain. Di terowongan ini terdapat dua jalur, yang kemudian mempertemukan pelari yang berlari ke arah selatan untuk berputar di depan Gedung Walikota Jakarta Selatan, dengan pelari yang sudah selesai berputar dan kembali ke arah Sudirman.

Dalam berpapasan ini, entah siapa yang memulainya, ribuan pelari bersahut-sahutan, berteriak yang menggema di sepanjang terowongan. Dan serunya, di jalur di mana pelari saling berpapasan, kami spontan saling menyemangati dan melakukan “high five” berjamaah sambil berlari. Luar biasa, seru sekali. Semangat kembali terlecut.
Dan tanpa terasa, saya sudah berada kembali di Jalan Sudirman. Yang berarti sudah dekat untuk masuk ke garis finish di Stadion GBK.
Namun ternyata jalur menyisakan sebuah “plot twist”. Berbelok ke dalam kawasan GBK bukan berarti rute lari sudah selesai. Ternyata kita hanya diarahkan untuk berputar di samping Parkir Timur Senayan, untuk kembali keluar ke Jalan Sudirman, dan menuju TVRI untuk kembali masuk ke GBK melalui Pintu Barat. Hahaha. Untung saya sempat mengintip jarak di jam Garmin saya yang menunjukkan km 18. Masih ada 3 km sisa rute lari.
Kalau kejadiannya seperti saat saya pertama kali ikut HM, mungkin mental sudah rontok. Dan saya yakin banyak teman-teman yang virgin HM merasa demikian kali ini.
Finish di dalam Stadion GBK
Tapi saya rasa semua rasa lelah itu terbayar saat kita masuk ke Pintu Barat GBK. Ratusan orang penonton dan cheering group berbaris sepanjang jalan. Dan kita diarahkan lari memasuki dalam stadion GBK. Di mana kita harus melakukan hampir 3/4 putaran dari running track sekitar lapangan sepak bola untuk sampai di garis finish. Benar-benar sensasi finish yang mungkin hanya bisa terjadi di Jakim. Bravo!

Namun demikian, kemeriahan lari kali ini adalah juga kelemahannya. Seperti halnya jalur lari yang padat, Race Village, tempat pelari harusnya berkumpul beristirahat dan merayakan keberhasilan kita finish dengan pelari lain, penuh sesak dengan pelari dan pengunjung. Dan yang membuat lebih tidak nyaman, karena ramainya, sinyal telepon jadi susah. Akibatnya saya pun tidak bisa berkomunikasi untuk mencari teman saya fellow runners di tengah-tengah ribuan peserta.
Epilogue dan Catatan Akhir Lomba
Akhirnya saya pun memutuskan untuk pulang. Kembali naik MRT, sambil merenungkan hal-hal yang perlu dicatat dari lomba hari ini:
- Waktu di Strava saya mencatat lari saya di lomba kali ini 2 jam 18 menit 51 detik. Jauh dari Personal Best saya. Tapi saya tidak kecewa, karena memang tidak berharap untuk bisa memecahkan PB di lomba pertama usai cedera. Dan ternyata dengan pace 6:29 menit per km, saya justru memenuhi target pace saya berlari di bawah 6:30.
- Official Race Result pun menunjukkan waktu yang hampir sama: 2 jam 18 menit 47 detik. Lebih cepat sedikit, namun entah kenapa pace jadi lebih lambat ke 6:36. Mungkin catatan di jam sempat terhenti sejenak, atau jarak tercatat lebih jauh. Anyway it doesn’t matter.
- Saya menduduki posisi 2660 dari 11.673 peserta. Di kategori Master (50 tahun ke atas) 339 dari 1328. Bukan hasil yang buruk.

- Melihat animo dan kesuksesan dari JAKIM tahun ini, mungkin animo peserta tahun depan akan semakin banyak. Apabila panitia ingin untuk menambah jumlah peserta, sepertinya panitia harus mempertimbangkan untuk membuat lomba dua hari. Dengan jarak 5K dan 10K di hari pertama, dan HM dan FM di hari kedua. Walaupun sudah kebayang ribetnya, terutama dalam hal mensterilkan jalur di dua hari berturut-turut.
In overall, it’s very enjoyable race, and definitely it’s one of must-have runners event in Indonesia.
Tapi saya jadi galau, untuk tahun depan: apakah kembali mengikuti JAKIM atau mengikuti LPS Half Marathon – yang menjadi lomba favorit saya tahun lalu? Karena dua lomba ini biasanya diselenggarakan dalam tempo yang berdekatan.
Kita lihat saja tahun depan.
