Ritual Idul Fitri 1447H

Foto saya dan keluarga di Idul Fitri 1447H

Ramadhan tahun ini terasa cepat sekali berlalu. Sepertinya baru beberapa saat lalu kami memulai ibadah puasa Ramadhan. Kini kami sudah berada di tanggal 1 Syawal 1447H. Ritual shalat tarawih yang biasa kami lakukan setiap malam berganti dengan takbir.

Ritual 1: Ziarah ke Makam Bapak

Ziarah ke Makam Bapak di TMP Kalibata

Berbicara mengenai ritual, mulai tahun lalu keluarga istri saya Elok memiliki ritual baru. Yakni berziarah ke makam Bapak Mertua saya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tepat di malam takbiran. Kami pikir paling tidak ini adalah momen kita untuk berlebaran bersama dengan Bapak. Walaupun Bapak sudah tidak berada di tengah-tengah kita lagi.

Sementara itu di hari Idul Fitri itu sendiri, beberapa ritual kembali dilakukan. Yang walaupun dari tahun ke tahun tetap sama, tapi tetap dinanti. Dan tetap menyenangkan.

Ritual 2: Foto Warga Alea usai Sholat Ied

Foto Warga Alea Townhouse usai Sholat Ied 1447H

Ritual selanjutnya adalah foto warga Alea Townhouse usai Sholat Ied. Momen seperti ini lah saat kami dapat berjumpa dengan sebagian besar warga Alea Townhouse. Saling bermaaf-maafan, dan merekam momen tahunan dalam bentuk foto bersama.

Ritual 3: Sungkem dan Foto Keluarga

Tradisi sungkem menjadi bersalaman antar keluarga besar Solichin

Usai menyelesaikan ritual di Alea. Ritual kami sekeluarga beralih ke Bambu Apus. Rumah mertua saya. Ritual pertama adalah “sungkem”. Namun karena Bapak Mertua sudah tidak ada, tradisi sungkem ini kemudian lebih beralih ke saling bersalaman, dan bermaaf-maafan antara anak, mantu dan cucu dari Bapak Solichin.

Foto keluarga besar Solichin Idul Fitri 1447H

Ritual 4: Feast with Families!

Hari Raya terasa lebih semarak dan menyenangkan dengan datangnya handai taulan dan keluarga ke rumah. Karena Bapak dan Ibu Mertua termasuk yang “dituakan” di keluarganya, maka setiap tahun saudara dari Bapak dan Ibu datang ke rumah dengan segenap keluarga.

Begitu juga dengan kakak dan adik saya, yang walaupun berbeda keyakinan tak pernah absen untuk datang ke rumah Bambu Apus untuk menyelamati kita secara langsung.

Bersama keluarga saudara saya, Mbak Wik dan Adik Chita

Dan tentunya, seperti halnya ritual di Indonesia, keluarga kami pun menyiapkan makanan khas Lebaran: ketupat bersama opor ayam, rendang dan sambal goreng kentang. Ditambah dengan bakso buatan kakak sepupu yang terbukti ampuh menetralisir hidangan santan.

Alhamdulillah, it’s been a glorious and happy day. May Allah bless us for more of these rituals in years to come. Insya Allah.

Foto bersama dengan saudara-saudara yang hadir pada hari Idul Fitri tahun ini.

Leave a comment