
“Beneran jodoh lu sama Elok”, demikian seloroh salah seorang kolega kantor saat takziah melayat ke rumah.
Seloroh itu dilontarkan setelah melihat foto Bapak Mertua yang terpajang di samping jenazah. Foto Bapak saat menerima penghargaan Mahaputera Utama RI. Tahun 1999, 25 tahun yang lalu. Foto Bapak di situ memang terlihat muda. Dan kalau dilihat sekilas memang mirip saya.
Bukan sekali ini saya dibilang mirip dengan Bapak Mertua. Bahkan pada saat pesta pernikahan kami 26 tahun yang lalu, saya yang lebih sering disangka sebagai anak yang punya gawe. Mungkin karena perawakan saya yang tinggi dan kurus, mirip Bapak.

Ada juga yang jadi kemiripan saya dengan Bapak. Kami berdua juga satu almamater. Lulusan UGM Jogja. Sama-sama juga saat di kampus jadi aktifis mahasiswa.
Dan sepertinya kemiripan ini yang membantu saya akhirnya “diterima” sebagai mantu.
Sedikit buka rahasia. Waktu awal saya pacaran dengan istri saya sekarang, kami pacaran “backstreet”. Karena Mama Mertua saat itu mengharapkan anak-anaknya untuk mencari calon yang paling tidak 5 tahun lebih tua. Sudah mapan katanya. Mungkin Mama berkaca pada pengalaman pribadi Mama yang menikah dengan Bapak yang 7 tahun lebih tua. Dan memang sih, sedari awal pernikahan, Bapak secara mental dan materi sudah siap untuk menikah.
Contoh ideal ini tapi tidak ditiru oleh Elok. Karena dia ketemu saya. Yang notabene seumuran. Saya hanya satu tahun lebih tua. Karena ini, pada awalnya hubungan kami kurang dapat restu. Apalagi saya anak yatim piatu. Tidak punya modal apa-apa kecuali cinta (halah). Kok berani-beraninya menjalin hubungan dengan anaknya yang notabene “anak pejabat”.
Ya, saat itu Bapak adalah pejabat Eselon I di Departemen Perindustrian. Beliau adalah kepercayaan Pak Hartarto, Menteri Perindustrian di jaman Orde Baru. Bapak orang yang sangat dipercaya Pak Hartarto. Konon, tidak ada berkas yang ditandatangani oleh Pak Menteri kalau belum lolos dari review Bapak. Begitu pula kalau Pak Hartarto sedang menyiapkan pidato Presiden di bidang perindustrian, stempel Bapak harus didapatkan sebelum naskah itu lolos.
Bapak terkenal sebagai orang yang sangat teliti. Sangat jujur dan disiplin. Sangat well prepared. Tidak suka kejutan dan dadakan. Bahkan dalam urusan keluarga. Kalau kita pergi berlibur, Bapak selalu ingin tiba di airport tiga jam sebelum penerbangan. Kalau ada acara keluarga, Bapak berkali-kali menanyakan run down dan persiapan.

Tapi karena karakternya ini lah, Bapak menjadi kepercayaan Pak Hartarto. Beliau diminta selalu menjadi sekondan Pak Menteri, bahkan sampai Pak Hartarto diminta menjadi Menko Industri dan Perdagangan, dan terakhir sebagai Menko Wasbangpan.
Pengabdian lama penuh jasa ini lah yang membawa Bapak menerima Bintang Mahaputra Utama Republik Indonesia. Yang membuat bapak berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Sejatinya jasa Bapak bukan hanya di pemerintahan. Bapak sedari muda hobinya satu: wayang. Sangat menggemari dan mendalami dunia pewayangan. Sudah qualified untuk jadi dalang. Bapak bahkan sempat menjadi Ketua Pusat Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) dan Ketua Umum Senawangi (Serikat Nasional Pewayangan Indonesia).
Legacy-nya di hobinya ini tidak main-main. Total mungkin lebih dari 15 buku soal wayang diterbitkan. Di masa Bapak menjabat sebagai Ketua Senawangi, Unesco menganugerahkan wayang sebagai “World Heritage”. Bapak juga memprakarsai dibangunnya Gedung Wayang di kompleks TMII. Terakhir, di tahun 2020, Bapak dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, karena karyanya menelurkan disiplin ilmu “Filsafat Wayang”. Gelar yang sangat dibanggakan oleh Bapak. Yang sangat layak disandang mengingat rekam jejak Bapak di dunia ini selama puluhan tahun.


Itulah Bapak. Sosok sederhana, pemuda desa dari Nglawak, Kertosono, yang dengan kemauan kuat, kerja keras, dan disiplin berhasil membangun karir dan meninggalkan jejak yang berarti semasa hidupnya.
Kembali ke kisah cinta saya dengan istri. Setelah dengan istiqomah tetap memperjuangkan hubungan kita yang belum sepenuhnya direstui, lambat laun saya bisa diterima sebagai calon mantu. Mungkin karena pengaruh Bapak juga. Maybe he saw a little bit of him in me. Just a very little.
Yang jelas 26 tahun yang lalu, saya dan Elok resmi dinikahkan Bapak di depan penghulu. Disaksikan Pak Mar’ie Muhammad dan Pak Malik Fajar, dua sahabat Bapak saat aktif di HMI.
Siapa sangka, tepat 26 tahun kemudian, di hari ulang tahun pernikahan kami, Bapak dipanggil menghadap sang khalik. Rasa suka di pagi hari mendadak menjadi duka. Tumpeng perayaan yang kami pesan akhirnya jadi makan malam darurat. Dari sore sampai malam kami menyelesaikan proses pengurusan jenazah dari RS sampai disemayamkan di rumah. Saudara, kerabat, datang silih berganti sampai tengah malam.








Walaupun terasa mendadak, tapi seperti sifat Bapak yang tidak pernah mau menyusahkan, kepergian Bapak terjadi cepat sekali. Jam 14.30 masih makan siang di rumah, satu jam kemudian Bapak sudah dinyatakan wafat di RS.
Bapak dimakamkan keesokan harinya. Sebagai penerima bintang anugerah Mahaputra Utama, Bapak berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Prosesi pemakaman dilakukan secara khidmad, teratur dan efisien. Persis seperti apabila Bapak yang merencanakan perhelatan ini. Everything is well prepared. Mungkin ini sudah direncanakan Bapak juga.
Terima kasih Bapak atas segala sumbangsih Bapak kepada keluarga, bangsa dan tanah air. Kami bangga dan sayang sekali sama Bapak. Sugeng tindak. Doa kami akan selalu menyertai.













Sugeng tindak untuk beliau.
Hal-hal baik dan mulia yang beliau contohkan kiranya menjadi suluh Panjenengan sekeluarga, Mas Iben. 🙏
Nggih betul sekali Mas. Matur nuwun ya atensinya.