Start of Doctoral Journey

Pembukaan program Doktoral S3 di Universitas Prasetiya Mulya

Saya sekolah lagi. Setelah 10 tahun menyandang gelar S2, dahaga untuk kembali melakukan intellectual academic exercise kembali menggelitik. Saya back to campus di Universitas Prasetiya Mulya Cilandak. Kampus saya saat meraih gelar Master sebelumnya.

Setelah melakukan pembukaan dan orientasi di minggu sebelumnya, Jumat malam kemarin ini saya memulai kelas pertama.

Kelas pertama program S3 Batch 6 Prasmul ini dimulai pukul 18.45. Usai Buka Puasa. Dan usai saya berjibaku dalam kemacetan menuju kampus setelah bermain dengan keponakan di Ancol siang harinya. Walau fisik pasti lelah, tapi seperti saat memulai kuliah S2, energi saya meluap-luap. Otak seperti sepenuhnya terbuka. Siap menerima bahan ajar dan pengalaman baru.

Kelas Prof Djisman Simanjuntak

Kelas Prof Djisman Simanjuntak

Kelas pertama membahas mengenai “Doctoral Journey“. Yang mengajar mantan Rektor Prasetiya Mulya, Prof Djisman Simanjuntak. Dosen legendaris.

Yah karena Professor yang mengajar, materi ajar nya level filosofis. Journey yang diceritakan berawal dari human journey. Bahwa kita adalah satu-satunya spesies Homo yang survive. Neanderthal dan Denosovian punah.

Berlanjut ke era Holocene. 11.000 tahun yang lalu. Kita, Homo Sapiens, mulai membuat settlement. Domestication of plants and animals. Food became surplus, karena makanan hasil buruan bisa disimpan. Manusia tidak lagi berburu setiap hari. Bisa duduk di rumah, tanpa takut kelaparan. Waktu luang ini membuat manusia bisa mulai berimajinasi. And imagination is more important than knowledge. Made the Holocene as most important phase of human journey.

Hasil imajinasi kemudian dituliskan. Pengetahuan pun terakumulasi. Dan bisa diwariskan ke generasi berikut.

The rest is history. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Newton, Adam Smith dan Charles Darwin with their landmark theories. Penciptaan GPT (General Purpose Technology) di saat Industrial Revolution membuat perubahan yang eksponensial. Mesin Uap. Listrik. Internal Combustion. Radio Communication.

Kemajuan yang dialami manusia dalam 200 tahun terakhir sangat terakselerasi. Lebih cepat dari ribuan tahun sebelumnya.

I find it very insightful and interesting to start our Doctoral Journey with this story of human journey. Membuat kita tergugah. Bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa kita lakukan, sehingga kita meninggalkan sebuah legacy yang bermanfaat? I think that’s all about. Bismillah.

Kelas Prof Agus Soehadi

Kelas Prof Agus W Soehadi

Keesokan harinya kelas “Doctoral Journey” dilanjutkan oleh Prof Agus Soehadi. Dosen yang juga senior. Mantan Dekan dan Warek Prasmul. Beliau lah yang menggagas program Doktor di Prasmul.

Kali ini yang dibahas adalah seluk beluk perjalanan menyelesaikan program Doktor. Sesi yang sangat informatif. Berikut beberapa kesimpulan penting yang saya catat:

Menggali teori dan penelitian yang sudah dilakukan, menggunakan metodologi yang vigorous, untuk mendapatkan buah-buah hasil penelitian yang bermanfaat.
  • “Progress is better than perfection” – ini kunci dalam menyelesaikan program Doktor. Progress every day. Read every day. Put on writing. Seberapapun mentah hal tersebut. Baru kita baca dan revisi keesokan hari. PhD is a Marathon, not a Sprint.
  • Why took Doctoral programme? -mungkin ada yang buat titel. Ada yang buat peningkatan karir. Ada yang ingin meninggalkan legacy. Tapi menurut Prof Agus inti dari mengambil program Doktor adalah “to become Scholar” – a person who has advancing knowledge in special field. Got it.
  • DBA vs Ph.D – Program Doktor di Prasmul adalah DBA (Doctor of Business Administration). Perbedaannya adalah dari titik tolak. Apabila program Ph.D yang memulai dari literatur ilmiah, DBA dimulai dari pengamatan di industri. Melihat fenomena atau permasalahan apa di industri, dan mencari jawabannya, yang akan memberikan kontribusi bagi industri dari sisi keilmuan, ataupun kemajuan pengetahuan. Kesamaannya, sama-sama menuntut metodologi penelitian yang vigorous, dan sama-sama berjenjang S3 secara akademis.
  • Doctoral Degree is not about Complexity – but Deepening. Kita tidak mencari sesuatu yang kompleks. Namun harus mencari jawaban secara mendalam. Sesuatu yang bisa kita pertahankan. Defend your thesis. Penolakan adalah hal biasa. Kritik justru harus dicari, untuk memperkuat penelitian kita.
  • Search for Novelty – hal ini yang harus dicari setiap mahasiswa program Doktor. Novelty of theory or concept. Beranjak dari fenomena yang diamati, kita harus menelusuri pohon keilmuan. 2-3 teori dasar disintesakan. Menelusuri teori dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Melihat hal mana yang masih belum diteliti. Mencari apakah ada novelty yang bisa ditawarkan untuk memecahkan masalah.
  • Prepare for Unexpected – there will be times when we’re uncertain about the identities and expectation. Stress, being stuck, unable to make progress. Tapi pesan Prof Agus yang juga saya pernah dengar dari rekan saya yang sudah menyelesaikan program Doktor adalah: “Nikmati Prosesnya”. Perseverance is key.
DBA: memberi kontribusi pada keilmuan berawal dari fenomena di industri

Terus terang jadi bersemangat sekaligus was-was. Karena secara pribadi, saya belum mendapatkan secara persis fenomena yang akan diteliti. Apalagi novelty yang akan saya tawarkan. Tapi pesan Prof Agus: “baca terus, nanti akan dapat”

Insya Allah Prof. Terima kasih pencerahannya.

So it begins. Doakan saya istiqomah dan tabah.

Leave a comment