Dalem Kamulyan

Keluarga kami dan keluarga Mbak Ut yang datang “nganyari” Dalem Kamulyan

Begitulah rumah ini kami panggil: Dalem Kamulyan. Bahasa Jawa yang kalau diartikan secara bebas adalah “Rumah Kemuliaan”.

Mengambil sedikit nama belakang saya, tentu saja penamaan ini mengandung doa. Persis mungkin saat nama Mulya ini disematkan ke nama saya oleh orang tua saya. Yang kemudian saya juga turunkan ke nama anak-anak saya, Aya dan Rafif.

Semoga memang rumah ini membawa kemuliaan, kebaikan, keagungan bagi pemiliknya. Dan bagi siapapun penghuninya nanti. Apakah mereka tamu yang menginap di sini, ataupun saat kami mungkin sudah menjadikannya sebagai rumah untuk menghabiskan masa tua.

Sebagian penampakan Dalem Kamulyan dengan tempat tidur darurat dan furniture baru yang kami baru beli. Mushola barubkami juga menjadi tempat favorit kami di rumah ini.

Yang jelas, ternyata rumah ini sangat “homey“. Atau kalau dalam bahasa jawa “pomah“. Kita sekeluarga langsung kerasan tinggal di dalamnya. Walaupun sebetulnya furniture dan peralatan belum lengkap. Belum ada internet terpasang. Meja yang saya beli dari Jepara baru datang di hari kedua kita menginap. Tidur pun kami masih tidak menggunakan dipan. Hanya beralaskan lempit. Tapi ternyata tidak mengurangi rasa nyaman kami berada di rumah ini.

Dan ternyata tidak hanya kami yang merasakan kalau rumah ini “homey“. Saat saya men-share rumah kami ini di salah satu postingan instagram saya, ternyata sambutan dari teman-teman dan saudara sangat meriah. Postingan saya di Instagram dan Facebook sepertinya mendapatkan likes terbanyak yang pernah saya dapat.

Postingan saya di Instagram mengenai Dalem Kamulyan

Hampir semua memuji Dalem Kamulyan. Banyak yang berpendapat rumahnya “adem”. Menyenangi warna hijau lembut yang kami aplikasikan pada kusen jendela dan pintu. Ada juga yang memuji selasar belakang rumah, yang memang satu-satunya elemen rumah lawas yang saya pertahankan (dan menjadi area favorit saya saat ini). Alhamdulillah, ternyata rumah yang sudah lama kami rencanakan dan bangun ini ternyata juga memikat hati banyak orang.

Masih banyak yang harus kami selesaikan, sebelum Dalem Kamulyan kami bisa sewakan, yang kami harapkan dapat membantu membiayai biaya perawatannya sendiri. Syukur-syukur kalau lebih.

Ngeriung di meja makan adalah aktifitas utama kami kemarin di Dalem Kamulyan. Sederhana tapi menyenangkan. Bawah: detail interior rumah kami yang cantik

Namun yang jelas, kami sangat bahagia menghabiskan satu minggu kemarin di akhir tahun 2025, di kota Jogja yang penuh sesak dengan turis, tapi dengan hati yang senang, karena mendapati rumah kami yang baru sungguh lapang dan nyaman untuk ditinggali. Alhamdulillah. Nikmat Allah apa yang kau dustakan?

Leave a comment