SIF Fellowship Story: Susahnya Menjadi ‘Gelandangan’ di Singapura

In the Middle of Orchard Road,
In the Middle of the Night

6 bulan di Singapura tentu saja tidak hanya kita isi dengan kehidupan di seputar kampus. Pada saat akhir pekan, apabila tidak ada acara yang dijadwalkan oleh SIF, sesama SIF student fellows biasanya meluangkan waktu untuk menjelajahi Singapura dan berkunjung ke tempat-tempat yang menarik perhatian. Pada suatu minggu, saya, Nurwi, Usman (tiga fellows yang mewakili UGM) berencana untuk menyaksikan ‘night life’ dari Singapura bersama dengan Ubai (fellow dari Universitas Indonesia). Kami berpikiran untuk menghabiskan malam di kawasan Orchard Road, mencari tahu aktivitas kawula muda Singapura di kawasan yang paling terkenal di Singapura tersebut.

Malam itu kami mulai dengan makan malam di salah satu food court di Orchard Road. Seusai makan malam, kami duduk-duduk di pelataran Centre Point mall menghabiskan waktu. Kebetulan saat itu kami bertemu dengan seorang warga Indonesia dari Medan yang sedang menunggui saudaranya yang sedang dirawat di Mt. Elizabeth hospital. Teman baru kita tersebut membawa rokok kretek Indonesia, dan menawarkannya kepada kita yang sudah berbulan-bulan tidak mencicipi aroma kretek. Entah karena nikmat aroma rokok kretek tersebut, atau karena serunya topik perbincangan dari masalah politik Indonesia sampai sepakbola nasional, kami ngobrol hingga tak terasa waktu sudah mencapai tengah malam.

Teman baru kami itu pun lalu pulang kembali ke rumah sakit, meninggalkan kita yang baru sadar bahwa seluruh mall sudah tutup dan selain sekumpulan anak muda berpakaian aneh yang baru keluar dari diskotek, tidak ada hal lain yang menarik untuk kami amati di Orchard Road. Rasa kantuk pun tiba, dan kami mulai berpikir untuk pulang kembali ke asrama kampus. Tapi bagaimana? MRT paling awal hanya akan beroperasi dalam 4 jam dan bis sudah tidak beroperasi lagi lewat tengah malam. Pilihan satu-satunya adalah taksi. Hanya saja, setelah lewat tengah malam, taksi di Singapura akan mengenakan surcharge, yang bagi kantong mahasiswa pas-pasan seperti kita, sangat tidak friendly. Akhirnya kita berpikiran untuk merebahkan diri saja, berusaha tidur di pelataran Centre Point. “Gelandangan style”.

Belum 15 menit kami berusaha tidur, satpam mall Centrepoint keluar, dan dengan muka garang mengusir kami dari situ. Dia pun menakut-nakuti kami kalau sebentar lagi polisi akan datang, dan akan menangkap bagi siapa saja yang mabuk. Yah, walaupun kami tidak dalam keadaan mabuk, we got the message, dan segera mengikuti perintahnya untuk beranjak dari Centrepoint.

Pikiran kami lalu tertuju kepada Masjid Al-Falah, yang terletak di Cairnhill Road belakang kawasan Orchard. Mungkin rasa kantuk kami mengelabui rasionalitas kami bahwa kami tidak lagi berada di Indonesia, di mana masjid selalu terbuka untuk siapa saja dan kapan saja. Benar saja, sesampainya di sana, kami mendapati masjid yang tertutup rapat dan gelap gulita. Harapan untuk tidur di karpet masjid yang bersih dan empuk pupus sudah.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan mencari tempat beristirahat malam itu. Benar-benar sulit! Tidak ada tempat umum sepanjang jalan Orchard yang dapat kami ‘tiduri’ tanpa terlihat oleh patroli polisi yang kemudian menghampiri kami dan meminta kami untuk segera pergi dari sana dan pulang ke rumah. Kami pun melanjutkan perjalanan menjauh dari Orchard yang polisinya tidak bersahabat untuk ‘gelandangan’ seperti kami.

Sampai akhirnya kami melewati stasiun MRT City Hall dan melihat pintu masuknya terbuka seperempat. Ya, hanya seperempat. Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, kami menerobos masuk lewat celah pintu yang terbuka dan masuk ke dalam stasiun. Kami pikir saat itu, ini adalah tempat istirahat yang ideal, karena dalam beberapa jam lagi MRT akan mulai beroperasi dan kami akan bisa langsung naik MRT kembali ke kampus.

Rencana kami ini hampir berhasil. Saya, Nurwi dan Ubai sudah mengambil salah satu pojok stasiun yang cukup tersembunyi untuk merebahkan badan, saat Usman, entah kenapa, memutuskan untuk menghampiri salah satu ATM dan berusaha untuk melakukan transaksi di sana. Andaikan Usman tidak bermain-main dengan tombol ATM tersebut, mungkin kita tidak akan terlihat menerobos masuk ke dalam stasiun. Tapi mungkin Usman lupa, setiap ATM di Singapura dilengkapi dengan CCTV. Dan tentu saja, ‘penampakan’ seseorang di depan ATM di dalam suatu stasiun yang tutup untuk umum di dini hari merupakan pemandangan yang sangat mencurigakan!

Alhasil, sekelompok petugas keamanan stasiun bergegas keluar dari markasnya dan mengampiri Usman di ATM dan kami yang sedang mulai untuk tidur. Mereka menggeledah dan menginterogasi kami. Beruntung kami tidak lupa membawa paspor dan kartu pelajar kami, sehingga setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya mereka melepaskan kami dari stasiun dan diminta untuk pergi menjauh.

Pada saat itu waktu sudah kurang 1 jam dari MRT pertama untuk beroperasi. Jadi lagi-lagi kami harus ‘menggelandang’ di sekitar MRT, menghabiskan waktu, sambil menertawakan nasib dan pengalaman unik kami ini. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa Singapura ini benar-benar merupakan negara maju, bahkan untuk menjadi gelandangan saja sulit di negara ini!

 

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

One thought on “SIF Fellowship Story: Susahnya Menjadi ‘Gelandangan’ di Singapura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s