Catatan Rekor dan Pengalaman di Borobudur Marathon

Tim Lari Sparungga di Borobudur Marathon

Sudah klise kalau saya ceritakan mengenai persiapan yang tidak optimal sebelum Borobudur Marathon. Lomba yang saya ikuti bulan lalu. Tepatnya tanggal 19 November 2023.

Tapi benar begitu adanya. Setelah sukses berlari dengan riang gembira usai Bali Marathon kemarin, saya pikir saya akan bisa meningkatkan performa dengan lebih sering latihan.

Ternyata tidak juga. Saya malah mengalihkan latihan ke sepeda. Untuk persiapan event sepeda GFNY Ubud. Belum lagi ditambah dengan sedikit kambuhnya penyakit punggung saya sebelum event ini berlangsung. Jadi yang tadinya niat mau latihan at least lari 3 kali seminggu, cuman kesampaian 1 kali. Itu pun bukan long run.

Running Gears for Borobudur Marathon
Saya, Sulis dan Agung berfoto dengan teman lama dari EY, Tato, yang sama-sama ikut lomba jarak Half Marathon

Tapi percaya apa tidak, saya justru kembali mencatatkan Personal Best time saya untuk Half Marathon. 2 jam 22 menit 07 detik (menurut Strava). Berkurang 3 menit dari catatan waktu terbaik saat Bali Marathon. Memang belum bisa untuk di bawah 2 jam 15 menit, seperti target saya selama ini. Tapi lumayan lah. Apalagi rute Borobudur Marathon ini menurut saya malah lebih berat dari pada Bali Marathon.

Terfoto lepas garis start Half Marathon

Rute yang Lebih Berat

Bali Marathon memang secara Elevation Gain lebih banyak dari Borobudur Marathon. Tapi di Bali Marathon kalau dilihat dari peta elevasi, sebagian besar tanjakan ada di 10 km pertama. Setelah itu rute kebanyakan datar dan turun sampai garis finish. Sedangkan di BorMar ini sepanjang jarak HM rutenya naik turun. Saya yang tidak berjalan sedikit pun di Bali Marathon terpaksa berjalan sambil mendaki “tanjakan cinta” yang ada di Km 18. Tanjakannya terjal, setelah sebelumnya pun sempat ngos-ngosan lari naik turun.

Kaki pun sempat hampir kram di Km 18 tersebut. Untung saja kali ini saya tidak melewatkan Aid Station untuk meminta disemprotkan Salonpas Spray. Kalau tidak, petaka kram seperti saat GFNY di Bali kembali terulang.

Kondisi sekitar Borobudur yang sangat panas juga membuat lomba terasa lebih berat. Walaupun hal ini diperingan dengan sorakan dari sekelompok penduduk sekitar. Mereka ini datang dari kelompok sekolahan, instansi pemerintah dan rukun warga sekitar. Sorakannya seru-seru. Banyak yang seperti chant supporter sepak bola. Benar-benar menjadi tambahan energi di kala body battery cepat menurun karena suhu dan elevasi.

Keseruan sorak sorai supporter dan peserta

Memecahkan Rekor Pribadi

Saya sebetulnya tidak berekspektasi untuk memecahkan rekor pribadi. Di tengah lomba saya menemui grup pacer 2:30. Saya pikir ini adalah waktu yang reasonable saya targetkan. Saya pun kemudian sempat berlari mengikuti pace kelompok ini. Sampai beberapa saat kemudian saya merasa pace saya bisa lebih cepat. Jadilah kemudian saya mempercepat tempo dan mendahului grup pacer ini. Perkiraan dapat menyelesaikan lomba dengan catatan waktu lebih baik dari rekor pribadi jadi muncul.

Waktu resmi di Borobudur Marathon

Dan sepertinya saya harus mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak yang memakai rok tutu hijau. Sekitar 2 km terakhir saya melihatnya berlari di depan saya. Sepertinya memang dari salah satu kelompok lari di Jakarta. Dia diiringi pacer dan pemandu sorak yang menyesuaikan pace dengan si mbak ini. Lumayan kencang sebenarnya. Tapi saya kok somehow gak terima kalau harus finish di belakang si Mbak Rok Tutu. Saya kemudian mengerahkan tenaga saya dan memacu pace secepat-cepatnya di finish 2 km terakhir. Tidak peduli HR merah padam. Alhamdulillah memang kemudian saya bisa finish dengan catatan Personal Best. 2 jam 20 menit.

Menyalip Mbak Rok Tutu 🤣

Beberapa Catatan Penyelenggaraan Borobudur Marathon

Borobudur Marathon ini salah satu ajang lari prestis di Indonesia. Selain Bali Marathon dan Pocari Run. Untuk dapat slot lari saja kita harus deg-degan menunggu hasil lotre. Alhamdulillah dapet. Tapi memang jadinya ramai sekali. Dan kota Magelang sepertinya hampir tak mampu menampung antusias runners yang datang dari penjuru Indonesia. Yang sudah kangen event lari akbar yang beberapa tahun ini terkendala karena pandemi.

Saat pengambilan Race Pack, jalanan utama kota Magelang macet total. Semua lalu lintas terpusat di lokasi pengambilan Race Pack di Hotel Grand Artos Magelang. Kami yang datang dari Jogja pun harus satu jam lebih menempuh kemacetan.

Tidak sadar berlari berdampingan dengan artis Gladys Suwandhi 🤣

Antusiasme partisipan ini juga berdampak pada akomodasi. Hotel dan penginapan yang memang tidak banyak di Magelang jadi fully booked. Saya dan Sulis yang memang telat memesan penginapan tidak kebagian kamar. Untungnya ada budi baik dari teman lama Cika dan Agung yang memperbolehkan kita tidur satu kamar berempat. Dengan tambahan Extra Bed. Yang ternyata membuat trip lari kita kali ini justru lebih memorable. hehehe.

Dari sisi event larinya sendiri, ada beberapa catatan.

Yang pertama adalah jam start. Di penghujung tahun ini matahari sebetulnya terbit lebih awal. Subuh saja di Borobudur dapat dilakukan sebelum jam 4 pagi. Namun panitia somehow tetap memulai Start untuk Marathon jam 5.00 pagi, Half Marathon jam 5.30 dan 10K jam 6.00. Akibatnya memang pelari merasakan hawa yang lebih panas di akhir lomba. Bahkan untuk peserta Marathon, Panitia memutuskan untuk menghentikan lomba di jam 10 pagi bagi yang belum selesai. Karena secara standar marathon dunia hawa sudah terlalu panas dan dapat membahayakan peserta.

Rute memang cukup menarik karena masuk ke dalam desa-desa dengan elevasi yang naik turun. Pandoan sorak seperti yang sudah saya singgung di atas terasa lebih meriah dari Bali Marathon. Namun kondisi agak kurang diuntungkan dengan kemarau panjang di Indonesia tahun ini. Jadinya keindahan alam jadi berkurang. Saya yang mengharapkan lari di tengah-tengah sawah menghijau, terpaksa kecewa. Karena sawahnya kering. Begitu pula dengan rumput dan pepohonan sekitar. Jadi coklat dan gersang. Jadi kurang dapat foto-foto cantik yang instagramable.

Berlari melewati ilalang dan pohon yang gersang

Untuk Race Village pun yang jadi ajang pertemuan dan ekshebisi sponsor pun terasa crowded dengan banyaknya peserta yang hadir. Dan lokasi pun tidak cukup luas untuk menampung para pelari yang baru finish. Kami pun lebih memilih untuk beristirahat dan menunggu teman yang belum finish di area Taman Borobudur seperti saat sebelum start. Walaupun goodie bag setelah finish cukup generous dengan memberikan air mineral, pisang dan juice yang menyegarkan.

Secara keseluruhan, impresi dan pengalaman dari mengikuti lomba Borobudur Marathon ini masih positif. Apalagi dengan berlari (dan bobo) bareng dengan teman-teman Sparungga membawa kenangan tersendiri. Tahun depan Insya Allah diulang!

Me and my Borobudur Marathon medal

One Comment Add yours

Leave a comment