Perjalanan ke Israel yang Mencerahkan

AQSA 12
Dome of the Rock, di kompleks Masjidil Aqsa
Perjalanan saya ke Israel, khususnya ke Masjidil Aqsa di Jerusalem kemarin betul-betul berkesan. Bukan hanya berkesan, namun juga memberikan banyak pelajaran. Pelajaran mengenai negara yang penuh kontroversi ini, dan kehidupan di dalamnya.

Sebelumnya, banyak miskonsepsi yang saya miliki mengenai Israel, Jerusalem dan Al Aqsa, tempat tujuan utama kami ke Israel. Alhamdulillah, berkat pengalaman saya langsung mengunjungi, mengobservasi dan berdasarkan penjelasan dari guide kami di sana, saya mendapatkan beberapa pencerahan. Berikut ini saya ingin sharing beberapa di antaranya:

Miskonsepsi 1: Masjidil Aqsa adalah Masjid dengan Kubah Emas

Oh, jadi bukan yang berkubah emas? Betul yang berkubah hitam dong?

Jawabannya: dua-duanya adalah Masjidil Aqsa. Lho, kok bisa?

Karena ternyata (ini menurut keterangan guide kita yang sangat informatif, Feraz), yang disebut sebagai Masjidil Aqsa itu adalah kompleks seluas 144.000 m2  yang terletak di timur kota Jerusalem, atau tepatnya di kawasan kota lama Jerusalem. Di dalam kompleks ini terdapat dua bangunan masjid – yakni masjid berkubah hitam, dan masjid berkubah emas.

AQSA 2.jpg
Saat guide kami, Feraz menjelaskan mengenai Masjidil Aqsa di dalam Dome of the Rock
Dalam sejarahnya, secara etimologis dari bahasa Arab, masjid itu berarti “tempat bersujud”. Dulu saat Rasulullah mendapat perintah dan melakukan perjalanan spiritual Isra Miraj, Rasulullah melakukan sholat di daerah ini, di lapangan luas yang terletak di kota Jerusalem. Dan disebut “Aqsa” yang berarti “jauh” dalam bahasa Arab, karena tempat ini merupakan ‘masjid’, atau tempat bersujud Rasulullah yang jauh dari Mekah, kediaman Rasulullah saat itu. Pada saat itu, belum ada bangunan masjid. Masjid yang kini sering diacu sebagai ‘Masjid Al Aqsa’, yakni masjid berkubah hitam baru dibangun di tahun 679M oleh kilafah Islam di bawah Umar bin Khattab yang menguasai Jerusalem pada saat itu. Hal ini terjadi setelah peristiwa Isra Miraj, bahkan puluhan tahun setelah Rasulullah berpulang.

AQSA 10
Masjid Kubah Hitam, atau yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Aqsa

AQSA 11
Jamaah shalat Ashar sholat di luar gerbang masjid Al-Aqsa
AQSA 14
Interior dalam Masjid Al-Aqsa
Sedangkan masjid berkubah emas, sejatinya adalah bukan masjid. Masjid tersebut sebetulnya lebih berfungsi sebagai museum. Didirikan untuk melindungi batu yang diyakini sebagai tempat berpijak Rasulullah dalam melakukan perjalanan menemui Allah SWT ke sidratal muntaha (surga). Batu tersebut juga sebelumnya merupakan arah kiblat yang digunakan untuk berdoa oleh kaum Yahudi dan Islam sebelum Rasulullah mendapatkan perintah dari Allah untuk memindahkan arah kiblat ke Mekkah.

Batu ini juga dikenal sebagai “batu melayang”, karena bentuknya yang merongga besar di tengah, seakan-akan bagian atasnya hampir terpisah dari bagian bawah (lihat gambar). Penyebabnya diyakini oleh kaum Muslim karena batu tersebut ingin mengikuti Rasulullah terbang ke surga, namun ditahan oleh Malaikat Jibril. Oleh karena itu, batu ini memiliki arti yang sangat penting bagi kaum Yahudi dan Muslim. Tak heran, dahulu batu ini sering dicuri atau diambil bagian-bagiannya oleh warga Jerusalem dan sekitarnya. Untuk melindungi hal tersebut maka oleh kalifah Islam yang menguasai wilayah ini, dibangunlah bangunan masjid berkubah emas untuk melindungi batu dari hal tersebut. Oleh karena itu kini bangunan ini akrab dikenal sebagai ‘Dome of the Rock’ (Kubah batu).

AQSA 4
Memasuki rongga “Batu Melayang”. Di atas terlihat gunung batu yang pagar sedang direnovasi
AQSA 3
Rombongan kami di bawah “Batu Melayang”
Jadi pada saat ini ada dua ‘masjid’ besar di dalam kompleks Masjidil Aqsa, yakni masjid berkubah hitam (sering disebut Masjid Al-Aqsa) dan masjid berkubah emas (Dome of the Rock). Keduanya saat ini dipakai untuk sholat. Hanya saja memang Imam berada di masjid kubah hitam, dan masjid berkubah emas hanya dipakai pada shalat Jumat, sebagai tempat sholat jamaah wanita. Sedangkan jamaah lainnya sholat di Masjid Al-Aqsa, atau di pelataran luas di sekitar dua masjid ini. Oleh karena itu, kini yang lebih sering disebut sebagai Masjid Al Aqsa adalah masjid berkubah hitam, sedangkan kompleks Masjidil Aqsa, dikenal sebagai Al-Haram Asy-Syarif atau “tanah suci yang mulia”.

img_3153
Saya dan Istri di depan Dome of the Rock, dan Papan penunjuk jalan menuju Masjid Al-Aqsa
Di sebelah barat dari kompleks Masjidil Aqsa, terdapat tempat yang populer dikenal sebagai “Wailing Wall” atau “Tembok Ratapan”. Tempat ini berupa tembok batas kawasan Masjidil Aqsa yang digunakan oleh warga Yahudi untuk berdoa. Awal kenapa tembok ini disebut tembok ratapan, karena dahulu warga Yahudi selalu terlihat menangis dan meratap di tembok ini. Dipercayai, warga Yahudi meratapi nasib mereka, karena tempat suci mereka, the ‘Mount Temple‘ (yang saat ini dikenal sebagai Masjidil Aqsa) yang di dalamnya terdapat batu kiblat pemujaan, saat ini tidak bisa mereka masuki lagi.

AQSA 6
Tembok Ratapan, atau Tembok Barat dilihat dari dalam Kota Lama Jerusalem. Terlihat Dome of the Rock sebelah kiri, dan Masjid Kubah Hitam (Al-Aqsa) di sebelah kanan
AQSA 7
Warga Yahudi di Tembok Ratapan
Kini, warga Yahudi tidak lagi menyebut tembok ini sebagai “Tembok Ratapan”, karena mereka merasa sebutan tersebut merendahkan warga Yahudi. Jadi kini mereka menyebutnya sebagai “Western Wall“, karena letaknya di tembok sebelah barat kompleks Masjidil Aqsa.

Sedangkan bagi warga muslim, bagian di balik “Tembok Ratapan” ini disebut sebagai “Tembok Al-Buraq”, karena dipercaya di sisi balik tembok ini terletak tempat Buraq, mahkluk ajaib yang dipakai Rasulullah berangkat ke surga, dikandangkan.

AQSA 9
Sisi di balik Tembok Barat, atau Tembok Ratapan. Warga Yahudi tidak bisa melihat sisi ini 🙂
AQSA 13
Plakat yang menyebutkan bahwa di tempat inilah Al-Buraq dikandangkan
 

Miskonsepsi 2: Sulit untuk beribadah di Masjidil Aqsa, karena berada di wilayah Israel

Memang betul Masjidil Aqsa berada di dalam wilayah teritorial negara Israel. Bahkan untuk memasuki negara ini kami harus melalui pemeriksaan ekstra ketat. Total paling tidak ada 5 checking points yang dilakukan oleh petugas imigrasi Israel baru kami dapat memasuki wilayahnya. Sekitar 2 jam kami harus mengantri dan mengikuti proses pemeriksaan. Dan ini masih termasuk cepat! Ada cerita rombongan lain yang menghabiskan waktu 12 jam baru dapat lolos pemeriksaan. Ada juga rombongan lain yang sebagian Jemaah-nya tidak bisa lolos pemeriksaan sehingga batal masuk ke Israel. So consider ourselves are very blessed!

 

Tanda masuk Negara Israel yang diberikan saat lolos imigrasi. Jangan sampai ada cap dari Negara Israel di paspor Anda, atau Anda dapat ditolak masuk lagi ke Saudi Arabia!
 
Tapi setelah masuk ke dalam negara ini, dan berada di kota Jerusalem, everything looks normal. Well, except for some of Israeli police guards in almost every corner of the city, carrying big guns 🙂 (lihat gambar di bawah)

AQSA 19
Polisi Israel dengan Senjata Otomatis
AQSA 18
Pemandangan seperti ini kerap ditemui di penjuru kota Jerusalem
Jerusalem betul-betul menjadi kota yang terbelah menjadi dua: wilayah Yahudi di sisi barat, dan wilayah Muslim di sisi timur. Seluruh kota Yerusalem berada di bawah otoritas Israel, namun embarkasi antara Yahudi dan Muslim betul-betul jelas. Khususnya dalam soal beribadah. Sebagai contoh, Kompleks Masjidil Aqso adalah kompleks yang hanya boleh dimasuki oleh seorang Muslim, baik itu dari warga Jerusalem ataupun turis. Dan untuk itu setiap gerbang masuk kompleks Masjidil Aqso dijaga oleh tentara Israel. Kadang aneh kalau dipikir, tapi mereka bertindak professional dalam menjalankan tugasnya. Saya pernah di-stop dan ditanyai petugas, “are you moslem?”. Hehe kata rekan Umroh saya, karena wajah saya agak mirip orang Cina.

Tapi di luar itu, kami merasa beribadah di Masjidil Aqsa sangat leluasa. Kami dapat beribadah sholat lima waktu, tanpa dipersulit. Gerbang dan masjid selalu terbuka. Perkecualian hanya pada shalat subuh, karena Masjidil Aqso ditutup setelah waktu Sholat Isya, dan gerbang baru dibuka pukul 4.30 pagi, atau sekitar 30 menit sebelum adzan subuh.

AQSA 20
Menunggu gerbang menuju Kompleks Al-Aqsa dibuka saat subuh
AQSA 5
Suasana Kota Tua Jerusalem, jalan yang sehari-hari kita lewati untuk menuju Al-Aqsa
Di dalam kawasan Masjidil Aqso, it’s like sanctuary for moslems. Anak kecil dan wanita terlihat bermain dan berlari-lari dengan gembira di taman sekitar masjid. Warga Jerusalam tua, muda, pria, wanita dan anak-anak menyambut para Jemaah pendatang dengan ceria, seraya tak lupa mengucap “Assalamu’alaikum”. Dan ratusan Jemaah datang ke masjid untuk menunaikan shalat wajib berjamaah. Ada perasaan adem “mak nyeess” di dalam dada, menyadari bahwa saudara-saudara kita ini hidup di dalam negara yang penuh kontroversi dalam kehidupan beragamanya. Namun mereka tetap terlihat hidup normal, bahagia, santun dan taat menjalankan ibadah. Subhanallah.

AQSA 1
Anak-anak bermain di taman Masjidil Aqsa
AQSA 21
Saya dan istri berpose di taman Masjidil Aqsa
 

 

Miskonsepsi 3: Jerusalem dan Betlehem adalah kota kaum Yahudi dan Nasrani

Sebelum mengunjungi dua kota yang disebut “suci” ini, saya beranggapan bahwa kedua kota adalah kota kaum Yahudi dan Nasrani. Ternyata, dilihat dari jumlah penduduk, aktifitas warna dan simbol-simbol yang ada di dua kota ini, Jerusalem dan Betlehem are much more like moslem cities than anything else. Populasi Jerusalem terdiri dari 50% warga Yahudi, 47% Muslim, dan sisanya 3% Nasrani. Sedangkan Betlehem, tempat yang diyakini sebagai kelahiran Nabi Isa (atau Yesus), ternyata 70% populasinya adalah Muslim. Dan diluar tempat kelahiran Nabi Isa tersebut, sepanjang pengamatan saya memang dipenuhi oleh bangunan-bangunan milik warga Muslim. Lebih jauh lagi, saat ini sebetulnya Betlehem dan sebagian Jerusalem (bagian timur) berada di bawah administrasi dan pengawasan Palestina.

AQSA 16
Pemandangan Kota Betlehem dari salah satu bukit
AQSA 15
Signboard Rumah Sakit di Betlehem – Notice the Arabic letters?
Saya termasuk yang terkejut saat menyadari fakta ini. Dan lebih terkejut lagi saat berada di Jerusalem dan Betlehem, saya lebih banyak mendapati warga yang muslim dan berbahasa Arab. Well, mungkin saat di Jerusalem saya tinggal di kawasan warga muslim. Tapi tetap saja, ini fakta baru buat saya. Yang menarik, warga muslim tersebut betul-betul enggan berhubungan dengan segala sesuatu yang berbau “Yahudi”.

Pernah saya tanya kepada salah seorang muslim Palestina penjaga toko kue di Jerusalem, bagaimana mengucapkan ‘terima kasih’ di sana.

Ia menjawab, “Syukron” (yang artinya “Terima Kasih” dalam bahasa Arab).

Saya tanya lagi, “Bukan, maksud saya mengucapkan Terima Kasih dalam bahasa di Israel?”

Jawabannya cukup mengagetkan saya. Agak sedikit gusar, dia mengucapkan “La.. La.. La illa hailallah” – sembari menggoyangkan telunjuk, mengisyaratkan pada saya bahwa ia tidak mau berbicara dalam bahasa Yahudi.

AQSA 17
Istri saya, Elok dengan Pemilik Toko Kue di kawasan Kota Lama Jerusalem
Kemudian, dalam kesempatan lain saya juga bertanya kepada muslim Palestina penjaga toko souvenir di Jerusalem, apakah ia suka bepergian ke Jerusalem barat, tempat pemukiman warga Yahudi. Jawabannya “hanya lewat saja, tidak pernah mampir”.

Luar biasa, betul-betul kota yang terbelah dua.

AQSA 23
Suasana Kota Jerusalem. Sebelah kanan adalah tembok yang membatasi Kota Lama Jerusalem
AQSA 22
Salah satu gerbang masuk Masjidil Aqsa yang dijaga oleh Polisi Israel. Selain Muslim, dilarang masuk!
Demikianlah, sedikit sharing pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat hasil oleh-oleh berkunjung ke Israel. Alhamdulillah, semua berjalan lancar, dan saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung negara yang penuh kontroversi ini. Dan sungguh suatu tempat yang unik, dimana sumber dari seluruh ajaran samawi yang ada di Dunia ini berasal: Yahudi, Nasrani dan Islam, namun dengan berbagai macam perbedaan dan kontroversi sejarah yang ada di dalamnya. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Perjalanan ke Israel yang Mencerahkan

  1. Thanks mas uda nyeritain perjalanannya. Jadi nambah pengetahuan hehee…

    Awalnya krn di pengajian IKAVI pak ustad sempet bilang , ada 3 tempat yang suci utk muslim. Masjidil haram, Nabawi, Masjidil Aqsa. Trus mikir…. browsing.. penasaran.

    Eh ndilalah kok mas ibnu abis umroh lnjut ke Aqsa. Alhamdulillah jadi tambah tau dr cerita dan foto.

    Maturnuwun!!

  2. Inspiring pak….i have put this in my bucket list…semoga kesampaian pergi at least setelah baby dah 2 tahun….😊😊😊😊

    1. Insya Allah Shanti… saya doakan semoga juga bisa berangkat ke sana… Aamiin. Thanks for the time to read and appreciate this post 🙂

  3. Assalamu’alaikum pak
    tulisannya sangat bermanfaat dan informatif, sudah lama sekali kami sekeluarga ingin ziarah ke Masjidil aqsa namun belum terlaksana, semoga Allah mudahkan dan ijabah keinginan kami dalam waktu dekat.. aamiin
    kalau boleh tahu bapak dan istri menggunakan travel apa?
    terimakasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s