
Salah satu aktifitas yang digemari oleh Rafif, anak saya, saat berlibur di New Zealand kemarin adalah melihat bintang.
Maklum, di tanah air, khususnya di Jakarta tempat kita tinggal, hampir mustahil dapat melihat deretan bintang berkelap-kelip di langit malam. Selain karena Jakarta kota Metropolitan yang bergelimang cahaya, udara yang polutif juga membuat kita semakin sulit melihat langit yang cerah.
Sebaliknya di New Zealand, apalagi kalau kita sedang berkemah di camp yang berada di alam bebas, maka sekali pandang ke atas langit, maka dengan mudah kita bisa saksikan kumpulan rasi bintang di segala penjuru langit.
Di Lake Hawea, salah satu spot camp alam terakhir yang kita inapi, akhirnya kita dapat mengabadikan keindahan langit malam dengan ribuan bintangnya.

Menyadari waktu di NZ sudah tidak banyak lagi, kami nekad keluar di tengah malam yang dingin. Malam itu suhu di bawah 7 derajat celcius. Kondisi Camp di Lake Hawea tidak banyak penerangan, yang membuat cukup ideal untuk melakukan aktifitas star photography.
Kami pun bersiap. Keluar dari campervan mengenakan jaket berlapis sweater, dibantu penerangan lampu kepala yang ternyata sangat berguna. Kami berjalan menuju pinggiran danau, di mana area benar-benar gelap. Jalan turun menuju ke pinggir danau harus berhati-hati, karena selain gelap, contournya miring berbatu yang berisiko kita jatuh. Mana kita membawa perlengkapan fotografi yang cukup lengkap dan berat. Tripod, Camera Mirrorless, lensa dan iPad.

Terus terang saya belum pernah melakukan hunting stars photography. I have zero basics and experience in this. Jadi trial and error. Saya mencoba menerapkan kaidah melakukan foto night landscape. ISO rendah, dan bukaan kecil, yang dikompensasikan dengan shutter speed yang panjang. Dalam night landscape photography, teknik ini akan berhasil menghadirkan foto nightscape yang tajam dengan efek lampu berbintang. Tapi ternyata untuk stars photography: gagal total. Saya hanya mendapatkan foto langit gelap tanpa bintang. Kurang cahaya yang masuk.
Sampai kemudian saya browsing tips for stars photography di internet. Ternyata teknik yang saya lakukan salah besar. Berikut adalah cuplikan suggested setting for stars photography:
Camera Settings:
- Manual settings
- Aperture at f/2.8 (if your lens doesn’t have f/2.8, use the largest aperture available)
- Shutter Speed maximum to stop movement of stars:
- For full-frame cameras:
- 14mm at 30 seconds
- 16mm at 25 seconds
- 24mm at 20 seconds
- 35mm at 15 seconds
- For APS-C cameras:
- 10mm at 25 seconds
- 16mm at 20 seconds
- 22mm at 15 seconds
- Set ISO to 3200 for f/1.4. If you have an f/2.8 lens then ISO 6400 will be okay, without moonlight.
- Set white balance to Kelvin temperature 3400 to 4400 or as desired.
- Focus the lens.
- Take a photo and review.
- Use the magnifier on your LCD to make sure the stars are in focus.
- Check histogram to get a bright enough exposure to fill up to the second bar from the far left.
- Check white balance and adjust if desired.
Intinya adalah membuka lebar-lebar alur cahaya ke dalam sensor kamera. Dan ternyata benar, sekali jepret deretan bintang di galaksi Bima Sakti langsung terekam di frame. Yang perlu kita lakukan hanya bereksperimen dalam menambah atau mengurangi waktu shutter speed untuk mendapatkan seberapa terang langit yang terekam.
Dengan telah terekamnya jajaran bintang dengan cantik, sebenarnya hal yang perlu dilakukan adalah mencari foreground untuk foto langit kita.

Nah ini kelemahan Lake Hawea pada malam hari itu. Tidak ada obyek yang bisa digunakan sebagai foreground yang cantik, kecuali pepohonan. Saya dan Rafif berusaha mencoba mengambil ke arah danau, tapi ternyata posisi sabuk Bima Sakti yang penuh dengan bintang tidak pada sisi tersebut. Jadi kurang bagus untuk diabadikan. Atau mungkin juga karena ketidaktahuan kami terhadap lokasi dan posisi langit.

Anyway, Rafif sudah sangat senang dan puas dengan tangkapan foto bintang kita. Not bad for the first time. Mungkin harus kembali mencari waktu dan lokasi yang lebih oke. Paling tidak kita sekarang sudah tahu caranya!
jadi ingat lagi kamera DSLR yg sudah lama di gudang…..terimakasih telah membangkitkan ingatan ada kamera yang terbengkalai….
Hehehe sama sama. Saya juga kalau lagi traveling baru bawa kamera “serius”. Btw ini Mirrorless, DSLR saya (Nikon) juga nangkring aja di glass box 🤣