Pembelajaran Tahun 2025: Artificial Intelligence

Dua sisi mata pedang dari dampak Artificial Intelligence

Beralih profesi (kembali) sebagai konsultan dan trainer di tahun 2025 mengajarkanku banyak hal dalam konteks keilmuan profesi sebagai praktisi HR/SDM. Bahkan saya sering berucap kalau apa yang saya pelajari di tahun 2025 lebih dari apa yang kupelajari lima tahun terakhir. Apalagi di tahun 2025 saya juga kembali menyandang status sebagai mahasiswa. Mahasiswa Program Doktoral yang menuntut saya untuk banyak membaca referensi dari jurnal dan buku.

Saya akan menyarikan beberapa hal yang utamanya saya pelajari di tahun ini. Namun mungkin saya akan bagi dalam beberapa tulisan.

Untuk kali ini saya akan membahas mengenai Artificial Intelligence (AI), atau yang dialihbahasakan dengan cantik di Indonesia sebagai “Akal Imitasi”.

Kebetulan memang AI menyentuh level mainstream dan berkembang luar biasa pesatnya di tahun 2025. Menjadi subscriber Grok (awalnya) dan kemudian ChatGPT, bisa dibilang untuk pekerjaan dan studi saya, AI sudah menjadi partner yang tidak terpisahkan.

Pengalaman Signifikan Pertama

Sebelumnya, saya memang sudah sering menggunakan AI. Tapi sering kali untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Misalnya untuk menulis caption Instagram, balas membalas banter di Twitter, atau mencari tips Fantasy Premier League. Ora eneng duwite 🙂

Pengalaman pertama saya belajar menggunakan AI untuk membantu pekerjaan secara signifikan, adalah saat saya mendapat tugas untuk melakukan assessment sekitar 40 pegawai menengah di salah satu klien saya.

Mencari referensi mengenai metode dan rubrik kompetensi untuk melakukan assessment tersebut, saya mencoba untuk bertanya pada Grok.

Hasilnya sungguh membuat saya terkejut.

Entah mungkin karena saya memasukkan prompt yang tepat, Grok memberikan saya output rubrik kompetensi dan metode untuk melakukan assessment secara 1-on-1 interview yang menurut saya sangat spot on. Hanya sedikit yang saya perbaiki untuk menyesuaikan dengan konteks klien saya. Kalau saya harus membuat hal yang sama, mungkin saya butuh waktu paling tidak seminggu. Ini hanya dalam 5 menit.

Singkat cerita, rubrik dan panduan assessment tersebut saya pakai untuk melakukan assessment, dan hasilnya memuaskan dari sisi klien.

Bahkan di saat saya secara mendadak harus menyiapkan presentasi hasil dalam waktu pendek karena diminta klien secara mendadak, dengan bantuan Grok saya dapat menyimpulkan hasil dan memberikan rekomendasi berdasarkan dari tabulasi nilai assessment di Excel yang saya unggah di prompt. Voila, there went our successful presentation. Luar biasa.

Bergantung pada AI

Keberhasilan tersebut membuat saya lebih sering menggunakan AI untuk pekerjaan. Dalam membuat proposal, dalam membuat materi pelatihan, bahkan saya sering meminta AI untuk membantu menerangkan kepada saya materi pelatihan yang harus saya ajar namun saya kurang paham.

Tak hanya dalam pekerjaan. Dalam studi saya juga begitu. Walaupun jelas-jelas dalam membuat tulisan akademik saya harus menulisnya sendiri, tapi AI sendiri sudah sangat membantu dalam proses pembelajaran. Untuk membaca puluhan jurnal, kini AI dapat membantu menyarikannya. Untuk membuat tugas-tugas mereview dan mengkritisi artikel, AI dapat menyingkat waktu cuman 10% nya.

Bahkan di akhir tahun kemarin saya mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh sekelompok Dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Mereka mengembangkan Watase Uake, sebuah aplikasi web-based yang memanfaatkan AI untuk dapat mencari artikel-artikel relevan sesuai kata kunci yang kita maksudkan untuk membantu membuat sebuah Sistematic Literature Review (SLR). Sebuah manuskrip SLR yang sebelumnya membutuhkan berbulan-bulan karena harus mencari, meringkas, dan membaca 40 paper atau lebih, dapat dipersingkat menjadi 1-2 hari dengan bantuan AI.

AI berkembang sedemikian pesatnya. Saat ini saya sudah tidak bisa membayangkan hidup tanpa AI. Saya sudah bergantung pada AI. Seperti halnya kita bergantung pada kemajuan teknologi lain seperti mobil, pesawat, handphone ataupun internet.

Anak Intern

Walaupun kita bergantung pada AI, adalah bijaksana untuk mengingat kalau AI pun memiliki keterbatasan.

Salah seorang Professor di kampus saya di Prasetiya Mulya punya analogi bagus mengenai AI ini. Ia mengatakan kalau bekerja dengan AI itu seperti kita bekerja dengan “Anak Intern”. Anak muda yang rajin dan pintar luar biasa. Yang mampu membaca dan menghafal semua buku dan artikel di perpustakan dunia, dan memberikan rangkuman isinya kepada kita.

Tapi at the end of the day, AI masih membutuhkan sentuhan manusia dalam menilai apakah rangkuman isinya itu benar atau tidak. Karena kadang seperti Anak Intern, AI juga punya kecenderungan untuk sok tahu. Bahkan karena ini adalah generative AI (menciptakan pengetahuannya sendiri), maka AI juga dapat berhalusinasi. Jadi output yang dihasilkan pun harus diverifikasi dari yang memahami konteks.

Di sinilah pengalaman seorang profesional seperti kita diuji. Secara kasat mata memang hasil AI terlihat meyakinkan. Tapi setelah intensif menggunakan AI selama setahun ini, pengalaman saya kerap kali menunjukkan kalau kita tidak bisa serta merta menggunakan hasil AI apa adanya. Kita masih memiliki peran untuk menyaring dan memodifikasi output AI untuk dapat digunakan secara tepat.

Tapi sampai kapan? AI semakin pintar, dan sudah pasti semakin bermanfaat untuk banyak sendi kehidupan kita. Hidup kita akan semakin tergantung pada AI. Baik positif ataupun negatif.

Dampak Negatif

Kalau saja saya yang baru serius memakai AI selama satu tahun sudah merasa bergantung pada AI. Maka bisa dibayangkan apa jadinya tiga lima tahun lagi. AI akan semakin merasuk ke dalam proses bisnis institusi yang menyediakan berbagai jasa pelayanan. Dari transportasi, pendidikan, kesehatan. Everything in our facets of life will depend on AI. Bagaimana bila kekuatan kendali AI ada di tangan segelintir orang atau kelompok. Bagaimana bila mereka memiliki niat jahat? Bagaimana bila mereka tamak untuk menguasai dunia? How scary?

Memahami potensi ini di masa mendatang, Bernie Sanders, politikus senior Amerika Serikat, menyempatkan diri membuat video di YouTube. Yang intinya meminta kepada elite politik Amerika Serikat untuk menuntut transparansi dan kebijakan pengendalian AI ini di masa mendatang.

Keprihatinan Bernie Sanders mengenai AI

Tapi tampaknya sebagian besar dunia masih belum sadar. Kita masih keasyikan bermain-main dengan AI. Membuat profile picture yang unyu, memproduksi video hoaks, ataupun menciptakan lagu secara instan. Istilahnya, AI masih dilihat sebagian besar awam sebagai hal positif, walaupun dampak pada working class sudah mulai terlihat.

AI dapat menggantikan banyak tugas dan pekerjaan. Dengan dalih efisiensi, perusahaan akan mengurangi jumlah pekerja. Digantikan dengan AI yang lebih cepat, lebih teliti dan lebih murah. Tidak banyak protes lagi. Ke depannya pasti akan semakin masif. Namun mungkin kita sedang seperti sebuah katak dalam cerita “parable of boiled frog”. Pada saat kita menyadari bahaya AI, kita sudah tidak mampu menghentikannya. Kita pun akan bernasib sama dengan si katak, mati terebus air mendidih yang dia tak sadari semakin panas.

Kebetulan saya kemarin baru menyaksikan potongan video dari Professor Geoffrey Hinton, salah seorang “Godfather of AI”. Berbicara di depan forum di Hobart, Tasmania Australia, dia menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta mengenai apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menghentikan dampak negatif AI ini.

Professor Geoffrey Hinton, Godfather of AI

Jawabannya ada di tangan politisi dunia ini. Mereka yang memiliki kemampuan untuk mengatur kebijakan untuk meminisasi dampak negatif AI terhadap manusia. Hanya saja, tampaknya politisi tidak akan bergerak apabila konstituen nya (rakyat seperti kita) tidak bersuara lantang. Dan untuk bersuara lantang, dibutuhkan pemahaman dari mainstream audience mengenai hal ini.

Jadi kuncinya adalah edukasi masyarakat. Ia memadankan situasi ini dengan saat “climate change” masih belum dilihat menjadi ancaman dunia. Melalui edukasi bertahun-tahun akhirnya semakin banyak rakyat yang menyuarakan ini. Dan ini kemudian mendorong Lembaga Swadaya Masyarakat dan control groups untuk menekan politisi meneken pakta-pakta untuk mengurangi dampak iklim.

Hal yang sama harus terjadi pada AI. Entah berapa tahun lagi. Semoga belum terlalu terlambat.

Dampaknya pada Leadership dan HR Management

Sebagai penutup, apa dampaknya pada Leadership dan HR Management? Dua hal yang dekat lekat dengan profesi saya saat ini.

Saya mengutip tulisan menarik di Harvard Business Review dari Tomas Chamorro-Premuzic dan Amy Edmonson mengenai hal ini:

..the growing power of AI is making traditional expertise less exclusive: It is allowing beginners to generate expert-level work. 

All this means leaders must now lean more on emotional intelligence; they must have the ability to create genuine connections and understand others’ feelings.

They must bring people together, connect ideas, continually learn, and blend diverse perspectives. They need to understand when to step back, when to support others, and when to rely on someone else’s specialized knowledge.

Intinya, dengan semakin berkembang dan maraknya AI dalam kehidupan kita, justru di sini leaders dituntut untuk memiliki kepekaan emosional. Untuk dapat lebih menjadi “manusia” yang “memanusiakan” manusia di sekelilingnya. Dengan cara kolaborasi, pemberdayaan, pemberian dukungan, dan memberi kesempatan bagi anggota timnya untuk tumbuh. Sudah siapkah kita?

Leave a comment