
Sore ini kami angkatan FE 92 UGM ber halal bi halal. Halal bihalal istimewa. Karena sambil main ke rumah kakak kelas. Yang bukan orang biasa. Pernah dua kali jadi kontestan pemilu. Sekali Pilgub, sekali Pilpres.
Siapa lagi kalau bukan Mas Anies Baswedan.
Beliau ini dulu mahasiswa FE UGM angkatan 89. Angkatan yang ‘ngospek’ kami saat baru masuk ke Bulaksumur. Saat kami masuk menjadi mahasiswa baru FE UGM, Mas Anies adalah Ketua Senat Mahasiswa UGM. Namanya sudah cukup terkenal, terutama di kalangan aktivis mahasiswa.
Ajakan berhalal bihalal ke rumah Mas Anies ini diprakarsai oleh sahabat saya, Dino Martin, yang sejak dulu memang sudah akrab dengan Mas Anies. Sama dengan Dino, teman-teman FE UGM 92 yang ikut bertandang ke rumah Mas Anies ini umumnya berangkat dengan membawa rasa keprihatinan yang sama. Keprihatinan kepada negara dan bangsa, yang semakin lama kok semakin memburuk keadaannya.
Walaupun niat untuk pertemuan ini sejatinya halal bi halal, tapi tak terhindari diskusi yang berjalan banyak mendiskusikan hal tersebut. Utamanya dalam konstelasi suasana makro ekonomi global yang tidak menentu dan semakin memperburuk kondisi negara ini.
Harapan yang Disematkan Dalam Nama
Menanggapi keresahan ini, Mas Anies bercerita mengenai Kakek beliau, A.R. Baswedan. Seorang pahlawan nasional yang berjasa menyiapkan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Pada saat itu Pak A.R. Baswedan baru memiliki anak perempuan. Lahir di tanggal 1 Juli 1945. Saat itu kondisi dunia juga sedang tidak menentu. Perang Dunia II masih berlangsung. Indonesia masih dalam jajahan Jepang dan 95% bangsa Indonesia buta huruf. Kondisi ekonomi negara morat marit.
Dalam semangat dan keyakinan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Pak A.R. Baswedan menamai anaknya “Imlati”. Singkatan dari “Indonesia merdeka tidak lama lagi. Insya Allah”.
Optimisme dan doa disematkan dalam nama anak. Dan Alhamdulillah, hal tersebut terwujud. Di bulan Agustus 1945 Indonesia benar-benar merdeka.
Pesan Mas Anies dari cerita ini adalah: kita harus tetap menjaga optimisme. Kondisi yang memprihatinkan ini tidak akan selamanya. Di saat kondisi beralih dan melahirkan momentum perubahan, kita harus siap untuk mengambil peran.
Negara tidak Sedang Baik-Baik Saja
Memang negara ini sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Menurut Mas Anies, asal muasalnya karena pemerintahan ini memenangkan pemilu dengan intervensi. Jadinya tidak memiliki kepercayaan diri terhadap elektabilitas mereka sendiri. Seluruh partai dan kepentingan diakomodasi. Posisi tawar jadi rendah.
Untuk mempertahankan posisi, maka keluarlah program-program ajaib nan populis seperti MBG dan KDMP. Begitu pun tidak dinaikkannya harga BBM subsidi, walaupun kita tahu harga minyak dunia meroket, dan hampir seluruh negara tetangga melakukannya. Pemerintah mengambil kebijakan populis untuk “memelihara dukungan rakyat”. Dalam persamaan ilmu ekonomi makro, Government spending (“G”) marak diwarnai untuk Consumption (“C”). Multiplier effect nya rendah.

Dan semua ini butuh biaya yang sangat besar. Kalangan menengah seperti kita, pasti semua merasakan pelemahan daya beli. Pajak turun. Begitu pula kepercayaan investor asing terhadap Indonesia, akibat data ekonomi dan market yang tidak reliable (ingat kasus MSCI dan angka GDP Indonesia?)
Kalau sudah begini dari mana pemerintah mencari uang? Ya hutang. Di saat investor asing menjauhi Indonesia karena fundamental yang meragukan, pemerintah Indonesia menggantungkan diri pada hedge fund raksasa yang kita semua tahu siapa di belakangnya. Hence you can see how it affects our foreign political stance.
Semua ini menciptakan imbalance. Dalam anggaran. Dalam tatanan politik. Dalam tanggapan masyarakat. Saat ini, menurut Mas Anies, di masyarakat rasa takut bersuara masih berada di atas tingkat kekecewaan. Namun apabila imbalance ini dibiarkan, kekecewaan akan terpupuk untuk melewati ambang batas ketakutan. This might be the tipping point. Entah kapan. Bisa jadi sebelum 2029. Jadi kita kudu siap-siap. Siap-siap menghadapi krisis. Siap-siap mengambil peran.
Pembenahan melalui Sistem
Satu pembahasan yang bagi saya pribadi sangat nyantol dalam diskusi dengan Mas Anies, saat saya menanyakan, “belajar dari kekecewaan periode kedua Jokowi, yang mengawali dengan baik, namun akhirnya terpaksa mengalah pada kekuatan politik untuk melanggengkan kekuasaan: Indonesia harus bagaimana sih agar dapat naik kelas?”
Jawaban Mas Anies adalah “political financing”. Sistem pembiayaan politik yang transparan. Sehingga akuntabilitas dapat terjaga. Saat ini kenapa partai politik tidak mau dibiayai oleh APBN? Karena dengan dibiayai oleh APBN, parpol harus siap diaudit.
Sistem akuntabilitas dan yang transparan inilah yang menjadi titik lemah administrasi publik di Indonesia. Makanya Indonesia termasuk negara yang underground economy-nya terbesar di dunia. Sebesar 24% ekonomi Indonesia berada di sektor nonformal, unreported, dan illegal activities. Masih banyak PR dalam pencatatan dan tata kelola untuk membuat administrasi publik tidak bisa “main-main”
Mas Anies mencontohkan rekam jejaknya di Pemprov DKI. Saat beliau membuat F8K, alias “Formulir 8 Kolom”. Di dalam formulir ini setiap aktivitas jajaran dinas Pemprov memaparkan dan menyetujui sasaran dan targetnya. Mulai dari waktu tempuh jalan utama, % warga yang terdaftar BPJS, sampai berapa cepat banjir surut. Semua ada targetnya. Dan dikaitkan dengan TKD (tunjangan kinerja daerah). Ditampilkan secara online. Sistem ini mendorong perubahan perilaku dari para Kepala Dinas, Camat sampai Lurah dan jajarannya untuk mencapai target tersebut.
Sebagai seorang konsultan HR dan Organization Development, prinsip ini yang saya juga percayai sejak lama: “structure drives behaviors”. Untuk merubah perilaku, kita harus merubah sistemnya, strukturnya, lingkungannya. Baru perubahan tersebut dapat menjadi permanen. Tidak cukup dengan orasi, pencitraan apalagi omon-omon.

Akhirnya setelah 3 jam diskusi di Pendopo Anies Baswedan ini kami pun berpamitan. Tentunya setelah menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah, dan potluck dari teman-teman yang budiman. Sembari bercanda ringan menikmati suasana rumah Mas Anies yang luas dan asri. Kami pulang tidak hanya dengan perut kenyang dan hati senang bertemu teman-teman lama. Tapi juga dengan optimisme harapan kalau hari baik akan tiba. Our own version of Imlati. Insya Allah.
Disclaimer: tidak semua tulisan di atas adalah opini Mas Anies. Tapi gabungan dari interpretasi dan opini saya pribadi.
