Konser Guns ‘N Roses Jakarta: Riuh Rendah, Timbul Tenggelam

Saya, Guson dan Godot, regular concert goers fellow, penggemar musik rock sejak dulu kita SMA. Foto di depan gate GBK

Agustus lalu saat menyaksikan closing ceremony Asian Games 2018 saya terpesona dan kagum. Betapa Gelora Bung Karno (GBK) sudah menjelma menjadi venue konser kelas dunia.

Dentuman suara bass dan gitar jernih menggelegar. Dikombinasikan dengan tata lampu yang menawan. Acara yang dikemas dalam bentuk konser menjadi tontonan yang spektakuler.

Terus terang, moment tersebut yang memutuskan saya untuk nonton konser Guns ‘N Roses (GNR) di Jakarta. Sebagai alumnus konser Guns ‘N Roses di Singapura tahun lalu, saya sebenernya nggak terlalu pengen mengulang nonton. Tapi GBK merubah niat saya.

“Wah keren nih kalau GNR manggung di GBK”, demikian pikir saya waktu itu.

Alas, jauh panggang dari api.

Sound konser semalam parah banget. I think it’s the worst sound I’ve ever heard in international concert. 

Bass nya sember. Treble nya pecah. Midrange tidak bulat. Di awal konser kuping jadi sakit, karena seperti denger musik dari tape lawas kualitas rendah. Beneran.

Ditambah lagi dengan suara Axl Rose yang timbul tenggelam.

Vokalnya yang memang dari dulu terdengar “sengau”, terdengar semakin cempreng. Saat menjangkau nada tinggi suaranya tidak konsisten. Kadang pakai falsetto, kadang masih bisa teriak kencang, kadang turun 1 oktaf.

Persis gua pas karaoke 🤣

Suasana GBK sebelum konser dimulai. Megah!

Hebatnya ni orang sepertinya masih sangat percaya diri. Masih lari-lari kesana kemari padahal napas sudah seperti pelari marathon newbie. Masih nekad menyanyikan lagu nada tinggi yang membutuhkan vokal prima. Contohnya lagu slow This I Love, dari album terakhir Chinese Democracy. Padahal nggak usah nyanyi lagu ini juga, nggak ada yang nungguin. Ngapain cari mati.

Untungnya crowd GBK itu orangnya sopan dan baik-baik, seperti umumnya orang Indonesia kebanyakan.

Timbul tenggelamnya suara Axl Rose tetap disambut sorakan riuh rendah penonton. Saat Axl, Duff atau Slash nongol di layar besar samping panggung, fans spontan bersorak. Seperti melihat junjungannya kalau kampanye Pilpres (eh).

Juga saat GNR menyanyikan lagu-lagu populer seperti Sweet Child O Mine, Don’t Cry dan November Rain, crowd sontak karaoke berjamaah. Andai seluruh lagu yang dibawakan populer semua, bisa-bisa Axl Rose magabut

Di luar sound dan vokal Axl yang timbul tenggelam, sebetulnya personil GNR yang lain tampil memukau.

Duff Mc Kagan terlihat gagah dengan bass nya di sisi kanan panggung. Betotan bass terkenalnya di lagu Rocket Queen membuat penonton bergoyang. Ia juga menyanyikan satu lagu “Attitude” dari Misfits, yang, dare I say it, sounds better than Axl. 

Slash juga tetap konsisten dengan gaya bergitarnya sejak 30 tahun yang lalu. Bersembunyi di belakang kacamata hitam dan rambut gimbalnya, Slash is an enigma. Dia tidak banyak berinteraksi dengan penonton, but he let his fingers do all the talking. Petikan gitarnya soulful, melodius sekaligus garang. Kepiawaiannya membuat Slash sebagai crowd’s favorite.

Tapi yang saya paling salut dengan permainannya semalam adalah Richard Fortus. Gitaris ini menghembuskan nafas blues pengganti Izzy Stradlin dengan permainan gitarnya. Petikan gitarnya cepat namun halus. Aksi panggungnya energik dan bersemangat. Mungkin karena paling muda. A proper heir to Izzy’s throne. 

Suasana sebelum dan saat konser

Sayang memang sound system tadi malam tidak maksimal menampilkan kekuatan teknis para personil GNR ini. Suara gitar kadang terlalu cempreng, dan suara drums-nya apalagi. Tidak bulat dan tegas. Why of why, promotor?

Oleh karena sound issue tersebut, lagu terbaik yang dibawakan GNR menurut saya semalam adalah Patience. Karena tidak banyak menghadirkan efek distorsi, alunan lagu terdengar jernih dan jelas. Axl pun di lagu ini dapat bernyanyi dengan baik, secara lagunya bertempo lambat.  Ditambah dengan koor bersama crowd GBK, suasananya “dapet” banget.

Begitulah kesan konser semalam. It has its moments of magic, tapi buruknya sound yang dihasilkan membuat konser kurang berkesan untuk saya.

Mungkin juga karena saya sudah dua kali menonton konser GNR, dan secara penampilan dan sound, show di Singapura tahun lalu jauh lebih baik. Walaupun antusiasme crowd dan kemegahan venue GBK sanggup membuat beberapa kali bulu kuduk merinding.

Bagaimanapun, hadirnya GNR di Indonesia telah mewujudkan mimpi para fans rock Indonesia untuk menyaksikan tiga idolanya tampil lagi sepanggung. Kalau beberapa tahun lalu kemungkinan reuni ini disebut Slash sebagai “not in this lifetime”, dengan berada di GBK semalam I already went twice.

Would I go for third time?

Judging from last night’s experience… maybe not. 

Semalam bukan hanya Axl, Slash dan Duff yang reuni. Saya juga dengan teman-teman lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s