Antara Saya, Axl, dan Guns ‘N Roses

Jangan ketawa dulu lihat foto saya. Saya mau cerita.

Karena besok mau nonton konsernya di GBK saya iseng-iseng mau cerita soal perkenalan saya terhadap grup band satu ini. Terutama mengenai Axl Rose, pendiri sekaligus vokalis band asal Amerika Serikat ini.

Saya pertama kali tahu Guns ‘N Roses di awal tahun 1988, saat menyaksikan video klip “Welcome to the Jungle” di Youth Center, tempat gaul kompleks saya di Bontang.

Di tengah-tengah demam hair metal dengan dandanan meriah dan tata rias glamor, grup band asal Holywood ini seakan-akan melabrak pakem.

Tampil seadanya, sedikit bergaya punk, mereka mendobrak industri musik rock dunia dengan albumnya yang monumental: Appetite for Destruction.

Sesungguhnya dalam blantika musik rock Amerika Serikat di tahun 1987 itu, Guns N Roses sudah mulai meraih reputasi. Bukan melalui rekaman, namun melalui penampilan mereka yang enerjik dari satu klub ke klub lain di Los Angeles. Aksi panggung dan energi yang mereka pancarkan dari atas panggung, seakan membius para penonton yang membalasnya dengan luapan agresivitas.

Itulah kenapa mereka sempat dijuluki “the most dangerous band“, karena sering menimbulkan kerusakan dan kekerasan antar fans saat mereka manggung.

Namun sebelum single Sweet Child O’ Mine diluncurkan di bulan Agustus 1988 (1 tahun lebih setelah album dirilis), Guns N Roses masih dipandang sebagai artis lokal. Album mereka biasa-biasa saja penjualannya.

Barulah saat single ini meledak di pasaran internasional, Axl Rose dan kawan-kawan seketika menjelma menjadi superstar rock dunia. Sweet Child O Mine melontarkan mereka ke pentas dunia. Sama persis saat Stairway to Heaven melejitkan nama Led Zeppelin.

Ketenaran lagu ini yang membawa nama Guns ‘N Roses berdengung ke seluruh penjuru dunia. Termasuk sampai ke Bontang, kota kecil di pesisir Kalimantan Timur, tempat saya tinggal. Saya pun terikut trend remaja dunia, menjadi penggemar band ini.

Kemudian dirilis single ketiga dari album Appetite for Destruction ini. Single yang disertai video klip baru mereka: Paradise City.

Video klip inilah yang menyadarkan saya betapa band ini sudah begitu besar. Ditampilkan dalam video klip, GNR manggung di stadion football yang terisi penuh. Aksi panggung meliuk-liuk Axl Rose dan gaya cool Slash dalam memainkan gitar pun kemudian mendunia.

Saya pun (dan saya rasa banyak remaja seusia saya saat itu) terlanda “Axl” mania. Seketika bersolek glamour ala hair metal sudah tidak jaman. Digantikan dengan kemeja flanel kotak-kotak dan jeans. Tidak lupa ikat bandana yang menutupi dahi. Rasanya sudah keren kalau sudah bergaya seperti itu. Hahaha.

Parahnya, demam saya terhadap gaya Axl Rose ini kok nggak sembuh-sembuh ya sampai sekarang. Ya, sampai sudah setua ini.

Beberapa kali kalau ada costume party, gaya yang paling saya suka adalah menirukan gaya Axl Rose. Bahkan mungkin sekarang lebih mirip saya daripada Axl. Karena saya masih kurus, dia sudah endud. Buktinya saya pernah dapet best costume award karena menirukan dia. Halaaah ☺️

Juga kalau ada acara kantor atau karaoke. Kalau diminta nyanyi, kok saya selalu spontan membawakan Sweet Child O’ Mine. Sampai-sampai kalau saya gak nyanyi lagu ini, teman saya selalu request. Persoalan suara gak nyampe apa dibilang lebih mirip Ganrose (band asal Bandung 🤪), ya biarin. Yang penting hati senang hahaha!

Tahun lalu waktu manggung di Singapura, saya pun tetap berusaha berdandan ala Axl. Berkaca mata aviator, ber-bandana dan kemeja flanel. Mirip? Ya enggak lah! LOL.

Tapi anyway, begitulah kekuatan pesona Axl Rose dan Guns ‘N Roses.

Mereka mungkin bukan band rock paling besar sepanjang sejarah. Dari sisi musikalitas, karya mereka juga tidak selegendaris karya-karya Queen atau Led Zeppelin, misalnya.

Namun kekuatan magis mereka masih kuat menyihir penggemarnya. Bahkan penggemar yang sudah setua saya. Dan banyak lagi yang besok datang ke GBK. Hahaha.

Walau demikian, pesan saya jangan kecewa kalau besok Axl sudah tidak seramping yang dulu. Suaranya sudah tidak segarang yang lalu. Atau lengkingan dan nafasnya sudah tidak panjang lagi. Sampun sepuh bro.

Tapi paling tidak permainan gitar Slash dan bass Duff Mc Kagan tidak berubah kok. And these two hardly aged, you know? Lihat saja besok.

Dan saya yakin, lagu-lagu yang mereka bawakan masih akrab di telinga kita semua. Bocorannya, konser akan dibuka dengan single paling pertama mereka, It’s So Easy, dan ditutup dengan Paradise City. Lagu-lagu mereka yang terkenal seperti Sweet Child O Mine atau Don’t Cry juga konon akan dimainkan dalam konser yang akan berlangsung hampir tiga jam.

Jadi, siapkan stamina. Apalagi buat yang besoknya masih ngantor (ya, saya! 😅)

Welcome to the jungle! 🤟🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s