
Tengah: Elok saat berkunjung ke Workshop Karpet di Cappadocia, Turki, Bawah: benang wol sebagai bahan dasar karpet Turki
Sudah menjadi pengakuan umum di seluruh dunia, kalau karpet Turki adalah karpet terbaik.
“Permadani Turki”, demikian mungkin istilah yang kerap kita dengar mengenai salah satu produk unggulan negara ini.
Saat mengikuti tur di daerah Cappodacia, saya dan Elok dijadwalkan untuk mengunjungi salah satu produsen karpet Turki di daerah ini.
Kebetulan selama ini saya selalu penasaran, bagaimana sih cara membuat karpet. Terutama karena sering menggunakan sajadah untuk sholat, di mana beberapa memang produksi dari Turki.
Di workshop ini kami lalu ditunjukkan empat pengrajin karpet tradisional Turki. Disebut tradisional, karena memang saat ini karpet pun sudah bisa diproduksi dengan mesin.

Tapi layaknya kain batik tulis di tanah air, pembuatan karpet ini pun layaknya benda seni. Dibutuhkan ketrampilan yang luar biasa tinggi. Dan kesabaran. Serta ketelatenan. Karena untuk membuat sebuah karpet, sang pengrajin harus merajut benang wol menjadi karpet per baris. Dan merajut setiap baris ini harus mengikuti pola yang sudah dipetakan.

Untuk pengrajin yang sudah terampil, mereka bisa menyelesaikan satu baris pola dalam 15 menit. Berarti 1 jam hanya 4 baris. Dan mungkin satu hari baru mendapatkan 32 baris. Padahal, tergantung ukuran karpet yang dibuat, setidaknya ada ratusan bahkan ribuan baris yang harus diselesaikan. Tak heran satu buah karpet ukuran besar bisa diselesaikan dalam waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Dan tingkatan karpet pun berbeda-beda. Seperti ukuran foto digital, karpet memiliki resolusi. Semakin tinggi resolusi, semakin rapat simpul karpet. Yang membuat karpet lebih tahan lama.


Bahannya pun berbeda-beda. Yang paling mahal adalah wool-on-wool. Atau karpet yang dibuat dari benang wool, dan dirajut dalam anyaman benang wool juga. Sedikit lebih murah adalah wool-on-cotton. Jadi benang wool nya dirajut ke dalam katun. Patut diduga, wool-on-wool yang paling mahal, karena paling tahan lama juga.

Juga dalam pewarnaan, karpet Turki yang kami lihat di workshop ini menggunakan pewarna alami. Dari warna tumbuh-tumbuhan. Hal ini yang membuat warna menjadi lebih tahan lama. Namun, apabila menua pun warnanya tidak memudar, namun lebih berubah ke warna lain sesuai dengan ciri warna masing-masing.

Tentu saja, seperti layaknya agenda kunjungan turis, ujung-ujungnya adalah jualan. Tapi dengan memahami proses pembuatan, dan berinteraksi langsung dengan pengrajin, kita jadi semakin menghargai dan mengapresiasi kerja mereka. Dan lebih bisa memahami kenapa kok harganya mahal. Sama persis dengan batik tulis.
Oleh karenanya pada saat petugas workshop menggelar berbagai macam jenis karpet di depan saya dan Elok, kami mulai belajar mengagumi dan menghargai. Dan malah kemudian tertarik untuk membeli. Bayangan saya sih untuk mengisi rumah di Jogja memang membutuhkan karpet. Tapi kok ini karpet walau cantik, memang mahal-mahal!

Sampai akhirnya mereka menggelar sebuah karpet kuno klasik dengan ukuran 2×3 meter. Berwarna oranye, karpet ini konon dibuat tahun 1981. Namun kondisinya masih sangat bagus. Dan katanya, semakin tua sebuah karpet Turki nilainya akan semakin tinggi.
Saya langsung kepincut. Membayangkan kisah sang karpet akan sangat cocok dengan rumah saya di Jogja, yang memang dulunya adalah rumah tua Jawa.


Jadilah kemudian saya bertransaksi. Membeli karpet Turki kami yang pertama. Dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Tapi dengan melihatnya sebagai benda seni, dan juga investasi untuk rumah yang saya sedang bangun di Jogja, semoga harga yang kami bayar sepantar dengan nilainya.
Photo taken using Fujifilm XH1 with Fujinon Lens 35 mm f/1.4 – except the last two photos are taken using iPhone 12
TRUE, nggak tau ya. menurut saya kalau pake produk turki lebih terkesan unik dari bahan yang lain.
Betul Mas setuju. Ada daya pikatnya yang khas