
Suasana istimewa selalu terasa saat Tim Nasional Sepakbola Indonesia (Timnas) bertanding. Tagar #TimnasDay membahana di media sosial. Adu prediksi dan argumen soal bakal formasi dan line-up sudah riuh rendah sejak 3 hari terakhir. Apalagi dibumbui dengan berita komentar pemain Timnas Vietnam, lawan kita kali ini, mengenai pesepakbola naturalisasi Indonesia. Hawa panas mulai memuncak.
Dan vibes ini bukan hanya terasa di kancah virtual. Saat bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), maka ibukota Jakarta seperti tersengat wabah.
Jalan Sudirman mendadak macet total. Ribuan orang berjalan di pedestrian sekitar GBK. Kebanyakan sudah pakai kaos merah. Entah jersey Timnas, jersey klub favorit, atau kaos biasa. Penjaja jersey KW dan pernak Pernik supporter sudah menggelar jualan di sepanjang pedestrian. Penjual makanan dan minuman kaki lima muncul menjajakan.


Suasananya festive sekali. Apalagi tadi malam. Malam bulan Ramadhan. Bercampur dengan crowd orang pulang kantor, dan yang berbuka puasa. Tapi akibatnya mall FX tempat kumpul favorit sebelum nonton di GBK penuh sesak. Restoran fully booked. Bahkan di Food Court Lantai 5, makanan di banyak stall sudah habis. Sebagian besar pengunjung adalah yang mau ke GBK.


Di dalam stadion, suasana lebih meriah lagi. Klaim PSSI sih tiket terjual habis. Namun kenyataannya hanya lebih dari 55.000 orang yang memenuhi GBK, dari kapasitas 78.000 tempat duduk. Masih tetap rame sih. Apalagi tribun atas. Dan Tribun Utara-Selatan. Yang dipenuhi oleh fans fanatik Timnas, yang menjuluki mereka Ultras Garuda atau Le Grande Garuda.
Mereka ini yang membuat suasana stadion gegap gempita. Dengan tabuhan drum, lagu-lagu khas supporter Indonesia dinyanyikan. Saya yang hanya tahu beberapa, ikut bernyanyi. Pun ikut memeriahkan koreografi saat thunder clap dan sorakan “Huuu” dikumandangkan. Ah seru sekali.

Saat pertandingan dimulai, para Ultras Garuda ini yang konsisten bernyanyi. Bersahut-sahutan. Sementara penonton lain cenderung lebih senyap. Apalagi di babak pertama. Karena Timnas kurang bisa mengembangkan permainan. Dikurung Vietnam. Sehingga hanya sesekali permainan long ball nya berhasil masuk ke wilayah Vietnam. Yang disambut dengan gemuruh sorakan dari seluruh penonton.
Di babak kedua, Coach STY yang jeli melihat macetnya aliran bola, melakukan perubahan. Egy Maulana Vikri masuk menggantikan Hokky Caraka yang kurang optimal. Pratama Arhan masuk menggantikan Yakop Sayuri. Dan Sandy Walsh menggantikan debutan Nathan Tjoe-A-On.

Mendadak Timnas balik menguasai permainan. Aliran bola jadi lebih lancar. Berkali-kali Egy masuk menusuk bersama Witan dan Struijk dengan dukungan Marselino.
Puncaknya adalah saat lemparan dalam Pratama Arhan yang membuahkan gol. Diciptakan oleh Egy. Dua-duanya pemain pengganti. GBK bergemuruh. Seluruh penonton berdiri, bersorak, gembira. 1-0 untuk Indonesia.
Dan skor ini bertahan sampai akhir pertandingan. Cukup deg-degan, menanti wasit meniup peluit panjang tanda akhir pertandingan. Setiap tackling dan clearance yang dilakukan oleh bek Timnas disambut sorakan penonton. Untungnya pemain debutan Timnas, pemain naturalisasi Jay Idzes bermain memukau dengan teknik tingginya. Vietnam pun praktis tak memiliki peluang yang berarti. Dan sejujurnya, Timnas tampil jauh lebih baik di babak kedua.
Akhirnya saat peluit panjang ditiupkan, euphoria memuncak. Supporter, baik Ultras atau bukan, bersorak, berteriak keras-keras. Seluruh stadion larut dalam kebahagiaan. Dahaga menyaksikan langsung kemenangan Timnas atas rival berat yang jarang didapat.

Saya, Ubai dan Andri tapi tidak larut dalam merayakan kemenangan di dalam stadion. Perut sudah keroncongan. Dan sejak awal babak pertama tadi kita sudah sepakat untuk makan malam di Gultik Blok M. Dan betapa nikmatnya gulai daging yang kita makan tadi malam. Selain karena sedang berpuasa, juga karena masih terbawa hawa kemenangan. Kebahagiaan bersama teman di dalam vibes #TimnasDay yang menyenangkan.
