Kaká dan Strategi Kompensasi Karyawan

Kaka Stay at Milan
Di awal tahun 2009 bursa transfer sepakbola diramaikan dengan aksi tim Manchester City untuk mendapatkan sederet pemain bintang. Dengan bekal kekuatan finansial pemilik barunya, Abu Dhabi United Group Investment and Development Limited, manajemen “The Citizens” terlihat yang paling aktif dalam memburu pemain-pemain bintang dengan tawaran yang gila-gilaan.

Salah satu tawaran yang paling hangat diberitakan adalah tawaran Manchester City untuk membeli Kaká, bintang AC Milan dari Brazil, dengan nilai transfer lebih dari 100 juta poundsterling! Sebagai catatan, rekor transfer tertinggi di dunia sampai saat ini masih dipegang oleh Zinedine Zidane, saat Zidane dibeli dari Juventus ke Real Madrid seharga 46 juta poundsterling. 

Kaká sendiri, dikabarkan diiming-imingi oleh Manchester City 10 juta pound sebagai signing-on fee, dan gaji sebesar 15 juta pound setahun. Hal mana yang akan membawa Kaká sebagai pesepakbola dengan gaji tertinggi di dunia dengan gaji lebih dari 280.000 pound per minggu (sekitar 4,7 milyar rupiah!). Sekedar info, sebelum ditawar oleh Manchester City,  gaji Kaká sudah merupakan salah satu gaji tertinggi di dunia, yakni sebesar 166.000 pound per minggu. Apabila ia menerima tawaran Manchester City, berarti Kaká akan menerima kenaikan gaji sebesar 84%!

“Hanya orang gila saja yang menolak tawaran sebesar itu”, demikian mungkin gumam Anda.

Namun kita tahu apa yang terjadi. Kaká menolak tawaran luar biasa ini, dan memilih untuk tetap membela AC Milan. Dan kita tahu persis, Kaká bukanlah orang gila.

Mengapa? Apa yang salah dari tawaran Manchester City? Apa yang membuat Kaká lebih memilih untuk merumput bersama juara Italia yang sudah dibelanya selama 5 tahun tersebut?

Dalam keterangan pers resminya, Silvio Berlusconi, presiden AC Milan mengatakan,

“Suatu kontrak ditandatangani pada secarik kertas. Tapi sejak saat ini, kita bisa mengatakan kalau kontrak tersebut ditandatangani di dalam hati. Kaka adalah seorang juara dan manusia yang luar biasa. Ia menolak tawaran dari Manchester City dan lebih memilih bersama Milan, bersama rekan setimnya dan para penggemarnya. Ia mengatakan ‘tidak’ karena baginya uang bukanlah segalanya dalam hidup ini…”

Ungkapan Kaka bahwa “uang bukanlah segala dalam hidup ini” mungkin terasa klasik. Tapi dalam dunia manajemen sumberdaya manusia,  khususnya dalam strategi kompensasi karyawan, hal tersebut sangatlah benar adanya. Karyawan tidak cukup termotivasi atau terpuaskan hanya dengan uang, kendati uang (baca: gaji) adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan job dissatisfaction.

Hal ini merupakan inti tesis dari teori Hygiene-Motivation yang diungkapkan oleh Frederick Herzberg (1959), salah satu teori favorit saya di bidang SDM. Dalam teorinya, Herzberg menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan job satisfaction and motivation  (kepuasan dan motivasi bekerja) berbeda dengan faktor-faktor yang menyebabkan job dissatisfaction (ketidakpuasan bekerja). Lebih lanjut, gaji merupakan faktor yang dapat menyebabkan ketidakpuasan bekerja, dan bukan merupakan faktor yang dapat memberikan kepuasan dan motivasi dalam bekerja. Secara lengkapnya faktor-faktor utama yang disebut Herzberg adalah sebagai berikut:

  • Faktor-faktor yang menyebabkan Ketidakpuasan Bekerja
    • Kebijakan perusahaan
    • Pengawasan
    • Hubungan dengan atasan
    • Kondisi bekerja
    • Gaji
    • Hubungan dengan rekan sekerja

  • Faktor-faktor yang menyebabkan Kepuasan Bekerja
    • Pencapaian bekerja
    • Penghargaan (recognition)
    • Pekerjaan yang dilakukan
    • Tanggung jawab
    • Pengembangan diri

Oleh karenanya, perusahaan-perusahaan terkemuka dalam strategi kompensasi karyawannya menyadari betul bahwa gaji yang tinggi atau bonus yang melimpah bukanlah satu-satunya cara untuk menarik atau mempertahankan seorang karyawan yang berprestasi. Mereka umumnya merumuskan strategi kompensasinya ke dalam tiga bentuk:

  • Monetary Reward – memberikan kompensasi karyawan dalam bentuk uang. Ini merupakan kompensasi dalam wujud yang paling tradisional. Kompensati diwujudkan dengan memberikan karyawan gaji pokok, gaji variabel (bonus) dan benefits (manfaat) yang dapat dinilai dalam uang, seperti asuransi kesehatan, club membership ataupun fasilitas pinjaman bunga murah bagi karyawan, misalnya.
  • Opportunity to Grow – memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan kemampuan diri dan karirnya. Hal ini dilakukan dengan memberikan karyawan pekerjaan yang menantang dan berarti, pekerjaan yang sanggup menambah nilai diri karyawan tersebut di “pasar”. Termasuk pula memberikan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi sang karyawan. Hal lain lagi adalah memberikan jalur karir yang terstruktur dan transparan. Sehingga karyawan tahu persis apa yang harus ia lakukan untuk dapat mencapai suatu posisi yang diaspirasikan.
  • Working Environment– memberikan karyawan lingkungan kerja yang nyaman dan kondusif baginya untuk berprestasi. Lingkungan yang positif dalam hubungan karyawan dengan rekan sekerjanya, dan (yang paling penting) juga dengan atasannya. Memberikan lingkungan kerja yang membolehkan karyawan untuk dapat menyeimbangkan kebutuhan karir dan kehidupan personalnya, atau memberikan lingkungan kerja di mana karyawan berkesempatan menelusuri minat dan bakatnya di luar pekerjaannya (misalnya klub seni dan olahraga di dalam perusahaan). Strategi kompensasi ini memungkinkan karyawan untuk “mencintai” lingkungan pekerjaannya.
Kaka Win Champions League with AC Milan
Kaka Win Champions League with AC Milan

Kembali ke kasus Kaká. Melihat ketiga faktor tersebut di atas, mungkin sudah jelas bagi Anda mengapa Kaká menolak pinangan Manchester City.

Ya, Manchester City dapat menjawab kebutuhan Kaká di faktor pertama, monetary reward. Agak-agak berlebih malah. Namun Kaká tahu persis, bahwa Manchester City tidak dapat memberikan dua faktor kompensasi lain yang dia harapkan.

Pada faktor kompensasi Opportunity to Grow. Apa yang bisa ditawarkan oleh Manchester City? Apakah Manchester City dapat meningkatkan value dan prestasi Kaká lebih tinggi lagi? Sebagai pemain terbaik dunia tahun 2007 yang membantu AC Milan meraih scudetto dan trofi Liga Champions, mungkin sulit bagi Kaká membayangkan dirinya bermain dalam tim yang tidak berstatus sebagai tim papan atas di liga Inggris. Manchester City bukan lah tim yang sarat tradisi juara seperti rival sekotanya, Manchester United, atau klub yang dibelanya, AC Milan. Dan Manchester City juga belum menjelma menjadi Chelsea. Pada bulan January 2009 itu, Manchester City masih terseok-seok di liga Inggris dan hanya berada pada peringkat 11. Manchester City pun telah rontok di Piala FA dan Piala Liga. Sungguh susah membayangkan apa yang dapat diberikan Manchester City kepada Kaká untuk berkembang dan berprestasi lebih jauh. Nothing.  

Demikian pula pada faktor Working Environment. Melansir pernyataan Kaká yang diutarakan oleh Berlusconi, jelas sekali Kaká merasa lingkungan AC Milan sangat kondusif bagi dirinya dan keluarganya. Kaka merasa ia sangat dicintai oleh Milanisti, dan sangat dihargai oleh manajemen klub. Lingkungan kerja yang sangat kondusif ini membuat Kaka mencintai ‘tempat kerjanya’, AC Milan, dan susah untuk dipengaruhi pindah ke tempat lain. Kaká sendiri menyatakan,

“I did what my heart told me to do. At the end what counted was my history, where my ties are and where my heart really lies. I was moved by what fans showed me. I am really happy at this club. All the messages I received meant so much and forced me to choose with my heart. Going to Manchester City could have been a great project but I have prayed a lot in the last few days, looking to understand which was the right team for me and in the end I decided to stay here.”

Jadi jika pada suatu saat ada kolega Anda yang berkata bahwa ia bertahan di suatu perusahaan atau pindah ke perusahaan lain bukan “semata karena uang”, mungkin Anda harus lebih percaya bahwa hal itu benar adanya.

5 Comments Add yours

  1. Chita says:

    I was moved by your writing mas…
    bener banget nih, tp kenapa banyak temen ngga percaya yah..
    ada gak orang yang dalam dirinya memang cuma hidup buat uang???

  2. ibenimages says:

    Hehehe.. thanks ya Kong comment-nya. Lah dulu waktu kite di Andersen, gaji mah cekak, benefits juga dibilang nggak ada.. tapi orang2nya pada engaged, bahagia, dan growing together. Sampe sekarang masih kompak. Sulit menciptakan kondisi tim serupa di tempat lain. Mungkin karena merasa sama-sama “tersiksa”.. hehehe..

  3. celygallery says:

    betul sekali…chitttt..post link ini dong ke CS-ALL 😀

  4. Matt booker says:

    Salam Ben,

    setelah saya melihat blog mr Oyi dan beri sedikit komentar kini saatnya juga ikut komentar tentang Kaka, bimbim ataupun siapapun dia :).
    Mungkin Herzberg ada benarnya pada tingkat tertentu. Tapi yang saya liat pada kasus kaka justru teori herzberg bukan pada pilihan-pilihan prioritas. justru kaka memilih paket yang komplit.
    Uang,kondisi kerja nyaman, dan semua faktor diatas. Jadi paket stimulus yang diminta kaka adalah format komplit artinya semua syarat harus dipenuhi. Dan itu bahkan sangat sulit bagi sebagian besar perusahaan di indonesia bahkan milan sekaligus.mungkin google atau sun atau microsoft bisa memberikannya. Cerita tentang james gosling dengan kaus kaki gambar kucing di ruang kerja sun mungkin memberikan gambaran bagaimana nikmatnya bekerja di sun. Cerita liburan akhir pekan semua programmer di google setiap pekan menggambarkan bagaimana nikmatnya hubungan bekerja di google.
    Tapi anda mungkin lupa tentang idiom masa lenin dan stalin “Mereka pura-pura bekerja dan kami pura-pura membayar”.
    Atau ungkapan anak jakarta ” Perduli setan kerja enak apa ngak yang penting gaji gede”.
    Jadi sudah pasti ungkapan gaji gede adalah pertimbangan awal ketika seseorang masuk kerja. dan pertimbangan terakhir yang dihitung ketika seseorang mau cabut dari perusahaan. Selebihnya pertimbangan-pertimbangan yang lain.

    pada kasus kaka ini jelas uang dari manchester tidak menarik karena kaka juga punya uang. Tapi mesin bisnis Milan jelas sangat menginginkannya. Mereka kerepotan membayar semua kebutuhan kaka juga. Saya kira tinggal tunggu waktu saja untuk kaka pindah dari san siro.
    Dan herzberg harus berpikir ulang faktor prioritas dari teorinya apalagi masa sulit sekarang.
    Kalo dirumuskan lagi mungkin bentuknya seperti ini :

    1. Faktor Uang
    1.a Kebijakan perusahaan
    1.b Pengawasan
    1.c Hubungan dengan atasan
    1.d Kondisi bekerja
    1.e Hubungan dengan rekan sekerja

    Sedangkan faktor yang menyebabkan kepuasan bekerja versi Herzberg mungkin faktor bagi si empunya bisnis atau perusahaan. Biasanya bila melihat prilaku karyawan dalam pencapaian seperti yang dibuat dan dikategorikan oleh herzberg adalah faktor kepuasan bekerja adalah semu khususnya bagi perusahaan. karena setelah itu karyawan berpikir kalo gitu mending bikin perusahaan sendiri atau mending saya pindah ke perusahaan lebih besar. terus dan terus begitu. Jadi perusahaan pertama adalah testcase bagi karyawan bila dia mampu atau terkecuali bila karyawan itu tidak punya cukup motivasi untuk berkembang dengan versinya sendiri.

    Dan coba saja anda test teori herzberg pada kondisi extreme. Besok pagi anda umumkan pemotongan gaji sampe 40 %. Sudah pasti lusanya perusahaan anda tutup. Dan gugur lah sudah teori pendekatan herzberg ini.

    Salam

    Rahmad

  5. ibenimages says:

    Hehehe… teman saya Rahmad Chambaleng yang lama tak terdengar suaranya.. apa kabar? Dan tampaknya masih memegang ideologi “kontroversial” seperti hari-hari dahulu.

    Terima kasih atas komentarnya yang menarik. Dan sebetulnya teori Herzberg sangat sejalan dengan pemikiran Bung Rahmad yang mengatakan bahwa hal-hal yang dipertimbangkan oleh karyawan tersebut adalah “satu paket”. Dan itu bukanlah hal yang mustahil bung! At least, saya sudah merasakan di suatu tempat bekerja.

    Dan hal tersebut memang tidak bisa berdiri sendiri. Ada kalanya uang menjadi faktor utama, tapi sudah hampir pasti ia bukanlah satu-satunya. Ada juga faktor dimana uang tergeser ke prioritas yang kesekian. Dan itulah inti utama dari artikel ini, bahwa untuk mereward ataupun me-retain karyawan, kita tidak bisa melihat uang sebagai mata pedang satu-satunya, ada hal-hal lain yang bisa kita tawarkan. Hal ini memang tidak lepas dari preferensi, values dan motivasi sang karyawan sendiri.

    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s