Garuda di Dadaku

Bulan Juli lalu saat kami berada di Russia untuk menyaksikan Piala Dunia, di tengah-tengah euforia pendukung tim nasional Perancis dan Belgia, saya bertanya secara retoris kepada teman saya, Ubai, “Gimana rasanya ya kalau nonton Indonesia di Piala Dunia?”

Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak bisa terjawab in our life time.

Ya, karena Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda berpeluang untuk lolos ke Piala Dunia. Paling tidak dalam waktu dekat.

Peluang terdekat tim nasional Indonesia mengendus Piala Dunia terjadi di tahun 1986. Saat itu, tim asuhan Sinyo Aliandoe menjuarai Sub-Grup B penyisihan Piala Dunia, mengalahkan Thailand, India dan Bangladesh. Tinggal satu lawan yang menghadang antara Piala Dunia dan impian bangsa Indonesia: Korea Selatan. Pada akhirnya Timnas kalah home and away dari Korea Selatan, dan harus mengubur impian mengikuti Piala Dunia di Mexico.

Sejak saat itu Indonesia tidak pernah lagi bisa mencium aroma Piala Dunia.

Tapi paling tidak kemarin, di tengah semaraknya penyelenggaraan Asian Games 2018, saya dan Ubai sempat mengira-ira jawaban pertanyaan tersebut.

Mengulangi formasi rombongan Piala Dunia Russia, saya, Ubai dan Andri berangkat ke Cikarang untuk menyaksikan pertandingan 16 besar antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab.

Indonesia lolos ke fase knock-out dengan menjuarai grup A. Berbekal permainan menawan di bawah asuhan pelatih Luis Milla, harapan masyarakat Indonesia untuk dapat menyaksikan timnas untuk lolos paling tidak ke semifinal terasa begitu realistis. Demikian juga yang kami bertiga rasakan. Mengutip syair lagu populer supporter Indonesia, ‘Garuda di Dadaku’: “Hari ini pasti menang!”

Well, close. But no cigar. 

Sayang sekali memang Timnas Indonesia harus kalah adu penalti.

Namun setidaknya jawaban dari pertanyaan saya di atas sedikit banyak terjawab.

Saat Stefano Lilipaly menyamakan kedudukan di menit ke-4 injury time Babak II, rasanya luar biasa. Luapan emosi dan sense of delirium tercurah. Kami berteriak dan berpelukan. Bukan hanya rasa senang, tapi juga ada rasa bangga dan nasionalisme.

Rasa bangga dan nasionalisme ini mungkin yang tidak ada saat saya bersorak melihat kemenangan tim favorit Inggris atau Manchester United.

Saya jadi memahami fans tim sepakbola Panama saat Piala Dunia Russia lalu. Lolos untuk kali pertama, mereka bersorak riang saat Panama menjebol gawang Inggris. Padahal mereka sudah ketinggalan 0-5.

Saya yakin saya akan melakukan hal yang sama. Menang atau kalah, ini negaraku, bangsaku. Garuda (tetap) di dadaku!

Berikut oleh-oleh vlog dan foto-foto dari pengalaman kemarin di Cikarang:

Rombongan sirkus Russia kembali bersama, kali ini berangkat ke Cikarang saja:

Antrian di depan Stadion Wibawa Mukti, yang terletak di Jababeka, Cikarang:

Kerumunan penonton dilihat dari tingkat 1 Stadion Wibawa Mukti. Stadion ini relatif baru, fasilitasnya masih kurang bagus (toilet, musholla), dan beberapa sudut kualitas bangunan kurang baik (contoh: tangga yang belum berkeramik).

Tapi mungkin juga karena saya baru pulang dari venue Piala Dunia jadi standar saya agak tinggi.. hehehe..

Rombongan dan suasana nonton kemarin, bersama teman-teman Ubai dan Andri dari FE UI:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s