Berangkat Kantor Naik MRT Jakarta

Atas: menyusuri jalan Fatmawati, Tengah: MRT Ratangga, Bawah: di dalam kereta MRT Jakarta

Saat membeli rumah yang saya tempati sekarang, salah satu yang saya pertimbangkan adalah dekatnya rumah dengan jalur MRT. Yang tidak saya perhitungkan adalah saya harus menunggu sampai 12 tahun 😅

Hari Jum’at kemarin, memanfaatkan masa uji coba MRT Jakarta, saya pertama kali berangkat ke kantor naik MRT.

Sengaja saya jalan kaki dari rumah ke stasiun Fatmawati, dan kemudian menaiki MRT Ratangga turun di stasiun Bendungan Hilir. Maksudnya untuk mengetahui kira-kira apakah saya dapat menggunakan MRT ini sebagai alternatif moda transportasi, tanpa menggunakan mobil sama sekali.

Di masa uji coba ini, MRT baru beroperasi jam 8 pagi. Jadi saya harus menunggu dulu sebelum diijinkan masuk peron. Tapi jangan kuatir, saat operasional yang rencananya tanggal 26 Maret 2019 nanti, kereta pertama akan beroperasi mulai jam 5 pagi sampai jam 12 malam.

Bagaimana pengalaman saya dalam uji coba ini? Silahkan saksikan vlog saya:

Akhirnya, berikut beberapa kesimpulan saya:

    Keunggulan dari MRT dibandingkan dengan moda transportasi lain di Jakarta adalah ketepatan waktu. Sesuatu yang sangat mewah di kala kondisi jalan Jakarta yang bisa berubah-ubah. Namanya juga random city.
    Tarif MRT akan menjadi salah satu penentu apakah pengguna mobil akan berpindah moda ke MRT. Tarif harus dibuat dengan memikirkan dampak jangka panjang, sehingga biaya operasional bisa tertutup, dan kenyamanan relatif masih bisa dihadirkan. Saya harap penetapannya tidak terlalu bersifat “populis” yang nantinya akan membuat MRT terlalu crowded dan membuat pengguna mobil enggan pindah dari mobil nyamannya.
    Bagi saya pribadi sih, keberadaan MRT tidak serta merta membuat saya akan menjadi daily commuter. Walaupun secara biaya menaiki MRT sangat jauh lebih murah daripada menaiki kendaraan pribadi saya saat ini, tapi ada beberapa pertimbangan lain. Salah satunya, adalah nasib sopir saya bagaimana? Nggak bisa langsung diberhentikan kan?
    Dan juga pada hari-hari normal, beda waktu sebenarnya tidak terlalu signifikan kalau memperhitungkan waktu door-to-door. Menggunakan MRT untuk berangkat kerja, misalnya, total waktunya sekitar 40 menit (15 menit jalan ke stasiun, 20 menit perjalanan ke Benhil, dan 5 menit jalan ke kantor). Sedangkan naik mobil kira-kira 45-50 menit, atau maksimal 1 jam. Dan karena pakai sopir, tentunya lebih nyaman. Tinggal duduk.
    Tapi di saat dimana kondisi jalan sedang macet berat, misalnya pada saat buka puasa di bulan Ramadhan, kehadiran MRT ini menjadi alternatif solusi yang saya untuk dapat pulang ke rumah dengan cepat.

Anyway, kehadiran MRT Jakarta yang sudah long overdue ini benar-benar a welcome progress. Semoga bisa dilanjutkan dengan dibangun jalur-jalur lainnya, dan diintegrasikan dengan metoda transportasi lain seperti KA Bandara, Busway dan LRT. Kalau sudah begitu, paling tidak anak cucu kita akan dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik, walaupun hidup di belantara kota Jakarta yang random ini. Semoga.

3 Comments Add yours

  1. paketotbound says:

    keren ya om, jadi pengen nyoba juga nih

    1. ibenimages says:

      Iya keren. Ayo nyobain.. tanggal 26 Maret sudah operasional kok

  2. Semoga awet terjaga dan makin kinclong MRT Jakarta. Integrasi antar moda transportasi juga sangat penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s