Fiqh dalam Ramadhan


Malam ibu mengikuti kajian islam bersama Ustadz Firanda Andirja (pengisi kajian tetap di Masjid Nabawi Madinah al-Munawwaroh) di Masjid Jenderal Sudirman.

Beberapa poin yang bisa saya share di sini:
1. Penentuan awal Ramadhan ataupun Syawal: Yang menjadi patokan adalah terlihatnya hilal, bukan adanya hilal. Jadi kalau hilal tertutup awan, walaupun mungkin ada, maka genapkan puasa Ramadhan sampai 30 hari.
2. Niat: dalam puasa Ramadhan harus berniat di malam hari, sebelum berpuasa di esok harinya. Apabila tidak berniat, maka tidak sah puasanya.
3. Di sunnahkan untuk makan sahur. Pembeda antara puasa kaum muslim dengan puasa kaum sebelumnya adalah sahur. Di dalam sahur itulah ada keberkahan. 
Sahur arti katanya “waktu menjelang subuh”. Rasulullah pun makan sahur 15-30 menit sebelum adzan subuh. Jadi apabila kita lapar dan makan tengah malam dengan beranggapan itu adalah pengganti sahur, sesungguhnya itu bukanlah sahur.

4. Pembatal utama puasa: makan, minum dan berhubungan badan. Kalau melakukan dengan sengaja maka berdosa besar dan harus membayar kafaroh. Kafaroh tersebut adalah dengan cara membebaskan budak, atau kalau tidak mampu adalah berpuasa 2 bulan berturut-turut, atau kalau tidak mampu, berinfaq pada 40 fakir miskin.
5. Menyegerakan berbuka puasa saat sudah ada keyakinan matahari telah terbenam. Keyakinan dapat muncul dari mendengar suara adzan, melihat jam, ataupun melihat matahari terbenam secara langsung (walaupun belum mendengar adzan). 
Di Indonesia ada budaya makan ta’jil, yang artinya menyegerakan, yang mana itu baik. 
6. Waktu berbuka adalah pada tempat dimana kita berada. Kalau sedang di lantai 100, atau naik pesawat, harus mengikuti saat kita melihat matahari terbenam dari atas, yang mana bisa jadi waktu berbuka puasanya lebih lama dari orang yang berpuasa di bawah/darat. 
Begitu juga apabila sedang bepergian, apabila sahur di Jakarta dan naik pesawat untuk kemudian mendarat di Arab Saudi pada sore hari. Ada beda waktu 4 jam antara Jakarta dan Arab Saudi, yang membuat waktu lebih lama berpuasa dalam satu hari tersebut. Maka waktu berbuka puasa mengikuti waktu setempat.
7. Kalau halangan yang menyebabkan kita tidak berpuasa itu bisa hilang, maka puasa wajib di qodo (diganti di hari lain). Halangan seperti hamil, menyusui dan sakit, maka harus di qodo. Namun kalau halangan tersebut adalah tetap, seperti sudah tua, atau sakit yang tidak bisa sembuh, maka bisa membayar fidyah. Fidyah adalah Membayar 1.5 kg beras kepada orang miskin, atau beli makanan yang cukup mengenyangkan untuk 30 orang miskin. 
8. Kadar itikaf. Berapa lama kadar dianggap sebagai itikaf? Ada tiga pendapat ulama: (1) Minimal 10 hari; (2) Berapa lama pun kalau sudah lama 5 menit di masjid; (3) Itikaf selama satu hari atau satu malam. 
Menurut ustadz adalah yang terakhir, misalnya dari mulai adzan maghrib sampai subuh. Itikaf tidak boleh keluar dari masjid, kecuali ada keperluan mendesak. Karena sesungguhnya itikaf artinya adalah meninggalkan hubungan dengan duniawi, dan menyambung dengan Allah.
9. Tarawih asal katanya adalah berarti “istirahat”. Disebut shalat tarawih adalah karena ada jeda di antara shalat 4 rakaat yang panjang. Ulama kebanyakan sepakat yang terbaik adalah 11 rakaat, yang dikerjakan dengan tukmaninah dan panjang.

Semoga bermanfaat. Kalau ada salah kutip berarti salah saya, dan kebenaran hanya dari Allah SWT. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s