Imajinasi Sapiens Indonesia

Di dalam buku best-seller nya, Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Hariri menuliskan satu hal yang membuat manusia (Homo Sapiens) berbeda dengan spesies lain di dunia.

Hal itu adalah kemampuan imajinasi.

Dengan kemampuan imajinasi, Sapiens dapat menggalang sesama Sapiens untuk bekerja sama. Sekelompok Sapiens akan dengan mudah berkelompok dan memperjuangkan kesamaan idenya apabila mereka memiliki imajinasi yang sama.

Dan sesungguhnya itulah asal mula dari pembentukan kelompok besar manusia di dunia ini. Menurut Hariri: “Any large-scale human cooperation – whether a modern state, a medieval church, an ancient city or an archaic tribe – is rooted in common myths that exist only in peoples collective imagination.”

Ia mencontohkan: dua orang Katholik yang tidak pernah bertemu, bisa sepakat untuk mendanai pembangunan gereja, karena mereka sama-sama percaya akan wujud Tuhan dalam Yesus dan pengorbanannya kepada umat manusia saat disalib.

Dua orang Serbia yang tidak pernah bertemu juga berani mengambil risiko untuk menyelamatkan satu sama lain, karena mereka percaya akan eksistensi negara dan bendera Serbia yang mereka perjuangkan.

Jadi sejujurnya eksistensi Tuhan dan negara bukan merupakan benda fisik yang bisa diraba dan dilihat. Keduanya adalah konsepsi imajinasi yang dipercayai dan disepakati oleh sekelompok (besar) manusia (Hariri, Sapiens: A Brief History of Humankind, 2014)

Menjadikan suatu imajinasi dipercayai dan disepakati oleh banyak orang membutuhkan proses story telling yang luar biasa. Proses story telling yang menyakinkan. Yang kalau berhasil, akan memberikan Sapiens kekuatan yang luar biasa. Kekuatan untuk menggerakkan jutaan manusia yang tidak kenal satu sama lain untuk bekerjasama menuju tujuan bersama. Hebat kan?

Setelah membaca buku ini saya pun jadi merenung. Apalagi kalau bukan soal riuh rendah Pilpres tahun ini. Pertarungan dua Calon Presiden sama-sama menawarkan cerita.

Yang satu cerita sosok sederhana, keluarga harmonis dan hasil-hasilnya dalam bekerja.

Yang satu menawarkan cerita model nasionalisme yang heroik, pembangunan tanpa hutang, dan citra yang (paling) dekat dengan umat Islam.

Bisa lihat bedanya?

Yang satu yang dijual adalah kenyataan.

Yang satu imajinasi. Masih konsep. Belum kenyataan (kan belum menjabat katanya?)

Tapi disini hebatnya kita sebagai homo sapiens. Dengan kekuatan kognitif kita, imajinasi ini bisa mengalahkan fakta dan kenyataan. Ungkap Hariri, “As time went by, the imagined reality became ever more powerful, so that today the very survival of rivers, trees and lions depends on the grace of imagined entities such as gods, nations and corporations”.

Apalagi di masa pseudo-truth dan populisme seperti saat ini. Cerita imajinasi yang sesuai dengan keinginan akan semakin laku dijual. Bisa direalisasikan atau tidaknya ke depannya itu soal lain. Toh tinggal ngeles. Atau bikin cerita baru. Fenomena Trump dan Brexit salah satu contoh paling nyata.

Nah, jadi apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini? Paling tidak, menurut saya ada tiga hal:

  • Untuk pendukung berat Capres No 1 yang berusaha meyakinkan teman/saudara Anda pendukung berat Capres No 2 (atau sebaliknya), I give you the bad news: forget it. Karena dasar berpikirnya sudah berbeda. Yang satu berlandaskan fakta-fakta, yang lain sedang menjual imajinasi melalui cerita. Sudahlah terima saja, memang kita berbeda.
  • Nah lain cerita kalau yang Anda lakukan itu untuk menyakinkan yang masih galau, para swing voters. Masih beralasan. Tapi lengkapi fakta dan cerita keberhasilan Capres No 1 dengan story telling yang menyakinkan. Nggak haram kok menambahkan dengan bumbu mimpi andaikan pembangunan yang selama ini dilanjutkan, dan apa dampak positifnya untuk rumah tangga mereka.
  • Terakhir, karena ini berarti menyangkut komunikasi antara pendukung Capres No 1 dan 2 kepada para swing voters, dan bukan saling sama lain, woles aja boss. Gak usah nyinyir, apalagi saling hina. Salah sasaran dan gak ada gunanya. Bagaimanapun juga kita ini adalah homo sapiens yang disatukan oleh imajinasi yang lebih besar: bahwa kita berbangsa dan bertanah air satu di Indonesia.

Selamat berimajinasi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s