Kawan Senasib Seperjuangan

Berawal dari keterkejutan saya membaca komentar pada status saya di Facebook. Komentar tersebut datang dari salah seorang kawan lama saya. Walaupun sudah berteman di Facebook, kawan saya ini tidak aktif ber-medsos. Sehingga kami tidak aktif berkomunikasi, apalagi bertemu.

Alhamdulillah dengan komentar tersebut, terjalin kembali silaturahmi yang berujung pada janji makan siang bareng hari ini.

Kawan saya ini bernama Masykur Rahmatullah. Sudah lebih dari 20 tahun kita tak bertemu. Baru hari ini kesampaian bertemu kembali dengan teman lama senasib dan seperjuangan di Universitas Diponegoro Semarang.

Kenapa senasib dan seperjuangan?

Karena kami berdua sama-sama penderita cacat “buta warna”. Dan karenanya, kami berdua sama-sama “dilempar” ke jurusan kuliah yang kami tidak pilih.

Ceritanya, seusai lulus SMA tahun 1991, saya berhasil lulus UMPTN di jurusan pilihan pertama saya: Teknik Elektro Undip. Keinginan Almarhum Papa untuk memiliki anak seorang Insinyur membuat saya bertekad bulat untuk masuk ke sana.

Apa daya nasib berkata lain. Saat hari pendaftaran di Undip, saya tidak lulus tes kesehatan. Dinyatakan buta warna, dan tidak boleh masuk ke Fakultas Teknik.

Diberikan pilihan untuk ditampung hanya ke dua jurusan: Matematika atau Hukum. Dua pilihan yang sama-sama saya tidak suka. Tapi saya tak punya pilihan. Karena mungkin tempat duduk yang tersisa hanya di situ.

Dengan hati hancur, kecewa karena cita-cita saya kandas, dan tidak dapat memenuhi harapan Papa untuk punya anak Insinyur, saya pun dengan terpaksa menerima nasib terlempar ke jurusan Matematika.

Teman saya, Masykur juga mengalami hal yang sama. Bedanya dia harusnya diterima di Perikanan.

Singkat cerita, mulailah kita berdua kuliah di jurusan Matematika Undip. Karena memang sudah kurang suka dengan jurusannya, kami berdua pun sama-sama bertekad untuk kembali mengikuti tes UMPTN kali kedua. Kali ini saya mengambil pilihan Manajemen FE UGM, dan Masykur memilih Akuntansi FE UNS. Semester 2 di Undip kami habiskan dengan duduk lebih banyak di bangku Primagama daripada bangku kuliah.

Alhamdulillah, ikhtiar kami berdua berhasil. Di tahun ajaran berikutnya, saya dan Masykur berpisah. Satu ke Jogja, satu ke Solo. Sama-sama mengejar cita-cita yang tertunda, walaupun harus banting setir.

Sejak itu kami tidak pernah bertemu. Memang sempat bertemu sekali saat awal meniti karir di Jakarta tahun 1998, tapi setelahnya, baru siang tadi kita dapat mengenang masa lalu.

Yang membuat bahagia, kami berdua sama-sama sudah “move on” dari “kegagalan” dahulu. Sudah relatif mapan dalam karir. Hidup berkecukupan dan bahagia dengan keluarga kecil kami. Keterbatasan kami ternyata bukan lah menjadi penghalang untuk meraih cita-cita hidup. It’s just a bump on the road. We detoured and carried on.

Dan saya pun kini tidak malu mengakui keterbatasan ini. Bahkan selalu menggunakannya selama ini sebagai contoh penyemangat kepada karyawan baru, adik kelas ataupun anak-anak yang sedang meratapi kegagalan.

Bicara soal “gagal”, hal ini mengingatkan saya pada hasil SBMPTN yang baru diumumkan sore ini. Pasti lebih banyak orang tua dan siswa yang merasa gagal daripada berhasil. Bagi yang masih belum beruntung, sedih boleh, kecewa wajar. Tapi patah semangat jangan.

Seperti yang saya buktikan dengan Masykur. Kegagalan tersebut hanyalah setitik momen pelajaran dalam hidup. Apabila kita menyikapinya dengan baik, di masa mendatang kegagalan tersebut hanya akan menjadi memori canda tawa di sela-sela makan siang!

Mungkin terdengar klasik, tapi ujaran bijak kalau “kegagalan adalah sukses yang tertunda” itu benar adanya. Percayalah, dan tetap semangat!

*dipersembahkan untuk adik-adik yang merasa gagal karena tidak lulus SBMPTN*

Epilogue: Keinginan Almarhum Papa untuk punya anak Insinyur, akhirnya dapat diwujudkan oleh adikku, Chita Mulyaningtyas yang meraih gelar Sarjana Teknik Elektro Universitas Indonesia. I’m so proud of her. Sometimes God works in mysterious way. Alhamdulillah ☺️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s