Bersepeda Mengunjungi London’s Major Stadiums and Landmarks

Atas: CHPT3 dan Tower Bridge; Tengah: ngebut menuju Emirates; bawah: Embankment Thames River

Hal ini sudah lama saya rencanakan: berkeliling kota London dan mengunjungi stadion-stadion di sini. Awalnya saya bertekad untuk mengunjungi paling tidak 5 stadion. Tapi ternyata London itu gede banget. Kalau naik sepeda bisa gempor. Kalau naik Tube juga makan waktu.

Akhirnya setelah riset, saya merevisi sedikit destinasi dan trayek. Cukup 3 stadion. Dari 3 tim langganan Top 6 Premier League (tahulah siapa kan?). Ditambah dengan landmark utama kota ini. Ya, yang biasa dikunjungi oleh para turis-turis.

Saya baru mulai berangkat dari hotel sore hari. Jam 4. Karena tadi pagi sampai siang harus ke Picadilly dulu cari titipan istri. Dan juga saya pikir kalau mau ambil foto bagus dengan cahaya sore.

Tapi berangkat sore hari berarti juga menyesuaikan perjalanan. Ambisi untuk full gowes harus diurungkan. Harus dikombinasi dengan Tube. Jadilah dirancang perjalanan, mulai dari tempat paling utara di kota London. Daerah White Hart Lane, markas Tottenham Hotspurs. Dan kemudian turun ke selatan sampai berakhir di Stamford Bridge, kandang Chelsea yang hanya 2 km dari hotel saya.

Cyclist naik Tube
Di dalam stasiun London Underground

Pilihan mengkombinasikan Tube dan bersepeda ternyata tepat sekali. Karena sebelum berangkat saya baru menyadari kalau official stores di stadion hanya buka sampai jam 6. Jadi gak bakal sempet kalau full gowes. Pakai Tube juga mepet.

Berdasarkan panduan dari London Transportation Authorities, saya naik Tube sampai ke Seven Sisters. Perhentian terdekat dari stadion Spurs yang baru. Yang sebetulnya masih satu daerah dengan kandang mereka yang lama, White Hart Lane. Lumayan jauh, sempat dua kali ganti kereta.

Seven Sisters ini walaupun masih bagian dari kota London, kelihatan banget suburb-nya. Tidak ada gedung tinggi bertingkat. Kanan kiri jalan diisi toko buah, restoran atau kelontong. Penghuninya pun kebanyakan kaum imigran. Mayoritas kulit hitam. Saya sempat merasa agak tersesat. Tapi untung ada Google Map.

Seven Sisters Station

Google Map memandu saya untuk gowes sekitar 3 km ke arah utara. Dan tak berapa lama sampailah saya di Stadion Tottenham Hotspurs.

Stadion-nya baru, besar, modern. Terletak tepat di pinggir jalan raya. Jadi tidak banyak lahan kosong di kiri kanan. Berbeda dengan stadion besar lain, seperti Old Trafford, misalnya, yang pekarangannya luas.

Sebagai bukti, kita foto dulu lah di stadion:

Selfie di Stadion Tottenham Hotspurs
With the famous logo
Stadion megah Tottenham Hotspurs

Setelah foto-foto saya segera masuk ke Official Stores. Saat gowes dari Seven Sisters tadi, satu hal yang saya notice: saya pakai celana pendek. Dan ternyata London di saat malam lumayan dingin. Kebayang kan kalau gowes dengkul terbuka? Saya langsung kepikiran membeli celana trainer di sini. Sekalian sebagai memento hasil kunjungan di sini. Kebetulan kaos sepeda saya warnanya merah dan biru. Pas deh kalau pake celana biru.

Cepat saja saya berbelanja. Sampai lupa ambil foto dan video di dalam toko. Karena saya harus sampai di stadion Arsenal, sebelum jam 6. Waktu sudah menunjukkan 05.20 sore. Melihat panduan di internet, tidak ada kereta langsung yang menghubungkan stadion Spurs dan Arsenal (ya iya lah, secara namanya rival derby. Ngapain hehehe). Dan kalau pindah-pindah kereta diprediksi waktu 43 menit baru sampai. Alamak! Telat dong.

Satu-satunya pilihan adalah gowes ke sana. Masalahnya jaraknya masih lumayan jauh. Masih sekitar 8 km, atau menurut perkiraan Google 28 menit naik sepeda. Ajegile, mepet!

Gowes menuju Emirates Stadium

Mulailah kemudian one of the fastest cycling I’ve ever done. Sialnya tidak seperti rute di London yang lain, rute ini lumayan hilly. Naik turun. I was tested to my limit. Ngos-ngosan pake banget. Sampai harus berhenti dulu sebentar untuk beli minum. Karena persediaan habis, sementara tenggorokan kering.

Alhamdulillah, saya sampai di Emirates sebelum toko Armoury tutup. And only by a whisker. Penjaga toko di pintu kasih tahu saya, “you only have one minute before we close, sir”.

Hahaha, phew, okay. I won’t be long.

Sampai di Emirates!

Di dalam Armory, Official store Arsenal

Karena tujuan berikut sudah tidak terbatasi oleh waktu, saya jadi lebih santai. Setelah membeli memento dan sedikit oleh-oleh, saya menyempatkan mengelilingi Emirates Stadium. Emirates memiliki pekarangan yang lebih luas dari kandang Spurs. Dan di sekitarnya terdapat banyak monumen dan pengingat pemain-pemain legendaris Arsenal. Ditampilkan secara menarik dan berkelas. Favorit saya, dan mungkin juga banyak orang lain, tak lain adalah patung Thierry Henry.

Henry adalah pemain legendaris Arsenal saat era “invincibles” di bawah Arsene Wenger. Tak terkalahkan dalam satu musim kompetisi. Rekor yang masih belum bisa disamai oleh klub lain. Dan peran Henry sangat instrumental dalam periode tersebut. Partnership-nya dengan Dennis Bergkamp is a stuff of legend. Saya sebagai fans Manchester United pun sangat respek dengan pemain satu ini. Hence, the picture:

Pying respect to Henry
Selfie di Emirates
Wearing the Spurs trainer in Emirates. Untung sepi, kalo rame minta dibacok! 😅

Perjalanan pun berlanjut. Kali ini kembali ke daerah kota. Sempat agak bingung karena dekat Emirates tidak ada stasion Tube. Yang ada stasiun kereta England Rail. Tapi untung Oom Google selalu siap menolong. Walaupun ragu-ragu karena tidak familiar dengan sistem kereta ini, saya nekat naik.

Alhamdulillah, benar. Di perhentian terakhir kereta ada koneksi ke London Underground. Saya pun mengambil kereta menuju London Bridge. Dari situ saya gowes ke daerah embankment di dekat Tower Bridge. Spot landmark London pertama yang akan saya kunjungi.

Sampai di Tower Bridge sudah lewat pukul 7 malam. Tapi matahari masih belum terbenam. Jam 8 biasanya. Area embankment dipenuhi oleh turis dan warga kota London yang ingin menikmati waktu sunset. Spot ini memang salah satu spot favorit fotografer yang ingin mendokumentasikan landmark kota London. Termasuk saya.

Cukup lama saya menghabiskan waktu di sini. Memanfaatkan waktu golden hours untuk mengambil foto. Ini beberapa hasilnya:

Tower Bridge in sunset
Closer view of the bridge
Boleh dong ya selfie lagi?
When it’s getting cold and chilly

Waktu sudah lewat pukul 9. Dan saya baru sadar dong, belum makan malam. Keasyikan gowes dan foto-foto. Padahal masih ada beberapa destinasi lagi yang belum dikunjungi: Big Ben, Istana Buckingham, dan Stadion Stamford Bridge, Chelsea. Badan pun sebetulnya sudah sangat letih dan mengantuk. Sempat terbersit keinginan untuk menyudahi perjalanan ini. Apa daya, ternyata tidak ada kereta Tube yang langsung menuju ke arah hotel. Harus ganti-ganti kereta yang mana akan lebih melelahkan, karena menggotong sepeda dari peron ke peron. No choice, harus gowes ke sana.

Tapi usai makan malam di KFC (yang untung masih buka), saya seperti mendapat tambahan energi. Angin dingin malam hari yang menerpa wajah ikut menyemangati. Paling tidak gowes pulang ke hotel masih bisa nih.

Untungnya jalur ke hotel memang melewati dua destinasi landmark: Big Ben dan Istana Buckingham. Jadi sembari jalan, saya bisa berhenti dan ambil foto.

Big Ben ternyata sedang direnovasi total. Jelek banget. Tidak bisa difoto. Untung saja dari Westminster Bridge ada landmark lain yang tidak kalah menarik: London Eye. Langsung saya cari spot dan foto wajib dengan Brompton CHPT3 dan the famous landmark.

Di depan London Eye

Waktu yang sudah mendekati pukul 11 membuat saya leluasa men-set kamera dan tripod Joby saya. Tidak banyak turis ataupun penduduk sekitar. Dan karena pergi sendirian, tidak ada yang protes kalau saya harus mengambil beberapa takes untuk mendapatkan foto yang sempurna.

Saat di Istana Buckingham contohnya. Mungkin ada 10 kali saya harus mengambil ulang foto. Karena saya ingin mendapatkan foto saya bersepeda tanpa kaki saya turun ke tanah. Berusaha berhenti stasioner dan tidak bergerak dalam waktu 1 detik bukan hal yang gampang. But finally I got it:

Ride the bike in front of Buckingham Palace

Keberhasilan mendapatkan foto-foto bagus ini memperkuat niat saya untuk menyelesaikan destinasi sampai akhir. Dengan sisa-sisa tenaga saya akhirnya berhasil sampai di Stamford Bridge. Karena sudah mendekati tengah malam, tentu saja Stadion tutup. Masih untung ada pekarangan di pintu masuk Stamford Bridge di mana saya bisa mengambil foto kenang-kenangan.

Sampai di Stamford Bridge, perhentian terakhir!
Kalah duel udara sama Giroud

So that’s it. Badan letih luar biasa saat tiba kembali di hotel. Tapi hati terasa sangat puas, karena rencana lama saya berhasil saya penuhi. Mendapatkan hasil foto yang memuaskan hati, dan dengan proses dan perjalanan yang seru. Melihat pelosok kota London yang sebelumnya tidak mungkin saya lewati sebagai turis biasa. It’s all worth it. Alhamdullillah.

2 Comments Add yours

    1. ibenimages says:

      It was!! Thanks yaa

Leave a Reply to ibenimages Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s