Berkah di Rumah Karena Corona

Hikmahnya antara lain Mesin Bor, Drums dan Coffee Machine

Pasti bukan saya saja yang merasa bosan mendekam di rumah karena pandemi Corona ini. Himbauan untuk melakukan kerja di rumah (“work from home“) membuat kami sekeluarga bernasib sama dengan Cleo, Kai, Mochi, Boli dan Outsie, anak bulu kami. Berdiam di rumah, dan tidak bisa keluar. “Rasain, baru tahu ya rasanya?”, begitu sepertinya lirik Outsie.

Tapi ternyata Corona tidak cuman membawa kemuraman. Setelah hampir dua minggu ini saya dan istri menghabiskan waktu sebagian besar di rumah, saya menemukan beberapa berkah positif. Ini beberapanya:

 

1. Sudut-sudut rumah jadi lebih diperhatikan.

Sudut kolam Koi saya yang sebelumnya sepi hiasan, kini mendadak cantik dengan beberapa pot tanaman dan tempat duduk rotan. Selalu di rumah tampaknya membuat istri memperhatikan sudut-sudut yang tadinya diabaikan.

Sudut kolam koi yang menjadi lebih cantik

Begitu juga dengan sudut dekat dapur tempat di mana kita pusatkan tempat makanan untuk kucing-kucing kesayangan. Kini pak makanan kucing tersimpan rapi di dalam lemari kecil yang juga baru dibeli. Tambahan lagi di atasnya jadi coffee station untuk mesin espresso saya dan segala perlengkapannya.

2. Niat yang sudah lama terkendala terjalankan.

Salah satunya adalah memasang lukisan karya Rafif di rumah. Selama ini lukisan-lukisan itu masih teronggok di ruang musik. Weekend demi weekend berlalu, dan tetap saja niat memasang lukisan tersebut tidak terlaksana. Kalah dengan kesibukan akhir pekan lain yang umumnya bepergian.
Akhirnya setelah lama berada di rumah, niat itu pun terlaksana. Lukisan Rafif sudah terpajang dengan manis di dinding rumah kami.

Dua lukisan Rafif sudah terpasang di rumah

3. Badan lebih bugar, karena olah raga di rumah.

Ya, siapa sangka dengan berdiam diri di rumah, ternyata membuat hasrat berolah raga semakin besar. Mungkin karena fisik tidak terlalu digunakan seharian bekerja di depan komputer. Dan jalan pun hanya sebatas dari kamar timur ke kamar mandi dan meja makan. Jadi sepertinya badan butuh pelampiasan.

Jadilah kemudian saya ikut menggunakan tread mill milik istri. Padahal dulu saya tidak suka yang namanya lari di tread mill. Mendingan gowes. Sekarang kok agak ketagihan. Istri pun juga jadi rajin ikut kelas yoga virtual. Moga-moga setelah badai ini berlalu, kebiasaan baru lebih gemar berolahraga menetap. Syukur-syukur meningkat.

Hobi terbaru saya: lari di treadmill sambil nonton YouTube

4. Belajar melakukan banyak hal tanpa temu muka.

Badai pandemi ini mengajarkan kita ternyata untuk dapat produktif bekerja, kita tidak selalu harus tatap muka. Alhamdulillah dengan perkembangan teknologi internet saat ini, kita bisa berkoordinasi, menyelesaikan pekerjaan melalui video conference atau lewat telpon. Bahkan kalau saya bilang, intensitas rapat menjadi lebih fokus, dan diselesaikan lebih singkat.

Rapat tim kantor secara virtual menggunakan Zoom

Bukan hanya di lingkup pekerjaan. Terjadi juga di dalam aktifitas mengaji mingguan kita. Guru ngaji kita, Pak Sudiyo, kebetulan domisilinya di Lampung. Sehingga setiap minggu Pak Sudiyo selalu menyeberang Selat Sunda untuk datang mengunjungi murid-muridnya di Jakarta, termasuk kita. Ternyata dengan keterpaksaan social distancing, Pak Sudiyo tetap bisa mengajari kami mengaji, tanpa beliau meninggalkan keluarganya di Lampung. Berbekal fasilitas layanan Zoom, Alhamdulilah pengajian pun tetap berjalan lancar.

Mengaji dengan Pak Sudiyo secara jarak jauh

5. Barang yang lama diabaikan, kembali digunakan.

Salah satunya bor listrik. Sudah cukup lama saya punya. Selama ini jarang digunakan. Karena untuk memasang lukisan atau foto, saya cukup kirim whatsapp minta petugas kompleks memasangkan.

Dengan risiko penyebaran virus seperti sekarang, saya memilih memasang sendiri. Jadilah si bor keluar dari lemari. Dan hasilnya pun sudah kelihatan: ya itu si lukisan Rafif.

Lalu mesin espresso De Longhi saya. Beberapa bulan ini tidak pernah saya pakai. Teronggok di sudut terlapisi debu. Eh dengan seringnya bekerja di rumah, yang mana minum kopi adalah keharusan setiap pagi dan usai makan siang, maka saya pun kembali menggunakannya. Apalagi pojok kopi saya di dekat dapur sudah tersedia tempatnya.

Coffee corner dan mesin De Longhi saya

Dan terakhir adalah perangkat drums listrik saya. Selama ini ruang musik saya lebih menjadi seperti gudang. Tempat barang-barang tak terpakai diletakkan. Dengan punya banyak waktu di rumah, saya jadi senang kembali bermain drums. Bahkan sekarang sampai asyik memenuhi request teman-teman untuk memainkan lagu-lagu rock jaman dulu di  #DrumSync series saya di Instagram story. Belum pernah lihat? Monggo silahkan di follow 🙂

Demikian beberapa berkah positif wabah Corona bagi saya. Apa bagi Anda? Ada yang sama?

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s