Resensi Film Satria Dewa Gatotkaca: Super Hero Kekinian Dengan Lore Wayang yang Kental

Poster film Satria Dewa Gatotkaca

Perhatian: beberapa tulisan mengandung spoiler. Read at your own discretion.

Kemarin saya baca di lini masa Twitter kalau film Satria Dewa Gatotkaca gagal mendulang penonton. Kalah jauh dari film Ngeri-Ngeri Sedap. Apalagi kalau dibanding film KKN Desa Penari, yang memecahkan rekor sebagai film terlaris di Indonesia.

Tapi di balik jumlah penonton yang relatif sedikit tersebut, saya baca juga di lini masa tersebut kalau film ini bagus. Saya jujur penasaran, pengen nonton. Karena saya sedari kecil menggemari wayang.

Lepas menonton film ini tadi, saya bisa bilang kalau Satria Dewa Gatotkaca melebihi ekspektasi saya.

Ya pastinya saya tidak berekspektasi kalau film ini akan sekualitas film-film superhero keluaran Marvel Cinematic Universe.

But it’s close.

Hanung Bramantyo, sang sutradara, berhasil menghadirkan sosok Gatotkaca, superhero Astina di kancah pewayangan ke dalam film yang kekinian. Lore Mahabharata tetap disajikan, dengan titik sentral perseteruan Pandawa dan Kurawa. Namun dalam kemasan cerita yang berbeda. Setting film pun menyebutkan Astina sebagai lokasi. Tapi perwujudannya adalah sebuah kota fantasi mirip Jogja.

Diselipkannya banyak mitologi wayang dalam adegan membuat fans wayang in me bersorak riang. Mulai dari pusaka Brajamusti, senjata Cakra, dan komik sejarah Bharata Yuda yang sangat Marvel-esque. Yang juga brilyan dan menghibur adalah segmen “goro-goro” di tengah film. Yang menghadirkan komedi Gareng, Petruk, Bagong, Semar. Persis seperti segmen yang selalu hadir di pegelaran wayang kulit. The roots of wayang are strong here.

Dari segi cerita sebetulnya tidak terlalu istimewa. Tapi beberapa plot twist membuatnya menarik. Dan alasan-alasan konflik pun tergolong masuk akal. Misalnya kenapa kok ayah Yuda, sang Gatotkaca pergi meninggalkan keluarganya, dan tidak pernah berusaha mencari mereka. Oke lah menurut saya.

Fighting scene nya dikemas dinamis dan apik. Kehadiran dua aktor laga senior Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman membawa aksi laga kelas dunia. Toh, mereka ini juga sudah seliweran di-casting dalam pentas film Hollywood.

Nah ngomong-ngomong soal casting, hampir semuanya spot on. Saya senang banget dengan pemeran Yuda (Rizky Nazar). Aktingnya natural. Berkarakter. Cocok lah jadi superhero. Begitu juga dengan Omar Daniel sebagai Danan. Walaupun wajah-wajah mereka jauh dari wajah tipikal orang Jawa, namun mengingat mitologi wayang ini dari India, bisa dimaklumi. Sigi Wimala, juga cukup apik memainkan peran sebagai Arimbi, Ibu Yuda. Yasmin Napper juga oke sebagai Agni. Mereka berakting dengan baik. Gaya bicara yang seperti obrolan sehari-hari membuat film ini relatable, walaupun settingan nya semua fantasi.

Rizky Nazar, Hanung Bramantyo dan Yasmin Napper

Satu-satunya casting yang meleset menurut saya adalah Edward Akbar sebagai Profesor Arya Laksana. Sejak awal pemunculan, saya sudah merasa ada yang nggak pas dengan orang ini. Hal mana yang terbukti di akhir film.

Oh ya satu lagi, casting Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman juga menghadirkan ambigu. Bukan apa-apa, mereka berdua ini sosoknya mirip. Sosok pesilat, dengan ramput panjang dikuncir. Sama-sama orang Sunda lagi. Padahal mereka memainkan peran yang tampil hampir bersamaan, dan terlibat dalam pertarungan. Jadi siwer, saya bingung yang mana yang jadi Beceng dan yang mana yang jadi Pandega. Hehehe.

Soal musik dan soundtrack film juga digarap dengan serius. Tidak asal. Lagu-lagu dari Kotak, dan beberapa hip-hop (entah siapa) membawa kesan modern. Sementara alunan orkestra yang konon direkam di Jerman juga cukup menghadirkan suasana megah dan dramatis di adegan-adegan akhir film.

Terakhir, production design. Rafif, anak saya yang kuliah studi animasi, sangat terkesan dengan desain suit Gatotkaca. “I got to shake the hands whoever designed the suit”, katanya. Sebabnya? Desainnya kekinian. Ala jagoan masa kini Marvel atau DC. Tanpa menghilangkan ciri khas Gatotkaca di pewayangan: kumis dan bintang di dada.

Dan the suit ini baru muncul di akhir film. Pada last battle melawan Beceng. Flying battle yang mengingatkan saya pada fighting scene Superman di Man of Steel. Keren.

Gatotkaca battle suit

Sebelum scene ini, saya sempat bertanya-tanya, kok Gatotkaca yang promonya “siap mengangkasa di tahun 2022”, tidak pernah terbang. Ternyata memang Hanung menyiapkan sebagai save the best for last. It works for me. It ends the movie in high note.

Tapi ternyata itu bukan akhir cerita.

Seperti layaknya Marvel dengan end of credit scene nya, film ditutup dengan epilogue yang mengisyaratkan cerita ini belum selesai. Muncul tokoh antagonis baru dan pahlawan baru. Yang mungkin rencananya akan menjadi kesinambungan dari Satria Dewa Cinematic Universe.

Hanya saja, dengan jumlah penonton yang sampai minggu ini masih jauh dari harapan, apakah Produser rela mengeluarkan uang untuk memproduksi film lanjutan? Semoga.

Rating: 8/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s