SIF Fellowship Story: Metode Pengajaran Yang Berbeda

I took a picture at the front of Nanyang Technological University Main Building

Dalam satu semester di NTU, saya hanya mengambil tiga mata kuliah: Commercial Banking Management, Management Information System dan Total Quality Management (big management hype that time). Karena saya sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah wajib di UGM, saya tidak perlu “kejar setoran” untuk mengambil banyak mata kuliah dan mentransfer kredit ke UGM. Saya hanya mengambil mata kuliah yang menarik untuk mencari pengalaman dan pengetahuan baru di Singapura. Tapi ternyata metode kuliah di Singapura berbeda dengan di UGM. Hanya mengikuti 3 mata kuliah sudah cukup membuat saya sibuk untuk mengikuti kelas dan membaca bahan-bahan bacaan yang diwajibkan.

Saya memiliki pengalaman menarik saat mengikuti kuliah Commercial Banking Management. Mata kuliah ini disampaikan dalam dua kelas: general lecture, kelas besar dengan seratus lebih mahasiswa, dan tutorial class, kelas dengan kurang lebih 30 orang mahasiswa per kelasnya untuk mempelajari materi secara lebih detil. Pada saat pertama kali saya hadir di dalam general lecture class, sang dosen bertanya kepada mahasiswa di kelas saya, siapa di antara kita yang dapat menjelaskan mengenai Michael Porter’s Three Generic Competitive Strategy. Melihat tidak ada mahasiswa yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut, saya mengacungkan tangan dan menjawab. Tanpa saya sangka setelah saya menjawab pertanyaan tersebut sang dosen memberikan pujian dan mengatakan saya sebagai “one of my brightest student in class”. Saya heran, karena menurut saya, Porter Generic Strategy tadi awam diketahui oleh mahasiswa manajemen di UGM. Apabila sang dosen bertanya di kelas jurusan Manajemen di UGM, saya yakin bukan saya saja yang mampu menjelaskan hal tersebut.

Keheranan saya terjawab saat kelas telah usai.

Seorang teman kelas saya dari Singapura menghampiri dan bertanya, “Ibnu, where did you read on that lecturer’s question?”

Saya jawab, “From Michael Porter’s book, Competitive Strategy”

“Ow, on which lecturer note was that?”

“It was not on lecturer notes.”

“What? So where did you get that book?”, tanyanya lagi penasaran.

“Oh, it’s just a business book that I read on my spare time”

Teman kuliah saya tak menyembunyikan rasa terkejutnya mendapati saya membaca buku yang tidak ditugaskan oleh dosen. Di Singapura, ujarnya, mahasiswa akan fokus untuk mempelajari buku, artikel ataupun referensi yang dicantumkan dalam lecture notes (panduan yang diberikan oleh dosen). Jarang sekali mereka dan teman kuliah lainnya di Singapura yang memiliki waktu (atau ketertarikan) untuk membaca buku bisnis lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah mereka. Mendengar penjelasannya, saya merasa bangga menjadi mahasiswa UGM. Bangga dengan luasnya wawasan  mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan mahasiswa Singapura.

With the Professor and Class mates of “Advanced Total Quality Management” class in Nanyang Technological University

Sampai pada beberapa hari kemudian, saat jadwal tutorial class untuk mata kuliah yang sama tiba. Berbeda dengan general lecture class, tutorial class diadakan di kelas yang lebih kecil. Pada hari pertama tutorial class, saya datang ke kelas dan sang dosen pun langsung mengenali saya, “Ah, my brightest student from Indonesia, how are you?” sapanya. Saya hanya tersenyum, merasa bangga karena berhasil menghadirkan first impression positif kepadanya.

Tak lama kemudian, ia membuka kelas dan tanpa banyak berbicara ia langsung bertanya, “Ok guys, do you have any questions for me?”

Belum hilang rasa terkejut saya karena tidak terbiasa dengan dengan pertanyaan mendadak dari sang dosen, saya lebih terkejut lagi melihat hampir setengah dari teman kuliah saya di kelas tersebut mengacungkan tangan. Dan satu per satu dari mereka menanyakan pertanyaan demi pertanyaan yang kritis, dalam, dan jelas menunjukkan bahwa mereka sudah membaca lecture notes yang diberikan. Sementara saya, yang datang tanpa persiapan ke tutorial class, hanya bisa menundukkan wajah dan membolak balik buku, enggan menatap wajah dosen saya, karena saya malu, saya tidak punya pertanyaan untuk diajukan, karena saya belum membaca!

Barulah saya menyadari perbedaan antara mahasiswa di Singapura dan di Indonesia, paling tidak di UGM tempat saya kuliah saat itu. Mahasiswa Singapura akan dengan tekun dan disiplin membaca setiap bacaan wajib yang diberikan. Mereka akan membaca halaman per halaman, paragraf per paragraf. Sementara itu, saat kita kuliah di UGM, entah karena kurangnya panduan dari dosen atau karena memang bawaan sistem pendidikan sejak kecil, kita jarang membaca buku sebelum masuk ke kelas.  Kalaupun mau, kita hanya membaca sebagian dari buku wajib tersebut. Kita cenderung memilih-milih bagian buku, membaca permukaannya saja tanpa pemahaman yang mendalam, atau bahkan membaca artikel lain yang lebih menarik perhatian kita.

Kedua budaya belajar yang berbeda ini mungkin ada dampak positif dan negatifnya. Tapi dari pengalaman saya ini, saya menjadi sadar mengapa Singapura berhasil menjadi negara layanan jasa yang berhasil. They may not know a lot of things. They may only able to do certain things. But they do it well. Very well. 

Baca tulisan sebelumnya: SIF Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

Advertisements

One thought on “SIF Fellowship Story: Metode Pengajaran Yang Berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s