Kurva Normal dan Starting Eleven

Suatu hari ada salah seorang karyawan di tempat saya bekerja menanyakan saya pertanyaan berikut:

“Pak, saya sudah bertahun-tahun kerja di sini, tapi belum mendapatkan kesempatan promosi. Eh, ada orang yang lebih baru dari saya malah sudah naik pangkat lebih dulu”

Terus terang, dalam kurun waktu saya menekuni profesi saya di bidang SDM, sudah sering sekali saya dihadapkan pada pertanyaan (atau mungkin lebih tepatnya keluhan) seperti di atas.

Dalam beberapa kesempatan saya sering kali menjawab keluhan di atas dengan menganalogikan dengan kondisi yang selalu ditemui di dunia sepakbola: fight for the place in the team. Begini kira-kira jawaban yang sering saya sampaikan:

“Dalam tim sepakbola hanya ada 11 pemain yang turun ke lapangan. Sisanya ada di bangku cadangan. Kalau ada pemain yang tidak masuk ke starting eleven, kemungkinannya ada dua: (1) strategi yang diterapkan pelatih tidak membutuhkan pemain dalam posisi seperti dia; (2) pemain tersebut is simply not good enough to be in starting eleven. ”

“Lho, trus Bapak berarti bilang saya enggak bagus?”

“Bukan begitu. Tepatnya belum tentu. Anda tahu Jermain Defoe?”

Jermain Defoe Pompey

“Tahu”

“Dia pemain bagus apa enggak?”

“Emmm.. mustinya bagus ya. Kan masuk tim nasional Inggris.”

“Exactly. Tapi kenyataannya dia tidak masuk menjadi pilihan utama Juande Ramos sebagai starting eleven Tottenham Hotspurs. Kira-kira kenapa ya?”

“Emmm.. kayaknya karena Keane dan Berbatov lebih cocok Pak. Dua-duanya produktif mencetak gol”

“Nah. Itu dia jawabannya. Keane dan Berbatov dipasang saat ini karena performance-nya sedang bagus. Bukan karena Juande Ramos tidak senang dengan Defoe, atau sebaliknya karena menganakemaskan Berbatov. Dengan keterbatasan hanya dapat menurunkan 11 pemain, atau lebih khususnya lagi hanya 2 penyerang membuat Ramos harus membuat pilihan. Akibatnya Defoe tidak mendapat tempat utama di Tottenham, dan dia memilih untuk pindah ke Portsmouth untuk mengamankan posisinya di tim nasional Inggris.”

“Kalau gitu mungkin saya juga harus pindah kantor ya?”

“Belum tentu juga. Tergantung pilihan kamu. Dulu Julio Cruz juga bukan merupakan pilihan utama Roberto Mancini di Inter Milan. Saat itu Hernan Crespo dan Adriano lebih sering dipasang sebagai penyerang utama. Tapi Julio Cruz memilih untuk fight back, memberikan segala daya upaya dalam sesi latihan dan pada sedikit kesempatan yang diberikan padanya. Berkat kerja kerasnya, sekarang Julio Cruz menjadi pilihan utama Mancini di Inter. Do you see my points?”

“Yes, very much Pak. Tapi saya jadi bingung apakah saya harus keluar atau berusaha mendapatkan kesempatan tersebut.”

“Nah, itu kamu sendiri yang bisa menjawab.”

Kondisi dilematis pemilihan pemain untuk masuk menjadi tim utama bukan hanya masalah eksklusif pelatih tim sepakbola seperti Juande Ramos atau Roberto Mancini. Sebagai seorang manajer atau pemimpin unit organisasi di tempat kita bekerja, kita seringkali pun sering dihadapkan pada kondisi dilematis seperti ini.

Pada saat penilaian kinerja misalnya. Seringkali organisasi menerapkan “kurva normal” sebagai sarana untuk mendorong manajer melakukan penilaian kinerja bawahannya. Beberapa premis dari kurva normal adalah: (1) Sebagian besar karyawan kinerjanya adalah “rata-rata” – central tendency; (2) Jika dalam penilaian kita merasa ada 10% dari tim kita yang memiliki kinerja “baik sekali”, berarti ada 10% dari tim kita juga yang berkinerja “kurang”. Tepatnya dapat digambarkan pada kurva berikut ini:

Kurva Normal

Dalam kondisi menghadapi “batasan” seperti ini manajer harus memilih. Seringkali manajer sering bersikap menghindari konflik dengan anak buah, dengan memberikan penilaian yang minimal “baik” kepada seluruh bawahan. Hal ini yang sering menyebabkan organisasi tidak memacu karyawannya untuk berkompetisi secara sehat. Karyawan berprestasi akan melihat upayanya tidak dihargai secara cukup. Sedangkan karyawan yang kurang baik kinerjanya akan melihat tidak ada insentif untuk memperbaiki kinerjanya. Toh, semua akan dinilai baik. Akhirnya semua akan menjadi karyawan yang mediocre.

Jadi wahai para manajer,  mulailah bersikap seperti Juande Ramos atau Roberto Mancini. Berikan diferensiasi kepada top performers anda, dan jangan segan-segan “bangku-cadangkan” anggota tim yang sudah kurang bisa bersaing. Kadang kala pilihan ini tidak hanya berdampak positif bagi organisasi, tapi seringkali bagi anggota tim itu sendiri!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s