Menuju Piala Dunia 2018: Tiga Juara Legendaris

Piala Dunia kerap menjadi ajang pentasbihan pemain sepakbola legendaris. Dari sejak awal abad 20, banyak nama mencanangkan statusnya sebagai legenda pada turnamen bola empat kali setahun ini. Nama-nama seperti Pele, Beckenbauer adalah contohnya. Mereka memang sudah dikenal sebagai pemain sepakbola kelas dunia sebelum menjuarai Piala Dunia, namun keberhasilan mereka menjuarai Piala Dunia lah yang kemudian menghilangkan segala keragu-raguan untuk menyematkan gelar “pemain bola legendaris dunia”

Dalam tulisan minggu ketiga untuk menyambut Piala Dunia 2018 ini saya ingin mengupas tiga pemain legendaris yang ditasbihkan karena keberhasilan mereka memenangi kejuaraan sepakbola paling prestisius ini. Saya hanya akan mulai dari era Piala Dunia 1982 di Spanyol, karena baru mulai Piala Dunia ini lah saya mulai mengikuti dan menikmati permainan sepakbola.

1. Diego Maradona (Argentina) – Juara Piala Dunia 1986, Mexico

Salah satu pemain sepakbola paling legendaris dalam sejarah, yang mungkin hanya bisa diimbangi oleh Pele. Maradona memenangi Piala Dunia Mexico tahun 1986 dengan aksi heroik. Siapa yang bisa melupakan gol “tangan Tuhan” nya melawan Inggris di perempatfinal? Seakan sudah digariskan dalam sejarah, gol penuh kontroversi tersebut dilengkapi dengan salah satu gol paling brilyan dalam sejarah putaran final Piala Dunia: saat Maradona men-dribbling dari tengah lapangan, melewati 6 orang pemain Inggris, sebelum menceploskan bola ke gawang Peter Shilton. Gol yang belakang ini terpilih sebagai Goal of Century oleh FIFA mengantarkan Argentina mengalahkan Inggris dan maju ke babak semifinal.

Kebintangan Maradon berlanjut di partai semifinal dan final, dimana Maradona mampu memimpin tim Tango mengalahkan Belgia di semifinal, dan kemudian Jerman Barat di final. Kendati tidak dapat mencetak gol di final, namun assist brilyan Maradona ke Burruchaga berhasil menghasilkan gol penentu kemenangan Argentina di partai final tersebut. Sang legenda baru telah lahir!

2. Ronaldo Luis Nazario de Lima (Brazil) – Juara Piala Dunia 2002, Jepang-Korea

O Fenomeno, atau sang fenomena. Demikianlah Ronaldo dijuluki. Dikenal dunia pertama kali saat merumput bersama PSV Eindhoven, ketajaman naluri seorang Sir Bobby Robson lah yang meroketkan nama Ronaldo. Ronaldo direkrut untuk menjadi penyerang tim Catalan, Barcelona. Dalam musim pertamanya, Ronaldo langsung menjadi top scorer La Liga dengan 30 gol. Kebintangannya semakin bersinar kewat gol-golnya yang menawan, kerap melalui aksi dribbling eksplosif yang diakhiri dengan penyelesaian yang tajam.

Setelah gagal menjuarai Pjala Dunia 1998 (yang diingat dengan hilangnya kemampuan Ronaldo secara misterius di partai final), Kebintangan Ronaldo tampak akan berlanjut dengan ditransfernya ia sebagai pemain termahal ke Inter Milan di tahun 1990. Namun petaka kemudian menghampiri. Dalam satu pertandingan liga Serie A, ligamennya sobek, dan Ronaldo kemudian akrab dengan meja operasi dari waktu ke waktu. Aksi eksplosifnya tak pernah lagi terlihat. Kendati demikian, lambat laun Ronaldo mulai menemukan kembali ketajamannya.

Datang ke Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang masih dalam bayang-bayang sebagai seorang pesakitan, Ronaldo ternyata mampu membayar kekecewaan rakyat Brazil dan penggemarnya di Piala Dunia Perancis empat tahun sebelumnya. Saat itu dia secara misterius Ronaldo tampil loyo pada partai final, yang berkontribusi pada kekalahan Brazil 0-3 oleh tuan rumah Perancis.

Di Korea dan Jepang memang Ronaldo tidak menciptakan gol spektakuler melalui aksi dribbling eksplosif yang menjadi trade mark nya 4-5 tahun sebelumnya, namun hal itu digantikan dengan naluri mencetak gol melalui positioning brilyan dan clinical finishing. Hasilnya Ronaldo menjadi top scorer Piala Dunia 2002 dengan 8 gol, termasuk dua golnya di partai final melawan Jerman. Dengan keberhasilannya ini lah, Ronaldo layak disejajarkan dengan legenda Brazil lain seperti Pele ataupun Romario.

3. Zinedine Zidane (Perancis) – Juara Piala Dunia 1998, Perancis

Mungkin sebelum dua gol sundulannya ke gawang Brazil yang membawa Perancis menjuarai Piala Dunia 1998 di Estadio de France, perhatian penonton sepakbola lebih tertuju ke arah kolektivitas tim Perancis yang mengusung pemain kuat di berbagai lini. Mulai dari Fabian Barthez di gawang, Laurent Blanc, Marcel Dessaily dan Lilian Thuram di lini belakang, Zidane sendiri bersama Didier Deschamp, Youri Djorkaeff, Emanuelle Petit, Patrick Vieira di barisan gelandang, dan para penyerang seperti Thierry Henry, Christoph Dugarry dan Stephane Guivarch. Iringan dirigen pelatih Aime Jacquet mampu menyulap tim Les Blues menjadi tim terbaik di pentas dunia.

Namun berbeda dengan Maradona dan Ronaldo yang menjadikan Piala Dunia yang dijuarainya sebagai titik kulminasi prestasi sepak bola mereka, Zidane justru seakan dilahirkan dari momen magis di Stadio de France tersebut.

Setelah itu, kegemilangan Zidane berlanjut di level klub. Baik di Juventus ataupun Real Madrid bersama el galacticos, kebintangan Zidane semakin bersinar. Aksi olah bolanya yang elegan dan visinya mampu mengubah permainan klub yang ia bela. Bersama tim nasional pun Zidane mengulangi sukses dengan menjuarai Piala Eropa tahun 2000. Perancis menjadi tim pertama yang menjuarai turnamen internasional berturut-turut, hal mana yang kemudian disamakan oleh generasi emas Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.

Namun demikian, Perancis kemudian terpuruk secara tragis dengan gagal lolos babak penyisihan di Piala Dunia 2002. Zidane kecewa berat, bahkan kemudian di tahun 2004 mengundurkan diri dari tim nasional Perancis. Namun akhirnya ia berhasil dibujuk untuk kembali menjadi kapten tim Perancis di Piala Dunia 2006.

Di turnamen ini Zidane kembali tampil memukau. Kendalinya akan permainan saat melawan Brazil di semifinal disebut-sebut sebagai salah satu penampilan terbaik Zidane dalam satu pertandingan. Perancis dibawanya lolos ke partai puncak. Zidane berkesempatan untuk mengulangi sukses di Perancis 8 tahun sebelumnya. Sayang, momen sinting Zidane menanduk dada Materazzi berujung pada kartu merah, dan ikut menyebabkan Perancis tunduk dari Italia melalui adu penalti. Hal yang sungguh disayangkan, kendati tak dapat memupus status legenda seorang Zinedine Zidane.

Menarik untuk dilihat apakah akan ada legenda baru yang akan lahir di Piala Dunia 2018. Banyak penggemar sepakbola mungkin yang menginginkan Lionel Messi untuk menjuarai Piala Dunia, agar kebintangannya selama ini dapat sah distempel sebagai legenda, layaknya sang idola, Diego Maradona. Bisakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s