Berawal dari Citarum, Terwujud di Nizhny Novgorod

Papa saya almarhum adalah penggemar bola. Sejak kecil Papa memperkenalkan saya dan abang saya, Mas Oyi, dengan olahraga ini. Saya masih ingat saat Papa membelikan sepatu bola pertama lengkap dengan kaos kaki panjangnya di Samarinda. Saya juga masih ingat kaos saya dan Mas Oyi bergambar sepakbola Perserikatan (liga Indonesia jaman dulu). Dan masih lekat dalam ingatan, pengalaman pertama kali menonton sepakbola di stadion.

Saat itu kebetulan kami sekeluarga sedang berlibur di Semarang. Sedang ada pertandingan sepakbola Perserikatan di stadion Citarum Semarang. Saya nggak ingat persis, tapi kalau gak salah saat itu PSIS Semarang bertanding melawan PSP Padang. Papa mengajak saya dan Mas Oyi untuk nonton di stadion pertama kali. Saat itu kita masih SD. Saya tidak ingat berapa skornya. Tapi saya masih ingat persis gemuruh gegap gempita suasana stadion. Dan jelasnya permainan bola yang terekam di mata, beda dengan yang sebelumnya hanya melalui layar TV.

Pengalaman itu betul-betul membekas. Sejak itu saya selalu bersemangat kalau diajak nonton langsung sepakbola di stadion.

Seperti layaknya anak kecil penggemar sepakbola, saya dan Mas Oyi juga mengikuti perkembangan sepakbola luar negeri. Dulu saat kita masih SD, kompetisi liga eropa tidak banyak disiarkan di TV. Paling hanya beberapa rekaman pertandingan Bundesliga di hari Minggu siang. Jadi paparan mengenai sepakbola dunia lebih banyak mengenai Piala Dunia. Kalau sedang ada gelaran Piala Dunia, TVRI pasti menyiarkan secara langsung. Saat itulah saya berangan-angan, semoga suatu hari nanti bisa nonton langsung pertandingan Piala Dunia di stadion.

Alhamdulillah, Allah maha baik. Kemarin impian saya itu terwujud. Saya menyaksikan pertandingan perempat final Piala Dunia Russia 2018, antara Perancis dan Uruguay.

Pertandingan diselenggarakan di Nizhny Novgorod, kota di timur laut Moscow, sekitar 1 jam perjalanan dengan pesawat. Saya mengajak Aya, anak perempuan saya yang lebih tertarik ke sepakbola dibanding Rafif, adiknya.

Kami berdua naik pesawat pagi dari Moscow. Setelah delay 1 jam, kami sampai di Nizhny sekitar jam 11. Usai meletakkan koper di apartment sewaan, saya dan Aya pergi ke pusat kota Nizhny untuk makan siang dan bersiap-siap ke stadion.

Suasana pesta bola sudah langsung terasa. Rombongan supporter Uruguay dan Perancis terlihat berkelompok-kelompok memenuhi tempat makan siang dan plaza di kota Nizhny. Selain mereka, kelompok supporter dari negara yang sudah angkat koper, seperti Argentina dan Meksiko, juga terlihat dengan atributnya yang khas. Walaupun tim mereka tidak lolos perempatfinal, kelihatan sekali betapa bangganya mereka terhadap tim nasional dan negaranya. Bendera albio celeste dan topi sombrebo marak terusung.

Dan suasana karnaval sepakbola negara ini berlanjut di area pertandingan sekitar stadion. Stadion dipenuhi oleh supporter sepakbola dari berbagai negara. Bendera dan jersey negara atapun klub dengan bangga dikenakan tanpa peduli timnya sudah tersisih, atau bahkan tidak ikut Piala Dunia. Semua larut dalam kegembiraan tanpa sekat. Saling berkenalan dan berfoto bersama. Kalau melihat begini, world suddenly looks a much better place.

Sejam sebelum kick-off, saya dan Aya masuk ke dalam stadion. Walaupun pengawasan dan pemeriksaan ketat, tidak ada antrian berarti untuk masuk ke stadion. Banyaknya gate yang dibuka, dan prosedur canggih pemeriksaan identitas melalui Fan ID membuat pemeriksaan dilakukan dengan cepat. Sigapnya para volunteer dalam membantu rombongan penonton untuk menuju gerbang-gerbang masuk stadion juga patut diacungi jempol. Suatu manajemen pengelolaan pertunjukan yang bukan hanya profesional, tapi juga memanjakan kita, fans sepakbola.

Sesampai di dalam, stadion masih setengah kosong. Tapi sudah ramai dengan nyanyian dan sorak sorai supporter tim Uruguay. Menempati sebagian besar section di belakang gawang tribun barat, mereka tak henti-henti bersorak dan bernyanyi menyemangati. Dari sebelum pertandingan, saat tim mereka bermain dan bahkan pada saat akhinya kalah dari Perancis. Kompaknya supporter tim Uruguay ini membuat banyak penonton termasuk saya bersimpati. Di akhir pertandingan, walaupun timnya kalah, mereka memenangkan hati penonton lain. Kita memberikan applause dan menyelamati mereka yang berkaos biru muda. Well done, guys. You guys are champion.

Pertandingan Perancis melawan Uruguay sendiri berlangsung cukup menarik. Sayangnya Edison Cavani masih cedera usai aksi heroik nya melawan Portugal beberapa hari yang lalu. Luis Suarez jadi terlihat berjuang sendirian di garis depan Uruguay. Sedangkan Perancis tampil dengan skema permainan yang rapi dan jelas. Poros lini tengah Griezmann-Pogba-Kante sangat solid dan komplet. Griezman dengan tusukannya, Pogba dengan daya jelajahnya dan Kante yang rajin memotong pergerakan berbahaya.

Belum lagi Kylian Mbappe. God, this boy is really special. Menyaksikan langsung aksi Mbappe membuat saya dan Aya berdecak kagum. Skill mengolah bolanya luar biasa, kecepatannya eksplosif, dan kuat menghadapi body charge bek Uruguay.

Tak heran kemudian Perancis menguasai sebagian besar pertandingan dan menang 2-0. Didier Deschamps berhasil menyusun tim yang seimbang dalam menyerang dan bertahan. Mereka salah satu favorit juara tahun ini. Di semi final nanti, mereka menghadapi Belgia, salah satu favorit juara lain, yang semalam mengandaskan Brazil melalui partai yang atraktif dan seru.

Akhirnya, pertandingan pun usai, dan penonton dengan tertib keluar stadion. Semua bahagia. Termasuk Aya. Baru kali ini saya lihat ia begitu engaged dan excited menyaksikan pertandingan sepakbola.

Everything is so clear. It’s like HD (High Definition) quality. TV Papah di rumah kalah”, begitu dia bilang.

Exactly, Aya, that was what I feel back then in Stadion Citarum Semarang.

Saya berharap Aya kan terus mengenang momen spesial ini, dan menginsipirasinya untuk berjuang mencapai mimpi-mimpinya, apapun itu.

Kebahagiaan saya semakin lengkap saat dalam perjalanan keluar stadio. Di sana kita bertemu dengan reporter Trans TV yang sedang meliput. Mereka mengidentifikasi saya sebagai orang Indonesia karena jersey PSIS yang saya kenakan. Kami kemudian diwawancarai untuk salah satu acara mereka (Pada saat saya menulis ini, saya mendapatkan pesan dari teman-teman di Indonesia yang menyaksikan tayangannya di televisi ☺️).

Dan ternyata akun resmi PSIS pun menampilkan foto saya dan Aya yang mewakili PSIS di ajang Piala Dunia. Rupanya Oom saya di Semarang mengirimkan foto yang saya kirim ke Whatsapp group keluarga ke pengurus PSIS. Dan foto tersebut diunggah ke Instagram PSIS yang disambut dengan meriah oleh sesama pendukung ☺️

Akhirnya, peristiwa di atas inilah yang menyadarkan asal muasal mimpi ini semua.

Kemarin saya merealisasikan mimpi saya dengan mengenakan jersey PSIS. Awalnya hanya kebetulan, karena saya tidak punya jersey tim yang bermain, dan I’m proud from where I come from, Semarang. And I’m proud of my local boyhood team.

Tapi mungkin ini bukan hanya sekedar kebetulan belaka.

PSIS adalah tim pertama yang saya saksikan langsung di stadion. Dan jersey PSIS pula yang saya kenakan untuk pertandingan Piala Dunia pertama saya di Nizhny. Sontak ingatan saya melayang pada sosok Papa almarhum, seorang penggemar bola, seorang supporter PSIS. Yesterday, he must’ve been smiling from above.

Yes, I made it Pap. Thanks for introducing me to this beautiful game, and inspiring me to dream. I love you ❤️

Catatan Akhir: untuk abangku, Mas Oyi. I know how bad your memory of the past, so you might not remember about the Citarum scene, but I’m sure you share the same dream. Bagaimana, dua tahun lagi kita bareng nonton Piala Eropa? Siapa tahu Jerman bisa lolos babak penyisihan grup? Hihihi.

4 thoughts on “Berawal dari Citarum, Terwujud di Nizhny Novgorod

  1. Memori gw soal sepak bola jangan disamakan dengan memori lain spt siapa anak vidatra yg bukan angkatan gw atau ini anaknya om siapa, wah memang gak preserve di otak kalau itu hahaha. Tapi memori nonton PSIS main di Citarum, bahkan juga di stadion Diponegoro (sebelum PSIS pindah base ke Citarum) apalagi di Stadion Jatidiri, masih membekas kuat. PSIS juara Turnamen Perserikatan dengan Ribut Waidinya, atau pertama kali diajak masuk Stadion Senayan sama Papa saat era Joko Malis, semua masih ingat hehehe.

    Nice writing Nu, you are so lucky bisa menikmati piala dunia secara langsung, walau belum bertemu dengan England (which is very soon, I believe). Enjoy the games and still broadcast to the world what you’re experiencing in Russia.

    Keep it coming!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s