Konser Judas Priest: Saat “Metal Gods” Turun ke Jakarta

Atas: Richie Faulkner, pengganti K.K. Downing, tengah: bersama teman-teman metal heads, bawah: suasana panggung saat akhir konser

Jumat malam kemarin, Jakarta kedatangan dewa. Para dewa yang berasal dari tanah Inggris Raya ini, datang memekikkan musik heavy metal selama 1,5 jam. Penggemar musik cadas berkumpul di Allianz Ecopark Ancol, melakukan ritual headbanging dan mengacungkan tangan tiga jari, seakan-akan tersihir oleh pesona sang dewa.

Ya, bagi penggemar musik metal, terutama yang mengalami masa muda di akhir tahun 70-an dan sepanjang dekade 80-an, Judas Priest merupakan salah satu dewa musik genre ini.

Bersama dengan Black Sabbath dan Iron Maiden, Judas Priest ikut mempelopori kebangkitan musik heavy metal ke arena yang lebih mainstream. Album mereka di awal dekade 80an, British Steel (1980), Screaming for Vengeance (1982) sampai dengan Defenders of the Faith (1984) menjadi koleksi wajib para pemuda gondrong di seluruh dunia, termasuk tanah air.

Gerbang masuk ke Allianz Ecopark

Saya sendiri baru ikut mendengarkan Judas Priest di tahun 1986, saat abang saya Oyi membeli album “Turbo Lover“. Dikemas dengan sentuhan sound techno dan melodi yang kuat membuat album ini cepat masuk ke kuping saya. Maklum, saat itu masih penggemar musik rock newbie.

Tapi berkat album itu pula saya kemudian ikut mengkoleksi Judas Priest, walau tidak terlalu fanatik. Kaset terakhir yang saya beli adalah Painkiller di tahun 1990, sebelum akhirnya Judas Priest ikut tenggelam disapu derasnya badai musik grunge. Saya pun tak lagi mengikuti mereka. Hilang kontak.

Baru di awal tahun ini saya menyaksikan video musik Judas Priest di YouTube. Single mereka dari album Firepower, “Spectre” dan “Lightning Strike” cukup menarik perhatian saya. Musiknya keras, tapi dengan groove yang catchy. Gile juga nih kakek-kakek tua, masih konsisten di jalur heavy metal.

Official merchandise store, menjual kaos Judas Priest yang original, walau sedikit mahal. Hajar!

Saya jadi tertarik mendalami kembali grup tua ini. Saya cari-cari berita mengenai mereka. Baru tahu kalau K.K. Downing sudah tidak lagi bersama. Ikut sedih mendengar Glenn Tipton menderita parkinson. Dan tersenyum membaca kalau Rob Halford sudah terang-terangan mendeklarasi kalau beliau “gay“.

Tapi yang paling penting adalah musik mereka. Saya download seluruh album Firepower, dan bisa saya katakan ini salah satu album heavy metal rilisan baru terbaik bagi saya. Dan thanks to Apple Music, saya dapat menelusuri jejak lagu-lagu lawas yang membuat Judas Priest terkenal, jauh sebelum saya mengenal musik metal.

Jadi saat saya mendengar Judas Priest akan datang ke Jakarta, saya segera titip tiket presale ke teman saya, Yoyok.

Bertemu sesama metalhead: Piyu, gitaris band Padi Reborn. Kita traktir Mas Piyu! ☺️

Dan Jumat malam kemarin saatnya pesta penyambutan sang dewa datang ke tanah air.

Datang ke lokasi sekitar 2 jam sebelum acara, gate belum terbuka. Saat berkumpul di depan gate, saya menjumpai beberapa teman sesama metal heads. Berbeda dengan konser Guns N Roses sebelumnya, penonton konser Judas Priest tampak lebih tersegmentasi. Pecinta music mainstream sepertinya tidak hadir malam itu. 

Beberapa yang saya ajak bicara adalah fanatik music metal atau sesama alumnus konser music cadas dari puluhan tahun lalu. Sambil menunggu konser dimulai, kita asyik mengenang suara Ecky Lamoh yang tidak keluar di konser Sepultura di Jakarta tahun 1992, atau saat kita pulang ditendangin mariner pasca konser Metallica yang rusuh di Lebak Bulus. Haha great times indeed.

Akhirnya tepat pukul 8 malam, Judas Priest tampil di atas panggung. Mereka langsung menggeber dengan lagu “Firepower” dari album terbaru mereka.

Judas Priest di atas panggung. Richie Faulkner (gitar) sebelah kiri, Rob Halford (vokal) tengah, Scott Travis (drums), dan Ian Hill (bass) kanan

Sejak lagu pertama para personil Judas Priest sudah menunjukkan kelas mereka sebagai band metal papan atas.

Richie Faulkner menunjukkan dia pantas menggantikan K.K. Downing dengan sayatan gitarnya yang menawan. Tampil mirip K.K. dengan gitar model Gibson Flying V, ia pun sekaligus menggantikan posisi Glenn Tipton dengan melakukan lead solos di hampir semua lagu.

Scott Travis sudah lama menjadi drummer favorit saya. Terutama sejak saya mengenal drums intro nya yang terkenal di lagu Painkiller. Intro legendaris tersebut juga kemudian diperlihatkannya. Sepanjang konser, Scott menampilkan kontrol tempo dan power yang memukau.

Tapi yang paling membuat kagum tentu saja sang frontman. Pada teriakan awalnya, Rob Halford sudah membuat saya berpandangan dengan teman saya, Yoyok. “Wah gila, masih bisa nih si kakek

Maklum saja, Rob Halford tahun ini sudah menginjak usia 68 tahun. Tapi saya jamin suaranya masih lebih powerful dari Axl Rose kemarin di GBK. Nada-nada tinggi pun masih dapat digapai. Sudah pasti tidak sama dengan Rob jaman dulu. Namun mengingat usianya, it’s kind of miracle to see him singing like that!

Terlebih lagi, tidak seperti konser Guns N Roses November lalu, sound system mala mini sempurna. Dan tertolong juga dengan posisi saya yang berdiri di tengah dan agak depan panggung, kualitas suara yang dihasilkan seimbang. Mantap. Coba dengarkan rekaman video saya saat mereka menyanyikan lagu “Turbo Lover” ini:

Judas Priest mengemas set list yang mirip dengan konser sebelumya di Singapura. Jadi dari situs set.list saya sudah bisa menerka lagu-lagu apa saja yang akan mereka bawakan.

Setengah babak konser mereka dipenuhi dengan lagu-lagu dari koleksi lawas Priest. Jaman-jaman album yang dirilis di akhir tahun 70an atau awal 80an (British Steel , Point of Entry). Notabene lagu-lagu yang mungkin hanya penggemar berat atau penggemar Judas Priest sedari dulu yang tahu.

Saya sih terus terang sebelum konser tidak pernah dengar kebanyakan dari lagu-lagu ini. Thanks to Apple Music, seminggu sebelum konser sudah saya pelajari, jadi nggak bengong-bengong amat 😬

Baru kemudian saat menginjak ke paruh kedua, Judas Priest mulai mengeluarkan lagu-lagu legendaris yang membuat mereka populer. Mulai dari Turbo Lover, Freewheel Burning sampai You’ve Got Another Thing Coming.

Man, the place was rocking.

Saya yang sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lompat-lompat, tanpa disadari mengikuti beat lagu untuk ikut headbang. Lupa usia!

Dan puncaknya adalah saat Encore.

Glenn Tipton yang sedari tadi tidak nampak, ikut tampil ke atas panggung. Mengenakan topi hitam, Glenn ikut memainkan lagu berturut-turut Metal Gods, Breaking the Law, dan lagu terakhir Living After Midnight. Lagu-lagu legendaris untuk menghormati Glenn Tipton yang masih berusaha tampil menjumpai para fans-nya di seluruh penjuru dunia, kendati menderita sakit parkinson.

Heil Glenn Tipton!

Penonton pun sontak menyambut hangat hadirnya pendiri Judas Priest ini. Tanpa banyak dikomando, para penonton berjingkrak, bernyanyi, menggerakkan kepala mengikuti irama musik. Semua hanyut dalam sajian dewa musik heavy metal yang akhirnya turun ke Indonesia.

Akhirnya setelah satu jam setengah, konser pun selesai. Konser yang apik dan seru. The band was tight, the sound was good, and the audience was rocking. Suatu persembahan sempurna dari para “dewa” untuk menutup tahun 2018. 🤟🏻

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s