Selamat Datang PS5, Konsol Termurah yang Saya Pernah Beli!

Dengan stik konsol terbaru saya PS5

Konsol game termurah? Yang benar aja?

Hehe betul. Tapi ada tapinya.

PS5 adalah konsol game termurah yang pernah saya beli, relatif dibandingkan dengan penghasilan saya. Hehehe.

Saya suka main games dari jaman dulu. Sebelum era kejayaan Playstation dimulai, saya adalah PC gamer. Oh malah lebih jadul lagi, konsol game pertama saya adalah Atari 2600. Baru setelah itu main games di PC sejak punya PC-XT, dan dilanjutkan dengan PC-AT.

Saat Playstation pertama dirilis, saya masih kuliah. Belum punya uang. Jadi hanya bisa ngiler lihat teman kuliah saya yang membawa konsol canggih ini ke kamar kos teman kita. Saya ingat betul, game yang dimainkan adalah Destruction Derby. Game yang impresif, karena kekuatan grafis poligon 3-D yang ditampilkan, masih jarang ditemukan di games lain di console lain, atau PC.

Saya baru bisa beli Playstation 1 saat sudah bekerja dan belum punya anak. Menyisihkan sebagian uang gaji yang tidak seberapa, saya membeli konsol idaman saya itu dengan paket stir, pistol elektronik, dan segambreng games, yang terus terang sebagian besar jarang dimainkan. Yang paling sering dimainkan hanya games sepakbola (Winning Eleven!) dan games balap (Gran Turismo!).

Sejak itu saya tidak pernah absen membeli setiap konsol Playstation terbaru dirilis.

Kalau diingat-ingat, konsol “termahal” yang saya beli mungkin adalah Playstation 2. Karena saat itu saya baru punya anak, baru cicil rumah, dan tentu saja penghasilan masih terbebani cicilan sana sini. Harus menabung beberapa saat sebelum dapat membeli konsol ini.

Sejarah console Sony Playstation sebelum PS5

Setelah itu dengan penghasilan yang mulai meningkat, Alhamdulillah diberikan rejeki untuk dapat membeli console dengan lebih mudah. Saat Xbox 360 dirilis, saya sempat selingkuh sesaat dengan konsol buatan Microsoft ini. Penyebabnya Xbox 360 membuat lompatan signifikan ke HD (High Definition) gaming. Walaupun sempat diwarnai dengan problem Red Ring of Death (RROD), Xbox 360 menancapkan standar performa gaming console. Jadi perselingkuhan saya cukup beralasan.

Tapi sebetulnya bukan hanya itu sebab saya selingkuh. Seingat saya saat itu Xbox 360 diluncurkan lebih dulu sebelum Playstation 3. Harganya lebih murah pula. Dan ada satu fitur Xbox 360 yang tidak bisa ditandingi oleh PS3: bisa main games bajakan. Hehehe.

Ya benar, saat itu PS3 sudah menerapkan copy protection yang membuat gamers harus beli games asli. Yang harganya bisa 10 kali lipat dari harga games bajakan. Tapi PS3 menawarkan kelebihan lain: fitur online gaming melalui Playstation Network yang gratis. Beda dengan Xbox Live yang harus membayar subscription tahunan.

Fitur online gaming inilah yang kemudian membuat saya akhirnya membeli PS3, walaupun sudah punya Xbox 360.

Ceritanya, saat itu saya punya sekelompok teman main games bola FIFA di kantor. Setiap Jumat malam, kami main bareng di Blitz Gamesphere, Pacific Place Mall, yang berada di seberang kantor kami. Such a fun boys night. Hanya sayang, kemudian ritual tersebut harus terhenti. Karena beberapa kawan sudah pindah kerja. Kantornya jadi berjauhan. Jadi sudah tidak mudah lagi untuk main bareng.

Then Playstation 3 comes to rescue.

Saya kemudian “meracuni” teman-teman saya itu untuk ikut membeli Playstation 3. Dengan alasan untuk dapat kembali main bola bareng. Benar adanya, dengan fitur Playstation Network yang gratis, kami kembali terhubung di lapangan hijau virtual.

Kesuksesan PS3 dengan fitur online-nya mendorong industri games di tanah air untuk lepas dari games bajakan. Jadi saat Playstation 4 dirilis, Sony langsung memimpin peta penjualan console di dunia. Berbekal games-games platform exclusive-nya yang berkualitas seperti Uncharted, Gran Turismo, God of War, Last of Us, Sony PS4 jauh meninggalkan penjualan Xbox One di kancah industri games console dunia. Saya pun tentunya tidak ketinggalan dalam membeli konsol ini. Saat itu seingat saya tidak perlu bersusah payah. Dari sisi finansial, penghasilan saya tentunya sudah lebih mencukupi. Dan dari sisi ketersediaan barang, konsol ini walaupun laku keras, tidak perlu mengantri membelinya.

Berbeda dengan Playstation 5 ini.

Bentuk Sony PS5 yang kontroversial berhasil membangun hype

Sejak disikap tirai konsol terbaru Sony ini, hype-nya sangat tinggi. Padahal harganya relatif lebih tinggi dari konsol-konsol sebelumnya. Mungkin karena bentuknya yang jauh di luar ekspektasi para pemerhati games. Meninggalkan bentuk kotak yang lazim dipakai oleh console-console generasi sebelumnya, PS5 berbentuk curvy, dinamis, dan organik. Selain itu spesifikasi teknis PS5 yang prosesornya mampu memainkan games di resolusi 8K dan 120 fps, serta fitur backward compatibility ternyata sanggup membuat para gamers bersiap-siap membeli console ini.

Dan benar adanya. The hype is real. Sejak dirilis di akhir tahun lalu, stok PS5 ludes diburu pembeli. Untuk pasar Indonesia, PS5 baru dikeluarkan di pasar sejak tanggal 22 Januari lalu. Saking banyaknya yang melakukan purchase order, beberapa toko mengadakan undian hak untuk membeli lebih dulu. Teman saya beruntung menang undian. Saya tidak. Jadi pada tanggal 22 Januari kemarin, teman saya tersebut sudah mulai bermain dengan PS5.

Awalnya, saya tidak terlalu tergoda untuk beli cepat-cepat. Toh dari games baru yang dirilis tidak ada games PS5 yang saya incar. Kalau Gran Turismo 7 sudah rilis, mungkin lain cerita. Apalagi di pasaran harga PS5 sudah naik 30-70% dari harga resmi. Ajegile.

Tapi setelah melihat fitur backward compatibility di YouTube, yang menampilkan games-games PS4 dapat dimainkan dengan resolusi 4K dan frame rate halus 60 fps tanpa hambatan, saya jadi tergoda. Karena sebelumnya saya sempat kepikiran beli PS4 Pro. Tapi karena saya sudah tidak terlalu sering main games lagi, saya urungkan niat tersebut.

Tapi ternyata melihat kemampuan PS5 yang dapat menampilkan performa lebih bagus dari PS4 Pro, saya jadi goyah. Apalagi akhir-akhir ini saya memang lebih sering main games daripada 2-3 tahun terakhir. Dengan dibatasinya kegiatan luar rumah di kala pandemi kali ini, bermain games di rumah menjadi salah satu aktifitas rekreasi yang menyenangkan. Lebih lagi, kegiatan main bola secara virtual dengan konco lawas sejak PS3 kembali aktif. Hampir tiap malam kita sempatkan bermain sepakbola online 2v2 di Pro Evolution Soccer 2021.

Jadilah kemudian saya putuskan untuk membeli PS5. Sialnya, sungguh sulit mendapatkan barang yang ready stock dengan garansi Sony Indonesia. Bisa sih untuk antri purchase order dengan delivery bulan Maret. Tapi masih dengan embel-embel “nggak janji”. Hadeh.

Alhamdulillah akhirnya saya menemukan penjual dengan barang yang ready stock dan harga yang masih “masuk akal”. Ya, saya memang tetap membayar premium di atas harga resmi. Tapi, it’s all worth it. Dengan harga premium pun, Sony PS5 ini masih menjadi console “termurah” yang saya beli. Relatively speaking 🙂

Game On!

2 Comments Add yours

  1. Mantaaaaap, congrats ya Nu, selamat menikmati apa yg Allah beri kepadamu.
    Kapan copa Kresnadi kalau gitu? 🤣

    1. ibenimages says:

      Hahaha Alhamdulillah Mas.. harus beli stik dulu satu lagi nih hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s