Pelajaran Berlari dari Bali Marathon

Ada beberapa pelajaran yang saya petik dari pengalaman mengikuti lomba lari pertama saya hari ini, di ajang Maybank Bali Marathon:

1. Persiapkan Race Gears sebelum berangkat dari Rumah

My race gears during inspection

Karena baru saja kembali dari Jogja untuk mengikuti wisuda Aya, saya jadi terburu-buru packing. Akibatnya beberapa barang ketinggalan. Kaos kaki lari saya ketinggalan. Celana dan kaos lari juga cuman bawa satu. Untung saja perlengkapan kritikal seperti legs supporter, jam Garmin dan AirPods tidak tertinggal.

Tapi hal ini mengajari saya untuk melakukan pre-race check sebelum berangkat dari rumah. Karena kalau checking nya sudah mau lomba, dan sudah tidak di rumah lagi, kalau ada yang ketinggalan, mau gimana ngambilnya? 🤣

2. Shake Up Run is Important

Sehari sebelum lomba saya membaca kalau “shake up run” – yakni lari ringan sebelum lomba akan sangat membantu dalam melemaskan otot dan peredaran darah.

Ternyata benar adanya. Sehari sebelum lomba, saya dan Elok memutuskan untuk berlari ringan di treadmill gym hotel. Masing-masing kita berlari santai 3-4 km. Ternyata efeknya pada lomba signifikan. Otot kita tidak kaku. Elok yang paling merasakan bahwa “larinya terasa lebih enteng”

3. Memahami Rute dan Elevasi

Rute lari melewati desa Bali

Beruntung sebelum lomba saya sempat mempelajari rute. Dan juga panitia Maybank Bali Marathon cukup informatif dalam memberikan info rute dan elevasi. Berkat informasi ini saya jadi bisa mengira-ngira kapan rute akan menanjak. Yang tentunya akan menguras tenaga.

Dari peta yang dibagikan panitia, saya tahu kira-kira jalan akan menanjak di km 2 sampai ke pertengahan lomba. Setelah itu (kira-kira lepas 5 km), jalur akan turun sampai finish

Berlari di tengah hujan saat Bali Marathon

Bayangkan kalau kita tidak tahu informasi mengenai rute dan elevasi ini. Cukup bisa bikin frustasi karena mental akan jatuh karena melihat rute yang terus menanjak tanpa tahu akhirnya. Dan kita pun jadinya tidak bisa menakar energi.

4. Datang Awal

Saya dan Elok menunggu saat start 10K

Tadi pagi banyak peserta jarak Marathon dan Half Marathon yang terlambat datang ke lomba. Beberapa bahkan saat bendera start sudah dikibarkan masih terjebak kemacetan menuju area lomba. 

Saat dikabari kalau untuk lomba harus datang sekitar jam 3, saya tadinya tidak percaya. Tapi ternyata ada benarnya. Lebih baik datang awal. Karena kalau datang terburu-buru, selain kita mungkin akan kehilangan waktu karena terlambat start, cukup banyak ritual yang harus dilakukan sebelum start. Mulai dari menitipkan barang bawaan. Sholat subuh. Dan juga urusan perut di pagi hari. Suasana chaotic karena terburu-buru di awal lomba akan mendorong segala macam persoalan.

Contoh yang paling sering terjadi adalah soal urusan perut. Sudah bukan rahasia lagi, salah satu masalah runner lomba di pagi-pagi sekali adalah kewajiban ‘setor ke belakang’ yang belum tertunaikan. Akibatnya saat start dengan perut mules. Akhirnya harus cari toilet di tengah-tengah lomba yang tentunya berujung pada waktu yang lama. 

Saya pun merasa demikian. Untungnya saya datang cukup awal dari jam start kategori jarak saya (jam 6 pagi untuk 10K). Sehingga saya sempat mampir dulu ke toilet portable yang disediakan panitia untuk menyelesaikan urusan perut.

5. Want to break PB? Start at the front!

Sebelum lomba, saya berambisi untuk memecahkan Personal Best (PB) 10K saya. Atau at least lari di bawah 1 jam. Apa daya, I missed by fraction. Saya menyelesaikan lari saya dalam waktu 1 jam 50 detik. Itu pun sudah dibantu dengan ngebut di 2 km terakhir.

Apa pasal?

Permasalahannya adalah di awal lomba. Karena jumlah peserta 10K paling banyak, antrian untuk start pun panjang sekali. Saya berada di deretan belakang, yang kira-kira baru 1,5 menit setelah start baru melewati garis start. Karena dengan kerumunan pelari sebanyak itu, mustahil untuk bisa langsung lari. Semua berjalan seperti layaknya event jalan sehat.

Elevasi dan pace saya

Baru setelah garis start, mulai lah rombongan berlari. Tapi masih belum bisa gaspol, karena jumlah crowd masih belum terurai.

Dengan upaya selip kanan, selip kiri, saya mulai menyusul peserta satu per satu. Tapi tetap saja tidak bisa cepat, karena ya memang lebar jalan yang terbatas. Mana suasana mulai hujan, sehingga beberapa rombongan pelari juga menghindari genangan. 

Jadilah pace saya di kilometer pertama ambruk di kisaran 7 menit. Baru di kilometer kedua bisa naik ke sub 6 menitan. Pace yang dibutuhkan kalau mau run under 1 hour.

Furthermore, catatan waktu yang dicatat secara resmi adalah yang sesuai waktu start bareng-bareng. Bukan saat kita cross the start line. Which in my case, sepertinya butuh 2 menit lebih untuk jalan sampai melewati garis start 😅.

Ini pelajaran yang bermanfaat. Insya Allah next race will be better!

Final timings as recorded in Strava
Happy with our finishers medal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s