Di Balik Cerita Half Marathon JakMar22

Suasana Jakarta Marathon 2022

Saat saya mendaftar untuk ikut lomba lari di Jakarta Marathon 2022 (Jakmar22) saya baru saja kembali dari Bali. Usai mengikuti Maybank Bali Marathon (MBM). Pengalaman ikut lomba lari untuk pertama kali itu sangat berkesan. Organisasi lombanya rapi. Suasana lombanya seru. Rute larinya asyik. Jadi saat dapat info kalau ada ajang lari di “rumah” sendiri, saya langsung daftar.

Bukan hanya saya. Elok dan Rafif pun ikut mendaftar. Elok juga merasa senang dengan pencapaiannya bisa finish di 10K MBM. Rafif jadi tertarik mendengar cerita kita berdua.

Saya sendiri kali ini memilih jarak Half Maraton (HM). 21,1 kilo. Kalau di MBM saya ambil jarak 10K. Yang saya rasa kok kurang menantang. Hehehe.

Sepanjang karir saya berlari, saya baru sekali berlari HM. Beratnya minta ampun. Tapi karena saat mendaftar masih ada waktu 2 bulan sebelum JakMar22, saya pikir, “bikin program latihan, ah”

Ternyata itu cuman rencana tak ada realisasi. Keharusan untuk kerja di kantor setiap hari ternyata menyurutkan niat bangun pagi dan latihan lari pagi. Jadilah saya ikut lomba JakMar22 tanpa sekalipun juga latihan HM. Paling jauh 10K. Lebih sering 5K.

Kalau persiapan sebelum lomba tidak ideal, saat hari lomba lebih tidak ideal lagi.

Pagi kemarin, kami sampai di kawasan GBK agak terlambat. Baru berangkat jam 05.10 dari rumah. Padahal start untuk jarak HM jam 06.00 pagi. Sialnya, antrian kendaraan untuk masuk ke Parkir Timur Senayan sudah mengular. Saya baru dapat parkir jam 05.50.

Antrian mobil menuju Parkir Timur Senayan

Bergegas menuju kawasan Gerbang Barat yang menjadi area start, ternyata saya harus berlari memutari GBK. Karena panitia memagari sekitar lingkaran GBK untuk membuat antrian aliran lebih rapi. Tapi jadi sial buat saya. Saya pun harus mulai berlari memutar stadion untuk menuju garis start.

Dan telat dong. Tanda mulai start sudah dibunyikan saat saya masih berlari menuju gerbang. Kira-kira 3 menit setelahnya saya baru sampai di area start. Dan saat itu gerbang start sudah dipenuhi oleh runners 10K yang waktu startnya jam 06.15. Jadilah saya dan beberapa runners HM yang juga terlambat, harus menyibak kerumunan untuk bisa sampai ke garis start.

So, I began my HM race in not ideal situation. Energi sudah sedikit terkuras karena ngebut lari ke gerbang start. Juga karena heart rate yang meningkat gara-gara takut terlambat. Saya pun ikut tercecer di rombongan HM yang paling belakang lepas dari garis start.

Atas: suasana sesaat setelah start mengejar rombongan HM yang lain. Bawah: saat bergabung dengan rombongan 10K

Walaupun perlahan saya sedikit bisa meningkatkan pace. Sehingga menyusul rombongan besar HM di depan Hotel Mulia. Kira-kira 2 km setelah start. Baru di depan TVRI, rombongan HM bergabung bersama rombongan besar 10K. Tambahan semangat muncul. Berlari bersama-sama dengan rombongan besar selalu lebih fun.

Rombongan runners melintasi fly over TVRI di awal-awal lomba

Di tengah perjalanan mengikuti lomba JakMar22 ini, barulah saya menyadari beda kualitas penyelenggaraan dengan event MBM yang saya ikuti. MBM jauh lebih terorganisasi dan terlaksana dengan baik. Beberapa catatan kekurangan JakMar22 dibanding dengan MBM yang saya rasakan:

  • Pengambilan Race Pack: saya mengambil race pack di hari Sabtu, jam 9.30 pagi. Antrian sama sekali tidak ada. Hanya sedikit saat “mandatory bib photo”. Tapi membaca keluhan di Twitter, ternyata di siang hari, antrian bisa sampai 2 jam untuk mengambil race pack tersebut. Diperparah dengan kondisi hujan siang tersebut, banyak runners yang basah kuyub, karena lane antrian mengular sampai ke luar race pack collection area yang tidak beratap. Kualitas Race Pack Collection Area juga sangat jauh dari MBM. Tidak terasa suasana festive. Walaupun cukup banyak stall sponsor yang menjual barang-barang menarik. Tapi dari sisi dekorasi, tata ruang dan pengorganisasian, memang bagai bumi dan langit.
  • Race Pack: Nah ini yang cukup menjadi candaan di media sosial. Race pack dimasukkan ke dalam “kantong kresek”. Di beberapa lomba lain yang saya ikuti memang biasanya di Indonesia Race Pack termasuk salah satu yang ditunggu. Dibungkus manis dalam bentuk tas olahraga atau tote bag. Nah ini race pack nya terlihat sekali ada budget limitations. Saya sih termasuk yang tidak terlalu mempermasalahkan. Tapi it is somehow becomes a meme in internet.
  • Gerbang Start/Finish: selayaknya event olahraga berkelas internasional, biasanya gerbang Start/Finish dilengkapi dengan time counter. Yang menunjukkan lama waktu kita dalam berlomba. Di sini gak ada sama sekali tuh. Hanya cangkangnya saja yang terlihat di gerbang. Menyedihkan.
  • Papan Penunjuk Arah dan Jarak: Tidak seperti di MBM, sepanjang jalur lomba, tidak ada papan penunjuk arah dan jarak. Penunjuk jarak diganti dengan semprotan pylox di aspal (sedih gak sih?). Lalu ketiadaan papan penunjuk arah cukup fatal sih menurut saya. Karena saya menyaksikan sendiri runners 10K yang harusnya berputar di Putar Balik Gatot Subroto, terlanjur berlari cukup jauh mengikuti ruti HM. Baru sampai di dekat terowongan Casablanca dia sadar sudah salah jalur. Kalau ada penunjuk arah, hal ini tidak akan terjadi.
  • Water Station: Water Station memang cukup tersedia di beberapa tempat. Tapi lagi-lagi organisasinya kurang baik. Kadang runners harus berhenti berlari. Menunggu gelas diisi air sebelum kita melanjutkan lari. Dan di water station pun tidak terdapat tempat pembuangan gelas yang besar. Sehingga runners harus membuang gelas plastik dan bungkus energy bar di sekitar water station. Pemandangan menjadi kumuh dan kotor.
  • Jalur Lari: Memang susah membandingkan Pulau Dewata Bali dengan jalanan protokolerJakarta. Kalau di Bali kita dimanjakan dengan uniknya alam pedesaan Bali dan sawah, di JakMar22 kita harus puas dengan pemandangan gedung-gedung menjulang di Ibukota. Tidak melintasnya JakMar22 melalui CFD juga membuat kita harus puas melintasi Jalan Gatot Subroto dan HR Rasuna Said yang notabene kondisi jalannya lebih tidak baik. Di beberapa area jalan terdapat lobang dan jalan rusak, yang berpotensi membuat runners terjeblos dan menderita cidera. Belum lagi jalanan yang memang tidak disterilisasi, sehingga momen saat runners harus mengalah pada mobil atau motor yang melintas sering terjadi. Semakin siang kondisi jalan pun kian ramai, dan asap polusi kendaraan pun menjadi suatu tantangan tersendiri untuk dihadapi.
Melintasi Jalan Gatot Subroto. Pale comparison with serene view of Bali
Saat pengambilan Race Pack

Dari beberapa teman saya juga mendengar bahwa memang selama ini JakMar22 penyelenggaraannya tidak pernah bagus. Kalah dibanding MBM, Borobudur Marathon atau Pocari Run. EO nya dikabarkan memang dikontrak dalam waktu yang cukup panjang. Dan tahun ini adalah tahun terakhir, yang seharusnya terlaksana di tahun 2020, tapi kemudian ditunda karena Covid. Apakah karena penundaan ini yang menyebabkan event terlihat sangat minim biaya dan tidak rapi penyelanggaraannya? Wallahualam.

Tampaknya memang pihak penyelenggara JakMar22 harus lebih banyak belajar dan berbenah. Apalagi kalau berambisi untuk menjadikan event ini menjadi ajang lari tahunan berkelas dunia. Sayang kan, karena kalau melihat animo peserta yang melimpah. Apalagi kan diselenggarakan di Jakarta, yang captive market runners nya pasti paling banyak. Semoga dapat terwujud di tahun-tahun mendatang.

Nah, kembali ke laptop. Bagaimana dengan hasil lari saya?

Kabar baiknya, performa saya di HM kedua saya jauh lebih baik dari yang pertama di bulan Januari lalu. Kalau di bulan Januari lalu saya menyelesaikan di 2:42:25 (pace 7:36/km), kali ini saya meraih personal best saya di 2:24:53 (pace 6:52/km). Tapi pencapaian ini masih di bawah target yang saya set sendiri: 2:15:00. Atau pace di bawah 6:30/km.

Sesaat menjelang finish. Setelah 1 km terakhir yang sangat berat karena diputar-putar sekitar GBK. And where’a the time counter? 😅
Catatan lari saya di Strava

Yah apa mau dikata, kurang latihan kok mau dapat pace segitu. Saya sudah cukup bersyukur tidak mengalami kram kaki di saat lomba. Dan juga relatif tidak terlalu sering berjalan seperti di HM saya yang pertama. Insya Allah dengan mengikuti program latihan yang lebih konsisten, saya akan dapat memperbaiki waktu HM saya di kemudian hari.

Mungkin di MBM tahun depan. Kalau Jakarta Marathon 2023 nggak janji deh. Lihat-lihat dulu pelaksanaannya tahun depan 🙂

Three of us in finish area. So proud of my family. Who would’ve thought we joined a run race two years ago?
Saat berlari di JakMar22. Di antara jalanan yang tidak mulus, asap knalpot dan banyak kendaraan 🙂
My Half Marathon Medal. Will I get Full Marathon one? Not sure. But never say never!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s