Mourinho – An Example of a Great True Leader

“Now is the time to move out from limelight, and give the players time to celebrate what they deserved”

Jose Mourinho Lift the Premier League Trophy with Chelsea

Demikian ungkap Jose Mourinho, pelatih Chelsea, juara Liga Premier Inggris 2004/2005, tatkala diwawancarai sesuai timnya meraih tiga angka yang menjamin secara matematis tak terkejar oleh rival utama mereka, Arsenal dan Manchester United. Dengan kemenangan 2-0 di kandang Bolton Wanderers, berkat dua gol dari Frank Lampard, Chelsea meraih gelar pertama mereka di salah satu kompetisi sepakbola terberat di dunia sejak pertama kali mereka merebut gelar tersebut di tahun 1955, tepat 50 tahun yang lalu.

Dalam lanjutan wawancaranya, Mourinho tak henti-hentinya memuji semangat, determinasi dan kebersamaan timnya sepanjang musim kompetisi. Tak lupa ia menyebut nama Roman Abramovich, sebagai orang yang membuat hal ini bisa terjadi.

Abramovich? Ya, mungkin banyak orang yang juga memiliki anggapan kalau Chelsea membeli gelar juara. Ratusan juta pound dikeluarkan oleh sang milyuner Rusia untuk mendatangkan pemain-pemain kelas atas ke Stamford Bridge. Awal musim kompetisi ini saja, tak kurang dari Peter Cech, Arjen Robben, Mateja Kezman, dan Didier Drogba ditransfer dengan uang yang tidak sedikit.

Tapi menurut saya, investasi terbaik yang dilakukan oleh Abramovich bukan pada pemain-pemain tersebut, namun pada saat ia mendatangkan Jose Mourinho.

Tahun lalu, saat Mourinho membawa Porto menjadi juara Liga Champion, saya termasuk salah satu orang yang sebal melihat polah angkuh dari pelatih muda Portugal ini. Sebagai pendukung Manchester United, saya tak bisa melupakan saat peluit panjang dibunyikan di partai perempat final melawan Manchester United. Saat itu, Mourinho membuka dan mengangkat tangan tinggi-tinggi di depan pendukung Red Devils sambil berjalan menuju kamar ganti di Old Trafford. He celebrated in style. Against all people. Ia menunjukkan bahwa semangat kolektivitas timnya berhasil membungkam kumpulan pemain mahal Sir Alex Ferguson dan pendukung tim tersebut. Termasuk saya.

Masih memendam kesal, saat musim 2004/2005 baru saja dimulai, dimana Mourinho baru memulai jabatannya sebagai pelatih utama Chelsea, I really wished this guy will fail.

Now, I wish I didn’t have such wish before.

Dalam perjalanan liga kompetisi tahun 2004/2005 ini, saya baru benar-benar bisa mengamati kiprah Mourinho. Tidak hanya dalam taktik dan susunan tim yang diturunkan, namun juga dari beberapa post-match interview yang ia lakukan, dan berita-berita seputar tim Chelsea di surat kabar. Dari sumber-sumber tersebut, sadarlah saya kalau Mourinho benar-benar pelatih yang brilyan. Bukan hanya itu, he is really a great leader.

Kukuh pada Prinsip.

Mourinho, sebagaimana pemimpin karismatik lainnya, kukuh pada prinsip yang ia percayainya. Prinsipnya yang mengutamakan kolektivitas tim diletakkan di atas segalanya. Di atas Abramovich, di atas pemain bintangnya. Saat ia hendak menandatangani kontrak melatih di Chelsea, ia mengajukan prasyarat pada Abramovich bahwa keputusan untuk merekruit dan menurunkan pemain adalah mutlak hak prerogatifnya. Melatih di tim super kaya seperti Chelsea, Real Madrid, Manchester United ataupun AC Milan, dengan dukungan finansial yang begitu besar,
mudah bagi seorang pelatih untuk “tergoda” mendatangkan pemain terbaik dari seluruh dunia. Dan imbasnya, sukar bagi pelatih untuk tidak memenuhi tuntutan pemilik tim dan pendukungnya untuk menurunkan pemain-pemain yang bergaji di atas 50 ribu poundsterling seminggu. Hal ini tidak berlaku pada Mourinho.

Dalam satu wawancara ia secara terbuka menyatakan bahwa lebih memilih melatih pemain seperti Drogba atau Paulo Ferreira, daripada pemain-pemain bintang “selebritis”. Sebelum musim dimulai ia dengan berani “membuang” bintang Argentina, Hernan Crespo ke AC Milan. Kala itu ia secara terbuka menyatakan mencari karakter pemain yang mau memberikan 100% upaya untuk tim, dan yang dapat menerima tatkala ia tidak diturunkan demi kepentingan yang lebih besar.

Keputusan dan Penilaian Obyektif

Prinsip ini diiringi dengan keputusannya yang selalu obyektif. Pada awal kompetisi, Mateja Kezman, top scorer Liga Utama Belanda pada musim sebelumnya bersama PSV Eindhoven, selalu dipasang Mourinho sebagai starter. Kesulitan dalam memproduksi gol sebagaimana yang ia lakukan di Belanda, Mourinho secara obyektif mencadangkan Kezman, dan justru mulai memainkan Eidur Gudjohnsen dan Damien Duff, yang di awal kompetisi menjadi spesialis cadangan namun setiap kali bermain menunjukkan penampilan yang memuaskan sang pelatih.

Lampard_2 Ia juga tidak melulu berlaku pilih kasih menurunkan pemain “bawaannya” dari Porto. Justru tulang punggung dari tim Chelsea untuk menjadi juara pada tahun ini terletak pada tiga pemain yang notabene tidak direkrut oleh Mourinho. John Terry, Frank Lampard dan Makalele sudah menjadi starting line-up saat Chelsea masih dilatih oleh Claudio Ranieri (pelatih Chelsea sebelumnya).

 

 

 

Pengarah dan Motivator Ulung

Selain itu, Mourinho juga memiliki kemampuan untuk memotivasi dan mengarahkan anak buahnya. Dalam tim sarat bintang Real Madrid ataupun Manchester United, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dari bintang-bintangnya di surat kabar atau media lainnya atas keputusan pelatihnya. Dalam satu tahun ini, tidak pernah terdengar kabar Kezman ataupun Cudicini (kiper utama Chelsea musim kompetisi lalu) mengeluh, kendati keduanya merupakan pemain bagus yang bukan tidak mungkin dapat menjadi starter di tim lain. Hanya Joe Cole yang di awal kompetisi sempat mempertanyakan posisinya di dalam tim secara terbuka. Melihat potensi yang lebih dari diri sang bintang muda Inggris ini, Mourinho justru memberikan kesempatan lebih kepada Joe Cole, dan kini ia menjadi bagian integral squad Chelsea dalam meraih Liga Premier Inggris dan (kemungkinan) Liga Champions. Bahkan Sven Goran Eriksson, pelatih nasional Inggris, menyebutkan bahwa dirinya layak berterimakasih kepada Mourinho, karena sikap kerasnya berhasil mendidik Joe Cole untuk lebih bisa bermain sebagai anggota tim, ketimbang memperlihatkan kejeniusan bakat individualnya yang luar biasa.

Disinilah perbedaan mendasar antara tim Chelsea dan Real Madrid tahun ini. Di Real Madrid,  perbedaan kasta antara “the Zidanes” (pemain-pemain bintang impor seperti Zidane, Figo, Ronaldo, Beckham) dan “the Pavones” (pemain-pemain muda asli didikan Real Madrid seperti Pavon, Helguera, Guti, Borja) sudah menjadi rahasia umum. Dan hal ini menjadi hambatan besar tim tersebut untuk menampilkan permainan terbaiknya. Madrid sudah berganti pelatih tiga kali musim ini. Pelatih pertama Jose Antonio Camacho, dan penggantinya tidak mampu mendisiplinkan, memotivasi dan membangun semangat kerjasama antara pemain bintangnya. Real Madrid pun terpuruk di setiap kompetisi yang diikutinya, kendati memiliki segudang pemain terbaik di dunia.

John_terry Sementara itu di Chelsea, semangat kolektivitaslah ala Mourinho lah yang mendasari permainan tim. Tim berada di atas segalanya, di atas Lampard, di atas Terry, bahkan di atas Mourinho sendiri. Inilah pembeda utama dari Chelsea dengan tim-tim super lain. Chelsea memiliki Mourinho. Tim lain tidak.

Chelsea tidak membeli gelar juara dengan uang. Chelsea “membeli” Mourinho. Dan Mourinho lah yang membawa gelar juara tersebut ke Stamford Bridge.

Dan prinsip mendahulukan timnya itulah yang membuat Mourinho tidak mau terlalu diketengahkan di saat ia patut menerima pujian atas keberhasilannya. Instead, he gives all the credits to the players. What a true great leader.

I salute you, Mr. Mourinho!

Few hours past midnight on my birthday, 1 May 2005, after Chelsea claimed their first English Premier League Title in 50 years.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s