Aceh Mengajariku Bersyukur

Minggu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Aceh untuk suatu pekerjaan humanitarian di sana. Perjalanan dari Jakarta cukup melelahkan, yakni 4 jam penerbangan termasuk setengah jam transit di Medan.

Menaiki pesawat GA 192, aroma “Aceh pasca Tsunami” mulai terasa. Hampir separuh pesawat (atau paling tidak sepertiga) berisikan WNA, yang saya perkirakan adalah para aktivis LSM asing yang banyak berkiprah di sana membantu rekonstruksi Aceh. Ternyata dugaan saya tepat, saat transit di Medan, sebagian besar WNA ini meneruskan penerbangan ke Banda Aceh bersama-sama saya. Dari tas punggung, topi ataupun ID yang mereka kenakan, gampang diidentifikasi kalau mereka adalah pekerja LSM.

Setibanya di Banda Aceh, kesan saya terhadap “Aceh baru” tidak berubah. Dalam perjalanan menuju hotel, di kiri kanan jalan teramati beragam jenis nama LSM yang umumnya dikemas dalam logo yang berciri modern, mencolok dan artistik. Mungkin tidak kurang dari 15 logo LSM yang saya dapati. World Vision, Care Indonesia, Islamic Relief, CILF, JICO, termasuk pula lembaga-lembaga resmi PBB seperti Unicef, UNHCR, FAO adalah salah sedikit dari banyak LSM yang kini berada di Aceh. Logo-logo ini terpampang mencolok di billboard, tanki air minum, ataupun spanduk yang menghiasi jalan-jalan, seakan-akan menegaskan eksistensi mereka. Ada beberapa yang menarik perhatian. Seperti organisasi dari pemerintah Turki yang memajang bendera mereka dalam ukuran besar di depan suatu ruko yang menjadi Pos koordinasi mereka. Posko ini masih menyalurkan bantuan roti Turki gratis kepada rakyat Aceh, kendati kini Aceh sudah bukan dalam kondisi darurat pengungsian lagi. Konon roti ini banyak digemari oleh rakyat Aceh, sehingga hingga kini masih banyak yang mendatangi posko untuk meminta roti tersebut.

Tiba di pusat kota Banda Aceh, kesan pertama yang saya dapat adalah Aceh sudah bangkit kembali. Jalanan sudah ramai dan teratur, dan aktivitas perekonomian sudah terlihat berjalan. Indikatornya gampang, KFC sudah dibuka kembali, penjual pulsa HP berjamuran, dan  Klinik Dokter swasta juga sudah beroperasi dengan normal. Kecuali beberapa gedung yang terlihat runtuh sebagian karena gempa, saya tidak mendapatkan kesan Aceh mencekam seperti yang selama ini diberitakan.

Tapi ternyata sore itu saya belum melihat daerah Aceh korban Tsunami sebenarnya. Pekerjaan saya di Aceh pun tidak memungkinkan saya untuk jalan-jalan melihat daerah di dekat pantai selama tiga hari saya di sana. Baru pada hari terakhir setelah seluruh pekerjaan saya  selesaikan, saya diantar berkeliling oleh rekan LSM pengundang saya ke Lampulo, salah satu daerah di pinggir pantai Banda Aceh yang paling parah terkena Tsunami.

Di daerah inilah baru saya menyaksikan kedahsyatan bencana Tsunami. AcehtsunamiDaerah yang semulanya (menurut supir yang mengantar) merupakan daerah padat penduduk hampir seluruhnya rata dengan tanah. Yang tersisa adalah sedikit dinding rumah yang separuh lebih rontok berguguran, dan lantai keramik pertanda bahwa sebelumnya ada rumah berdiri di atasnya. Saking dahsyatnya, beberapa kapal yang berlabuh di pinggir pantai sampai terbawa beberapa kilometer ke tengah kota, dan “terdampar” di atas bangunan rumah yang masih tersisa (lihat gambar)

Walaupun sudah hampir delapan bulan bencana Tsunami melanda, kepedihan dan kegetiran rakyat Aceh masih saya rasakan. I’m not trying to be sentimental here, tapi melihat sekeliling cukup membuat saya merasa bersyukur bahwa kita di Jakarta masih dikaruniai hidup enak dan selamat bersama keluarga.

Bayangkan, selama beberapa bulan ini, keluarga yang masih tersisa membangun tenda di atas sisa keramik lantai rumahnya, dan hidup kurang layak hanya untuk menegaskan bahwa mereka masih hidup, dan masih memiliki hak penguasaan atas sebidang tanah bekas rumah yang sudah rata dengan bumi. UnicefacehSetiap hari mereka harus mengambil air bersih dari tanki penampungan yang dibangun oleh UNHCR ataupun LSM lainnya. Kamar mandi, atau lebih tepat disebut “bilik”, terlihat menjamur dan hanya terbentuk dari bekas kain tenda ataupun kantong bantuan (lihat gambar). Belum lagi angin kencang yang berhembus setiap malam tentunya membuat anak-anak mereka menggigil. Saya berapa kali merasakan kencangnya tiupan angin ini hingga susah berjalan. Hilangnya sebagian besar bangunan dan pohon di pinggir pantai membuat angin malam semakin kencang di Aceh.

Yang lebih memiriskan hati, adalah membaca tulisan-tulisan cat semprot di dinding bekas rumah yang masih tersisa. Terbaca tulisan: “Nanda, Ayah masih hidup, ada di Posko VI”. Upaya seorang Ayah yang galau mencari keluarganya yang masih tersisa, di mana perangkat komunikasi SMS ataupun telpon sudah tak mungkin lagi dihandalkan. Tak terbayangkan rasanya apabila kita yang mengalami musibah ini. Apakah kita akan sekuat mereka?

Dalam satu kesempatan Shalat Ju’mat di suatu masjid, seorang lelaki di sebelah saya berulang kali mengucap Istighfar ketika khatib di khotbah Jum’atnya menuturkan hikmah dari bencana Tsunami. Terlihat jelas di tatapan matanya yang nanar bahwa perasaan trauma mengenai bencana tersebut masih melekat di benaknya. Masihkah terbayang pada dirinya betapa nikmatnya hidup sebelum tanggal 26 Desember 2004? Teringatkah ia pada anak atau istrinya yang hanyut dibawa gelombang di depan mata?

Air mata saya akhirnya luluh di Masjid Baiturrahman pada saat saya shalat Maghrib di malam terakhir saya di Aceh. Megahnya masjid dan disebutnya nama Allah berulang kali seusai shalat membuat saya merasa kecil di hadapan-Nya. Teringat saya pada kondisi masjid ini sesaat setelah bencana datang, di mana banyak mayat dan korban digeletakkan di areal sekitar masjid. Allah mungkin mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, untuk selalu ingat pada-Nya yang penuh kuasa, yang dengan mudah dapat menghadirkan ”kiamat kecil” di halaman rumah tangga kita untuk menegaskan bahwa kita hanyalah sebutir debu dalam rencana besar-Nya.

Cukuplah derita untuk Aceh. Semoga dengan ditandatanganinya MoU perdamaian Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 15 Agustus kemarin menjadi momentum baru kembalinya perdamaian, keselamatan dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh dan bangsa Indonesia. Insya Allah. Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s