SIF Fellowship Story: Peningkatan Kualitas Hidup

Mahasiswa Penerima Beasiswa SIF Batch 1996 di Nanyang Technological University

Selain memberikan tambahan pengalaman dan teman, terpilihnya saya sebagai salah satu penerima beasiswa SIF juga memberikan keuntungan peningkatan taraf hidup saya sebagai mahasiswa. Di dalam program beasiswa ini, setiap mahasiswa mendapatkan allowance setiap bulannya. Saya tidak ingat persis berapa jumlah allowance tersebut, tapi yang jelas sangat cukup untuk hidup mahasiswa berkecukupan di Singapura. Sebagai perbandingan, dengan menggunakan teori Purchasing Power Parity, apabila saya membandingkan jumlah allowance yang saya dapat dengan jumlah uang bulanan yang biasa saya gunakan di Yogyakarta, maka biaya saya untuk membeli satu kaleng Coca Cola di Singapura adalah relatif sama dengan saya membeli es teh manis di Yogyakarta. Tak heran saya sering menyatroni vending machine di Hall asrama kampus saya, dan kebiasaan itu terbawa karena hingga kini saya menjadi penggemar berat Coca Cola.

Melalui analisis Purchasing Power Parity ini pula lah saya juga kemudian menemukan suatu kesempatan untuk menabung dan membeli barang yang saya idam-idamkan: kamera. Caranya adalah dengan menghemat uang makan.

Awalnya adalah saat saya menemukan mie instant Indomie dijual di Student Store NTU. Pada saat itu harga sebungkus dari Indomie ini adalah sebesar $0.30. Harga yang sangat murah sebagai substitusi makanan kantin di kampus, yang makanan termurahnya $2.50. Karena untuk ukuran perut mahasiswa satu bungkus kurang ‘nendang’ biasanya untuk dapat makan dengan kenyang kita perlu dua bungkus, dan itupun berarti biaya yang kita keluarkan masih murah, hanya $0.60. Perbedaan harga yang cukup jauh (75% lebih murah) inilah yang membuat saya berpikir ini dapat menjadi pos tabungan.

Bandingkan dengan kondisi di Yogyakarta saat itu: harga dua bungkus Indomie adalah 800 rupiah, tidak beda jauh dengan satu piring nasi beserta lauk dan sayur yang bisa kita dapatkan seharga 1000 rupiah. (hanya 20% lebih murah). Kalaupun mau menabung, tidak signifikan.

Oleh karenanya, mulailah saya berhitung. Dalam benak saya, apabila setiap malam saya hanya makan Indomie Goreng, maka setiap hari saya akan berhemat sebesar $1.90. Andaikan selama 4 bulan saja saya seperti ini terus, maka saya akan dapat mengumpulkan uang sekitar $228, suatu jumlah yang lumayan pada saat itu untuk tambahan uang membeli kamera. Tanpa memikirkan masalah kesehatan dengan pola makan yang menyimpang ini, “Operasi Indomie” saya berhasil membuat saya menenteng kamera Nikon F70 saat pulang dari Singapura. Alangkah bahagia.

Saya dan Room Mate di Hall 9 NTU

Ada cerita lain yang kurang lebih masih berhubungan dengan taraf hidup. Hidup di Singapura juga memberikan saya pemahaman bahwa negara yang lebih maju mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik bagi warga negaranya. Roommate saya di asrama kampus NTU memiliki kebiasaan hidup sehat yang hanya bisa diimpikan oleh sebagian besar mahasiswa UGM saat itu. Selesai kuliah, ia biasanya akan berolahraga dengan berenang selama satu jam. Ia memiliki sebuah kulkas mini di dalam kamar asrama yang selalu diisi pisang atau apel dan susu segar. Seusai berenang dan setelah makan malam, ia akan tekun belajar, dan setelah selesai belajar ia akan makan pisang atau apel, dan minum satu gelas susu sebelum tidur. Betul-betul pola hidup 4 sehat 5 sempurna! Bandingkan dengan hidup saya di Yogyakarta yang seringkali tidak sarapan demi menghemat uang!

Namun hal itu tak akan terlalu mengejutkan bagi saya, sampai pada suatu hari kami berbincang-bincang akrab di dalam kamar sebelum tidur. Kami berbagi kisah mengenai latar belakang diri kita masing-masing dan keluarga yang kita miliki. Dalam perbincangan inilah, saya baru tahu kalau orangtua roommate saya ini hanya bekerja sebagai seorang petugas kebersihan kamar mandi (janitor).

Saya langsung membayangkan: bagaimana gaya hidup mahasiswa yang merupakan anak dari pekerja kantoran Singapura?

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

2 Comments Add yours

  1. Amazing! This blog looks exactly like my old one!
    It’s on a totally different topic but it has pretty much the same layout and design. Excellent choice of colors!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s