SIF Fellowship Story: Singapura dan Multi Etnisnya

My SIF Fellows from Singapore: (left to right) Jason, Jon, Jingxiang, Desmond and Choong Hong

Mengunjungi Singapura untuk pertama kalinya membuka mata saya sesungguhnya akan negara kota ini. Terus terang sebelum benar-benar bermukim di Singapura, saya tidak pernah menyangka Singapura adalah negara yang mayoritas populasi warganya dari etnis keturunan Cina. Mungkin persepsi ini terbentuk karena selama ini saya mengetahui Singapura terbatas pada tim sepakbola nasional Singapura. Pemain-pemain terkenal mereka selain David Lee sebagian besar adalah pemain etnis Melayu atau India, seperti Fandi Ahmad, Malek Awab, Nazri Nasir dan Sundramoorthy.

Ternyata kenyataan yang saya temui jauh berbeda. Kesan pertama adalah saat berkenalan dengan sesama penerima beasiswa SIF Visiting Student Fellows dari Singapura. Seluruh rekan saya penerima beasiswa itu adalah etnis Cina. Tinggal di dormitory mahasiswa di NTU, saya segera dapat mengamati bahwa sebagian besar teman asrama saya adalah etnis keturunan Cina. Room mate saya, anak janitor yang saya ceritakan pada kisah sebelumnya, juga seorang etnis keturunan Cina yang banyak bercerita mengenai leluhurnya yang dulu tinggal di Johor Malaysia, namun kemudian harus bermigrasi ke Singapura saat terjadi konflik etnis Singapura-Malaysia di tahun 50an.

Menyadari bahwa warga negaranya terdiri dari kaum multi-etnis (walaupun didominasi oleh etnis Cina), Pemerintah Singapura secara konsisten berusaha untuk memerangi rasisme melalui pemberian informasi multi-bahasa dalam setiap komunikasi resmi pemerintah, ataupun pemberian kesempatan kerja dan belajar yang sama kepada warga negaranya.

Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan etnis masih membentuk perilaku hidup masyarakat di Singapura saat itu.  Satu contoh kecil yang saya selalu amati adalah saat berada di pusat keramaian, entah itu di mall ataupun di MRT (Mass Rapid Transportation system). Kecenderungannya adalah setiap etnis akan berkumpul dengan sesama etnisnya. Dan apabila diperhatikan, mereka umumnya berbicara dalam bahasa ibu mereka. Sesekali saja mereka berbicara dalam bahasa Inggris, bahasa yang umum dipakai dalam komunikasi multi-etnis.

Hal ini juga terjadi dalam kehidupan kampus. Suatu saat saya sempat terlibat dalam “adu pendapat” di dalam sebuah forum elektronik kampus yang membahas mengenai tim sepakbola Singapura. Menyampaikan pendapat yang kontroversial dan kurang populer di kalangan pencinta sepakbola Singapura, saya mendapatkan ‘serangan’ dari berbagai penjuru pengunjung forum. Salah satu serangan tertajam berasal dari sebuah user yang belakangan saya ketahui sebagai seorang muslim Singapura dari etnis Melayu. Sang user ini menghujani account saya dengan berbagai komentar pedas dan bahkan mengumumkan ke seantero forum bahwa saya adalah mahasiswa asal Indonesia yang patut diserang. Hal ini berlangsung selama beberapa hari, sampai pada suatu hari si user ini mengetahui siapa saya (khususnya mengenai apa agama dan etnis saya). Seketika itu pula, ia menghentikan serangan, meminta maaf dan bahkan kemudian menjadi sangat akrab dengan saya saat bertemu dalam kegiatan mushola kampus NTU.

Parahnya, tanpa saya sadari, saya pun menjadi ‘terjebak’ untuk akrab dengan stigma ini. Dan hal ini sempat membuat saya malu pada saat saya bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia berketurunan tionghoa yang mendapatkan beasiswa dari perusahaan Singapura untuk kuliah di NTU. Dalam satu perbincangan di laboratorium komputer asrama, saya sempat mengingatkan rekan mahasiswa tersebut (mungkin setengah menuduh) untuk tidak melupakan negara Indonesia hanya karena ia dibiayai oleh perusahaan Singapura, dan secara asal usul ia lebih dekat kepada Singapura daripada Indonesia yang sebagian besar beretnis Melayu.

Respon dari mahasiswa Indonesia tersebut sangat mengejutkan saya. Nyata sekali ia tersinggung. Dengan nada tinggi ia berkata, “Mas Ibnu, saya hanya mengenal satu tanah air, yakni Indonesia. Saya dilahirkan di sana, dan itulah negara saya. Bahkan di antara rekan-rekan sesama mahasiswa Indonesia, kami selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Karena itulah bahasa kita”.

Saya tertegun, menyadari benarnya ucapan tersebut. ‘Tuduhan’ saya sangat tidak beralasan. Saat itu pula saya baru menyadari arti penting penanaman jiwa kebangsaan dan nasionalisme Indonesia dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia. Tanpa pergi dan hidup di antara masyarakat negara lain seperti Singapura, pemikiran ini tak akan pernah hinggap dalam diri saya.

Baca tulisan sebelumnya: Singapore International Foundation Visiting Student Fellowship: Pengalaman 6 Bulan, Pelajaran dan Teman Seumur Hidup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s