Menuju Piala Dunia 2018: Kutukan Pemain Terbaik

Menjadi pemain terbaik di perhelatan Piala Dunia ternyata malah bisa mendapat kutukan, yakni gagal jadi Juara Dunia.

Begitulah fakta yang terjadi. Sejak Piala Dunia tahun 1982, terhitung hanya 3 orang peraih piala Golden Ball (piala untuk pemain terbaik sepanjang turnamen) yang negaranya juga berhasil menjadi Juara Dunia. Mulai dari Paolo Rossi saat Italia Juara Dunia tahun 1982, Diego Maradona saat membawa Argentina Juara Dunia tahun 1986, dan terakhir Romario, saat mengantarkan Brazil juara di tahun 1994.

Salvatore Schillachi, bintang kejutan Italia di Piala Dunia 1990 yang gagal menjadi New Paolo Rossi

Sisanya justru seakan gelar Pemain Terbaik menjadi “kutukan” untuk gagal di partai puncak (lihat tabel)

Yang terakhir diingat mungkin empat tahun lalu. Pada partai final di Stadion Maracana, Rio de Jainero Brazil, tanggal 13 Juli 2014. Panggung seakan-akan telah disiapkan untuk menasbihkan Lionel Messi sebagai legenda sepakbola baru. Sebelum Piala Dunia berlangsung, Messi sudah merebut hampir semua gelar. Bersama Barcelona, Messi sudah menjuarai Liga Spanyol 6 kali, Copa del Rey sebanyak 2 kali, dan Champions League 3 kali. Pada level individual, Messi pun sudah merengkuh gelar Ballon d’Or tiga tahun berturut-turut di tahun 2010, 2011 dan 2012. Namun Messi belum dapat menyamai idolanya, Maradona, untuk membawa negaranya menjuarai turnamen internasional. Banyak orang berpikir, inilah saatnya. Termasuk saya.

But football is not a fairy tale. Gol tunggal Mario Gotze di babak perpanjangan waktu membawa Jerman menjadi Juara Dunia keempat kalinya, sekaligus meruntuhkan mimpi Messi. Kendati kemudian Messi dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Dunia 2014, namun tetap saja “kutukan” berlanjut.

Zidane berjalan lesu saat kalah di Final Piala Dunia 2006

Hal yang sama, dan bahkan mungkin lebih tragis, terjadi pada Zinedine Zidane. Skenario kembalinya “sang raja” ke puncak prestasi sepakbola hancur berantakan karena ulahnya sendiri. Tandukannya ke dada Materazzi di partai final melawan Italia, ikut berkontribusi terhadap kekalahan Perancis. Padahal pada partai-partai sebelumnya, kebintangan Zidane terlihat jelas. Hal mana yang membawanya terpilih menjadi Pemain Terbaik Piala Dunia 2006. Sayang tandukan misterius-nya seakan menjadi bukti kutukan Golden Ball ini.

Tapi sejatinya kutukan Pemain Terbaik dimulai pada tahun 1998. Ronaldo yang dua tahun berturut-turut menyabet gelar FIFA World Player of the Year di tahun 1996 dan 1997, dan begitu digjaya sebelum partai final, ternyata secara misterius tampil melempem di partai final. Rumornya, The Phenomenon mendadak tidak fit akibat salah makan, atau terserang virus. Ketajaman dan kecepatannya hilang, dan Brazil ditaklukkan tuan rumah Perancis tiga gol tanpa balas. Sejak saat itu sampai kini, kutukan Golden Ball seakan melekat ke pemain-pemain terbaik Piala Dunia.

Ronaldo, usai kalah di Final Piala Dunia 1998. Kutukan Golden Ball yang masih berlanjut sampai saat ini

Namun demikian, Ronaldo juga menjadi satu contoh kalau ia bisa menghapuskan kutukan dengan menjuarai Piala Dunia di Jepang-Korea empat tahun setelah itu. Mungkin ini bisa menjadi inspirasi bagi Lionel Messi untuk melakukan hal serupa? Ataukah kutukan Golden Ball masih kuat? Kita akan dapatkan jawabannya di bulan Juli!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s