Bohemian Rhapsody: Konser Megah Legenda Musik Dunia

Saya termasuk telat menjadi penggemar Queen. Seperti kebanyakan penggemar musik rock seusia saya, dekade akhir 80an adalah masa kejayaan hair metal. Bon Jovi, Guns N Roses were the biggest rock bands in the world.

Saat itu saya tahu lah Queen. Cuman ya nggak nge-fans. Kasetnya saja gak punya. Lagu juga cuman tahu beberapa, yang ngetop-ngetop saja. Queen bagi saya hampir sama dengan Led Zeppelin atau Pink Floyd. Legenda musik rock dari masa lalu. Saat itu adalah jamannya  hair metal dengan jaket kulit, spandex dan rambut hair spray-nya. LOL.

Ihwal perkenalan mendalam mengenai Queen justru terjadi saat Freddie Mercury telah tiada. Yakni sekitar tahun 1992.

Saat itu diadakan konser tribute to Freddie Mercury, yang diikuti oleh artis-artis rock papan atas. Salah satu yang paling mengundang berita adalah kolaborasi antara Elton John dan Guns ‘N Roses menyanyikan lagu, apalagi kalau bukan, Bohemian Rhapsody.

Elton John dan Axl Rose di atas panggung saat konser tribute to Freddie Mercury

Guns ‘N Roses yang sedang berada di puncak popularitas, menyihir crowd Wembley. Banyak yang histeris saat Axl Rose muncul menyanyikan klimaks dari lagu epic berdurasi enam menit ini.

Fragmen itu pula yang memancing ketertarikan saya terhadap repertoire lagu Queen.

Apalagi kemudian film Wayne’s World kembali mempopulerkan lagu yang sama. Queen seakan-akan bangkit lagi, pada generasi hair metal.

Sejak itulah saya mulai mendalami koleksi lagu Queen, sampai ke lagu-lagu yang tidak terlalu populer secara mainstream. Semakin ke sini, semakin mengapresiasi keunikan komposisi yang diusung oleh kuartet asal Inggris ini. Bahkan saya juga pernah menyaksikan opera musikal We Will Rock You di Singapura 10 tahun yang lalu, yang benar-benar membekas.

Jadi singkat kata, saya benar-benar menantikan pemutaran perdana Bohemian Rhasody ini di Indonesia.

Sejak minggu lalu, album soundtrack film mendapatkan heavy rotation di iPhone saya. Mulai dari theme song 20th Century Fox dengan sound khas gitar Brian May, sampai dengan lagu penutup Don’t Stop Me Now saya lalap habis setiap hari. I’m so ready to watch the movie!

Dan kemarin sore akhirnya kesampaian.

Menyaksikan di Gandaria City IMAX theatre sepertinya pilihan yang tepat. Layar yang super lebar dan sound system yang menggelegar sangat mendukung atmosfir film dengan lagu-lagu legendaris Queen ini.

Saya, Elok dan Rafif di Gandaria City IMAX. Rafif really enjoyed the movie!

Awalnya saya hampir batal nonton, karena mendapatkan kursi baris ke-4 dari layar. Tapi ternyata efeknya malah justru lebih terasa. Serasa seperti nonton konser musik di front row!

2 jam berjalan tak terasa. Mengikuti perjalanan hidup Freddie Mercury, sambil bergoyang melihat dan mendengar lagu favorit kita dari Queen dimainkan. Mulai dari Somebody to Love, Love of My Life sampai We Are the Champions.

Akting Rami Malek yang bermain sebagai Freddie Mercury, sungguh luar biasa. Ia berhasil menampilkan sosok di belakang panggung sang legenda yang sangat eksentrik. Kepercayaan diri sebagai seseorang yang ditakdirkan sebagai bintang hiburan, bertempur dengan kemasgyulan dirinya dalam hal percintaan.

Tak hanya di belakang panggung. Rami Malek sukses juga dalam mereplikasi aksi panggung Freddie Mercury. Puncaknya adalah pada adegan akhir film, saat Queen tampil di Wembley di Live Aid 1985.

Saya yang sudah beberapa kali menyaksikan rekaman live show yang legendaris ini, terperangah melihat tiruannya di film ini. Tidak hanya gaya panggung dan tingkah laku Freddie yang bisa di-mimic Rami Malek dengan persis, namun juga suasana meriah crowd Wembley, property di atas panggung (gelas Pepsi di atas piano), sampai dengan tingkah laku kameramen dan pekerja sekitar panggung. Semua terlihat begitu authentic, dan menjadi lebih megah karena permainan kamera dan efek yang menawan.

Saya akui, saat adegan ini saya sampai menitikkan air mata.

Mungkin generasi saya termasuk yang kurang beruntung, karena tidak sempat menyaksikan aksi Queen bersama Freddie Mercury. Tapi film ini paling tidak membantu kita merasakannya.

This is the closest you can get from watching Freddie Mercury.

Ya memang film ini tidak sempurna. Banyak adegan-adegan berasa Hollywood yang disisipkan (mengunjungi rumah orang tua bersama Jim Hutton di hari konser Live Aid, come on?). Atau adegan yang secara faktual tidak tepat (Freddie menyampaikan ke personil Queen kalau dia mengidap AIDS di tahun 1986, setelah Live Aid). Tapi dengan casting yang brilyan, pilihan lagu yang memorable, serta rekreasi aksi panggung di tahun 80-an yang sangat detail, membuat saya memaafkan semua itu.

Akhirnya, menyaksikan film ini serasa seperti menonton konser musik sang legenda musik dunia. Anda akan terhibur sekaligus larut di dalamnya. It’s so good. Saya pun berencana untuk menonton untuk kedua, atau ketiga kalinya. Bagaimana dengan Anda?

Epilogue: konser asli Queen di Live Aid, Wembley 1985. One of their best performance in history.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s