Lampu Merah untuk Jokowi!

Paling tidak begitulah hasil polling kecil-kecilan yang diadakan di salah satu Whatsapp Group saya kemarin (21-22 November 2018).

Polling ini dilakukan berangkat dari keingintahuan saya, melihat diskusi yang cukup “panas” di WA Group alumni FE UGM 92. Di grup ini pro dan kontra terhadap kedua calon Presiden terlihat cukup imbang. Berbeda dengan WA Group saya yang lain, yang sampai saat ini ‘rasanya’ masih berat ke incumbent.

Polling ini hanya dilakukan terbatas untuk rekan-rekan anggota group yang berisi 125 orang. Dari 125 anggota tersebut yang mengisi polling hanya 45 orang (36%), yah more or less sama lah dengan jumlah anggota yang aktif komen di group. Tambah sedikit yang sekali-kali nongol.

Karena bersifat tertutup dan sample yang tidak merepresentasi populasi pemilih Indonesia, ya hasilnya tidak bisa dipercaya begitu saja. Tapi menurut saya, paling tidak memberikan beberapa insights menarik dari Pilpres 2019 ini.

Mari kita lihat hasilnya:

1. Jokowi hanya unggul tipis dari Prabowo. Bahkan bisa dibilang sama kuat!

Jokowi masih unggul, tapi hanya 1 suara!

Dari 45 responden, 20 orang memilih pasangan Jokowi-Amin (44.44%), dan 19 orang memilih Prabowo-Sandi (42.22%). Masih ada 4 responden yang belum menentukan pilihan, dan 2 orang Golput. 4 orang responden bisa saja membalikkan hasil. Kesimpulannya: lampu merah untuk Jokowi!

Kalau survey-survey selama ini masih menunjukkan keunggulan incumbent, hal ini tidak terlihat di polling komunitas WA Group FE UGM 92.

2. Persentase pemilih Jokowi menurun dibanding tahun 2014. Prabowo meningkat.

Di tahun 2014, dari responden yang sama, 58% memilih Jokowi, dan hanya 32% yang memilih Prabowo

Dalam polling ini, saya juga menanyakan pilihan presiden responden di tahun 2014.

Hasilnya cukup mengejutkan.

26 orang (58%) sebelumnya memilih Jokowi-Kalla. Lebih banyak dari 20 orang yang saat ini memilih Jokowi. Berarti ada 6 orang yang mengalihkan pilihan.

3. Lebih banyak pemilih Jokowi di 2014 yang mengalihkan pilihan, daripada pemilih Prabowo.

Dari 26 pemilih Jokowi di 2014, hanya 69% yang akan tetap memilih Jokowi di 2019

Dari 26 orang ini, ternyata hanya 18 orang (69%) yang akan tetap memilih Jokowi, dan ada 4 orang (15%) yang mengalihkan pilihan ke Prabowo-Sandi.

Saya tidak menanyakan alasan mereka mengalihkan pilihan. Tapi dari beberapa diskusi yang beredar di group akhir-akhir ini, tampaknya pilihan Jokowi terhadap Maruf Amin, justru berimbas negatif terhadap pencalonannya. Banyak pemilih Jokowi yang tidak senang dengan pilihan cawapres-nya yang jelas mempertimbangkan faktor “agama” dan untuk menarik suara “umat Islam”. Sesuatu yang bukan merupakan identitas politik Jokowi di tahun 2014.

Bagi yang lebih melihat dari sisi kinerja Presiden, beberapa menilai kebijakan pemerintah selama ini “kurang terkoordinasi”, dan “kurang konsisten”. Tambahan lagi isu-isu negatif yang dihembuskan pihak oposisi yang berkaitan dengan ‘asing’ dan ‘aseng’, tidak menolong pembentukan citra positif dari Jokowi.

Keberhasilan Jokowi dalam pembangunan infrastruktur dan citra positifnya sebagai “presiden yang baik, keluarga yang asyik, dan seperti kita-kita” masih dilihat positif oleh sebagian besar pemilihnya. Namun hal ini perlu tetap diwaspadai. Untuk pemilih yang rasional, faktor ini tidak cukup kuat untuk menahan dukungan. Hembusan isu negatif berkali-kali akan dapat merubah dukungan lebih banyak lagi.

Yang menarik juga, ada 2 responden pemilih Jokowi di 2014 yang memilih Golput. Mungkin mereka termasuk yang kecewa terhadap kinerja/pilihan politik Jokowi selama ini, tapi juga tidak suka pada Prabowo. Golput wae lah!

Pemilih Prabowo di 2014 lebih loyal daripada pemilih Jokowi

Sementara itu, pemilih Prabowo ternyata lebih loyal. 86% pemilihnya di tahun 2014, akan tetap memilih Prabowo di 2019. Hanya 1 yang “selingkuh” memilih Jokowi-Amin.

Berkebalikan dengan faktor Maruf Amin yang berimbas menurunkan dukungan, tampaknya sosok Sandiaga Uno sebagai cawapres yang muda, santun, dan berpendidikan tinggi justru mampu menarik banyak simpati dan dukungan. Walaupun sering memberikan pernyataan yang kontroversial, kiprah Sandi di Pilpres ini menarik banyak perhatian khalayak. Dan sejauh ini tampaknya strategi ini berhasil. Paling tidak kalau polling ini dijadikan salah satu tolak ukur, Prabowo-Sandi are now gaining votes more than Jokowi-Amin.

Tapi sebagaimana saya sampaikan di awal, ini cuman polling terbatas yang tidak representatif. Tapi tetap saja, cukup menarik untuk melihat bagaimana peta dukungan ini berubah dalam 4-5 bulan ke depan.

Sementara itu marilah kita kawal Pilpres 2019 ini dengan perilaku lebih dewasa. Semoga polarisasi pilihan politik kita tidak menghentikan semangat kita untuk terus bersaudara dan bersilaturahmi.

Aamiin (note: Bukan kampanye 🤣)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s