Paruh Pertama Liga Kresnadi

Atas: suasana saat pertandingan Liga Kresnadi; tengah: klasemen akhir paruh pertama Liga Kresnadi; bawah: foto bersama penonton dan pendukung Liga Kresnadi di Stadion Alea

Sudah cukup lama Copa Kresnadi tidak terlaksana. Lokasi tempat tinggal yang berbeda (bahkan beda negara), dan kesulitan menemukan waktu senggang membuat ritual anak-mantu lelaki Kresnadi ini kerap urung terlaksana.

Namun Alhamdulillah kemarin, setelah Arisan Keluarga Mintardjo, Copa Kresnadi kembali terlaksana.

Bagi teman yang belum tahu, Copa Kresnadi ini adalah turnamen sepakbola virtual antara kami, anak mantu lelaki dari Bapak Almarhum Kresnadi Koesoemo. Sudah belasan tahun kita lakukan, sejak jaman PS1 sampai dengan PS4 seperti sekarang. Setiap ada kesempatan bertemu, kami selalu mencari waktu untuk “sepukul dua pukul”. Apalagi kalau sampai menginap bersama, bisa “gilo babi” main sampai pagi ☺️

Platform yang dipakai adalah game sepakbola populer, Winning Eleven (WE) atau Pro Evolution Soccer (PES). Pernah kita coba beralih ke FIFA, tapi seiiring dengan derasnya protes dari kubu salah satu klub yang merasa “kehilangan kemampuan bermain bola”, maka kita akhirnya kembali ke WE/PES. Tak usah disebutlah kubu mana, yang jelas klub Italia ajah! LOL.

Copa Kresnadi kemarin menggunakan format baru berbentuk liga. Memanfaatkan fitur terbaru dari game PES 2019, yakni Konami League, kita bisa mendesain format liga yang mempertemukan masing-masing tim, dalam format home and away. Jadilah kita sebut dia sebagai Liga Kresnadi, instead of Copa Kresnadi.

Ternyata format ini seru. Karena berbeda dengan format knock out competition, hasil imbang dan head-to-head result dan goal difference semua berpengaruh terhadap klasemen akhir. So each goal and match is important!

Kalaupun ada yang bisa diingat dari liga kemarin adalah: partai pembukaan bukan lah barometer hasil akhir.

Favorit juara, Manchester United (“yang punya lapangan”, katanya), secara mengejutkan ditahan imbang 2-2 oleh Arsenal. Padahal dalam sejarah penyelenggaraan Copa Kresnadi, Arsenal ini hanya pernah satu kali meraih gelar juara. Lebih sering menjadi juru kunci (“Kesian“, kata Oom Erens). Jadi di atas kertas bagi Manchester United, 3 poin adalah keharusan.

Apa daya, aksi memikat Lacazette untuk menyamakan kedudukan mencuri poin dari Setan Merah. Iben Mourinho pun menatap nanar partai lanjutan melawan AC Milan dan Juventus yang notabene lebih kuat.

Sementara itu, Juventus, dengan super player-nya, Cristiano Ronaldo, mengajari anak-anak AC Milan bermain bola, dan menghajar tiga gol tanpa balas pada pertandingan pertama. Hasil yang impresif. Seluruh penonton, dari Ezra sampai Mochi, sang kucing manja, pun terhibur dan mengunggulkan tim asuhan Bona Allegri Siahaan ini sebagai calon juara. Chita, istrinya, sudah siap-siap merencanakan pesta sehari semalam.

Tapi apa yang kemudian terjadi?

Pada akhirnya, saat masing-masing tim sudah saling berhadapan, Manchester United tetap menunjukkan kelasnya. Pasukan Iben Mourinho tidak terkalahkan dan bercokol di puncak klasemen dengan 5 poin, hasil dari menang 1 kali dan seri 2 kali.

AC Milan yang sudah seperti kehilangan harapan di partai awal, menunjukkan determinasi ala Oyi Gattuso untuk come back. Mereka berhasil menang atas Arsenal dan di pertandingan terakhir mampu menahan imbang Manchester United untuk meraih peringkat kedua. Luar biasa.

Sebaliknya, Juventus mengalami anti-klimaks. Kalah berturut-turut dari Manchester United dan Arsenal membuat mereka akhirnya terperosok menjadi juru kunci. Padahal mereka memulai liga dengan sangat menyakinkan. Mungkin jet lag perjalanan jauh dari KL ke Jakarta cukup mengganggu stamina tim ini. Atau ini gara-gara behel gigi yang menurunkan nafsu makan? Entahlah.

Tapi yang jelas senyum paling lebar kemarin ada di bibir Barry Emery. Meraih poin sama dengan AC Milan, hanya kekalahan head-to-head dari rossoneri yang membuat mereka berada di peringkat tiga.

Nyonya Emery pun ikut tersenyum bangga melihat raihan suaminya. “Tumben nggak jadi juru kunci”.

Ah, sungguh istri yang sangat memahami suaminya.

Sayang memang kemarin Stadion Alea harus tutup lebih awal, karena Mourinho ditunggu meeting pemilik klub di Bambu Apus. Paruh kedua Liga Kresnadi pun harus tertunda.

Menarik untuk menunggu kelanjutan putaran kedua Liga Kresnadi. Entah kapan bisa dilaksanakan ☺️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s